JOGJA - Korespondensi saat ini memang sudah jarang yang menggunakan surat. Saat ini kondisinya sudah bergeser, kebanyakan berkorespondensi melalui surel dan media sosial. Tapi, sisa-sisa kejayaan berkorespondensi dengan surat tidak pernah basi. Salah satu buktiya adalah masih langgengnya keberadaan prangko maupun kartu pos. Bahkan ada yang memiliki nilai hingga miliaran rupiah.
Nilai miliaran rupiah tersebut ternyata tidak berasal dari prangko terlama atau paling tua. Ada banyak kriteria hingga akhirnya sebuah prangko memiliki nilai selangit. Salah satunya prangko langka, karena jumlah cetakan yang terbatas.
"Ada prangko zaman Belanda 1890-an di pasaran harganya Rp 500 ribuan, tapi prangko buatan 1940-an malah bisa sampai miliaran," ujar anggota Perkumpulan Filateli Indonesia (PFI) Romadhon Hariyanto di sela Pameran Nasional Filateli di Taman Pintar Jogja, kemarin (9/11).
Prangko yang dimaksudnya adalah Prangko Pos Militer Surakarta cetakan 1949. Di pasaran dunia, harga yang ditawarkan bisa mencapai 10 ribu USD. Romadhon mengatakan, harga yang sangat tinggi tersebut, karena prangko Surakarta itu hanya ditemukan sebanyak 50 keping saja.
Menurut Romadhon, harga prangko tersebut bisa makin mahal jika ditemukan prangko yang berderet. Termasuk apakah prangko tersebut pernah dipakai, kena stempel pos, dan kondisi yang sudah sobek juga berpengaruh. "Harganya bisa turun karena sobek karena perawatan yang tidak baik," jelasnya.
Kondisi itu dibenarkan oleh filatelis asal Belanda William Arie Johannes Vroegoph. Dia mengisahkan, dalam lelang internasional, sebuah prangko dilelang hingga jutaan dolar. Prangko tersebut dihargai mahal karena di dunia hanya ditemukan tiga keping prangko tersebut. Ternyata pemenang lelang malah menyobek prangko yang dihargai jutaan dolar tersebut.
"Pemenang lelangnya adalah salah satu pemilik prangko langka itu. Nah, salah satu prangko yang dia miliki disobek. Akibatnya, prangko satu lagi yang dimilikinya itu harganya tambah mahal," jelasnya.
William sendiri mengaku tidak bisa menilai koleksi prangko yang dimilikinya. Menurut dia, banyak koleksi prangkonya yang ditawar seharga mobil bahkan rumah. Tetapi, beberapa koleksi yang benar-benar disukainya tidak akan dilepas.
"Saya mengoleksi prangko dari Indonesia dan Belanda. Sekaligus untuk mengetahui sejarah," ungkapnya. (pra/ila/mg1) Editor : Administrator