JOGJA - Tingginya intensitas hujan sepanjang bulan April membuat beberapa talud sepanjang sungai yang melintas di Kota Jogja ambrol. Salah satunya talud proyek percontohan internasional dari program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK), di Kampung Karangwaru Lor RT 05 RW 02, Karangwaru, Tegalrejo, Kota Jogja. Sebagian dari talud Sungai Buntung sepanjang 126 meter itu tergerus air selebar kurang lebih 2 x 3 meter.
Sekretaris Tim Perencanaan Partisipatif PLPBK Karangwaru, Bandono mengatakan, ambrolnya sebagian talud Sungai Buntung di Kampung Karangwaru Lor terjadi sejak sebulan lalu. Namun, hingga kini belum diperbaiki. Diperkirakan, belum diperbaikinya talud tersebut diperkirakan karena menunggu stabilnya arus sungai.
Menurutnya, perbaikan talud tersebut cukup mendesak untuk segera dilakukan. Karena jika dibiarkan terlalu lama, air akan semakin menggerus ke dalam dan mengancam jalan kampung serta sebagian rumah yang ada di dekatnya.
"Apalagi, talud itu merupakan kawasan percontohan program PLPBK, yang mulai dibangun sejak 2009-2010," katanya kemarin (8/4).
Dijelaskan, talud tersebut merupakan satu dari enam segmen atau lokasi pembangunan kawasan PLPBK Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya di Kampung Karangwaru. Segmen Satu meliputi pembangunan talud di kanan dan kiri Sungai Buntung sepanjang 126 m2. Juga membangun kawasan taman bermain dan jalan setapak.
Dalam pembangunan itu, lanjutnya, sejumlah warga merelakan sebagian tanahnya. Termasuk mengubah muka rumah dari yang sebelumnya membelakangi sungai, menjadi menghadap ke sungai.
"Butuh waktu hampir setahun untuk menumbuhkan kesadaran warga untuk membangun kawasan sungai yang bersih itu," ungkapnya.
Sementara itu, enam segmen pembangunan PLPBK di Kampung Karangwaru disediakan dana bantuan sebesar Rp 29,7 miliar. Sedangkan dana yang telah digunakan untuk pembangunan segmen pertama sebesar Rp 700 juta. Dari enam segmen, empat diantaranya merupakan bangunan talud dan kawasannya, sedangkan dua segmen lainnya dibangun sebagai kawasan taman Ruang Terbuka Hijau dan komplek kuliner sebagai pemberdayaan ekonomi warga.
Mengingat pentingnya pembangunan PLPBK, Bandono berharap agar talud yang ambrol segera diperbaiki, apalagi di Kampung Karangwaru terdapat tiga titik retak di talud Sungai Buntung yang cukup membahayakan.
"Kalau intensitas hujannya tinggi lagi bisa semakin parah," tandasnya. (riz/dem)
Longsor Code, Sembilan Jiwa Mengungsi
JOGJA-Hujan yang masih saja mengguyur Kota Jogja akhir-akhir ini, berbuah musibah. Kemarin (8/4) siang, satu rumah yang dihuni sembilan jiwa di Blimbingsari, Terban, Gondokusuman longsor. Kondisi tanah yang labil diduga menjadi penyebab bangunan tersebut longsor.
Beruntung, saat kejadian tak ada korban jiwa. Sembilan penghuni rumah tersebut saat kejadian tak berada di rumah.
"Mereka sekarang kami ungsikan di sebelah Assesment TRC," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Agus Winarto.
Mantan Camat Umbulharjo ini mengatakan, tanah longsor terjadi sekitar pukul 14.50. Tepatnya, di Blimbingsari GKV, RT 02, RW 01, Terban, Gondokusuman.
"Rumah tersebut dihuni tiga kepala keluarga," ujarnya.
Selain melongsorkan bangunan yamg terdampak langsung, sebuah rumah di bawahnya juga rusak. Rumah itu dihuni empat jiwa. Tapi, masih bisa ditempati.
"Satu rumah disampingnya mengalami retak-retak," jelasnya.
Ketinggian tebing yang longsor tersebut mencapai 15 meter. Sedangkan panjangnya 25 meter dan lebar sekitar 10 meter. Selain itu, rumah yang ada di sebelah lokasi kejadian saat ini terdeteksi mengalami retak.
Agus menambahkan, korban yang rumahnya longsor, yakni sembilan jiwa tersebut, saat ini terpaksa diungsikan ke lokasi yang aman. Kebutuhan logistik berupa makanan serta pakaian akan dicukupi oleh pemkot.
"Kebetulan ada balita yang masih berumur satu tahun dan empat tahun. Tapi kebutuhan logistik tetap tertangani," ungkapnya.
Penanganan saat ini pun lokasi longsor hanya ditutupi kain terpal guna mengamankan dari rembesan air saat terjadi hujan. Sedangkan langkah selanjutkan akan dimintakan rekomendasi teknis dari Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) selaku pihak yang berwenang. (eri/dem) Editor : Administrator