Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pekan Depan Malioboro Dibongkar

Administrator • Rabu, 6 April 2016 | 23:47 WIB
Photo
Photo
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
JOGJA - Setelah relokasi parkir sisi timur Malioboro ke Taman Khusus Parkir (TKP) Abu Bakar Ali (ABA), langkah yang dilakukan selanjutnya adalah memulai penataan. Sisi timur Malioboro akan ditambah street furniture dan mengganti alas trotoar.

Beberapa street furniture diujicobakan kemarin (5/4). Bahkan sudah dicoba langsung oleh Gubernur DIJ Hamengku Bawono (HB) X. "Lha iki nggo pacaran," canda HB X saat mencoba kursi yang dipasang di sisi timur kemarin.

HB X memberikan rekomendasi penataan semi pedestrian, termasuk akses untuk penyandang disabilitas. "Filosofinya kan kendaraan jalan pelan-pelan karena banyak orang berjalan," lanjutnya.

Suami GKR Hemas ini mengusulkan ada penambahan jumlah pelican crossing atau alat yang membantu penyeberang jalan dengan memencet tombol. Pelican crossing menampilkan tanda isyarat bagi pengendara untuk memberi kesempatan penyeberang jalan. HB X juga meminta kesadaran pengunjung untuk menyebrang di zebra cross.

"Sementara ini diberi pagar oranye biar kalau nyebrang ora waton. Agar masyarakat juga disiplin," ujarnya.

Dari hasil peninjauan kemarin, meski sudah dioperasikan TKP ABA, tetap dianggap belum menyelesaikan masalah parkir di Kota Jogja. TKP ABA hanya menjadi pengganti lokasi parkir dari sisi timur Malioboro. Untuk mencukupi kebutuhan parkir di Kota Jogja butuh lahan seluas 30 meter persegi.

HB X mengatakan, saat ini baru ada dua taman khusus parkir yang sudah selesai dibangun dan dioperasikan, yaitu TKP Ngabean dan ABA. "Kebetulan kan ini baru dua, harus ada alternatif ruang kosong lainnya untuk parkir," terangnya seusai meninjau TKP ABA dan Malioboro.

Menurutnya, beberapa lokasi yang bisa dijangkau sebagai tempat parkir, seperti di bekas kampus UPN di Ketandan maupun lahan milik PT KAI, yang sudah dibebaskan hingga ke wilayah Bong Suwung.

"Ada nggak ruang yang mungkin jadi tempat parkir baru, mungkin dari KAI ke timur hingga Bong Suwung, biar nanti pak Wali (Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti) yang bicara ke KAI," tuturnya.

Raja Keraton Jogja tersebut mengatakan, lahan parkir baru memang dibutuhkan. Terlebih saat musim liburan, wilayah di sekitar Malioboro dipastikan terkena imbas kepadatan lalu lintas kendaraan yang masuk ke objek wisata belanja DIJ itu. Banyak pula yang akhirnya parkir di pinggir jalan.

"Kalau weekend tidak hanya Malioboro, jalan Bhayangkara, Jalan Mataram juga penuh to," tuturnya.

Terkait dengan relokasi parkir ke ABA, HB X meminta pengertian dari juru parkir (jukir). Karena pada awal relokasi belum tertata baik, sehingga pendapatan jukir masih kecil. HB X juga meminta para jukir bisa tergabung dalam koperasi.

Koperasi jukir tersebut tidak hanya untuk konsolidasi jukir dan meningkatkan PAD Kota Jogja dari sisi parkir saja. Tapi, untuk memberikan tambahan uang prestasi bagi jukir. "Sehingga pindah ke ABA ini tidak hanya pendapatnya yang sama, tapi bisa lebih menyejahterakan," tuturnya.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS) kembali meyakinkan soal kesejahteraan jukir di ABA, seperti dengan mendapatkan kompensasi. "Ada kompensasi dan parkir, besarnya bisa mendekati UMP," terangnya.

Sedangkan untuk penambahan space parkir, HS mengatakan, sudah diminta gubernur untuk melakukan penjajakan di beberapa lokasi. Selain di eks kampus UPN di Ketandan, juga di depan Stasiun Tugu.

Di sisi timur Stasiun Tugu akan dibangun parkir vertikal, seperti di ABA. Menurut HS jika sesuai, dimungkinkan dibangun parkir vertikal hingga Bong Suwung. "Atas buat parkir, di bawah tetap jalan kereta. Ya nanti bicara dengan PT KAI untuk desainnya," terang HS.

Sebelumnya Manager Corporate Communication PT KAI Daop 6 Jogja Eko Budiyanto mengaku belum mengetahui rencana pemanfaatan lahan parkir milik PT KAI Daop 6 Jogja di Bong Suwung untuk mendukung parkir Malioboro. Menurut Eko, parkir di sisi barat Stasiun Tugu tersebut dikelola oleh anak perusahaan PT KAI, yaitu PT Reska Multiusaha.

"Setahu saya hingga saat ini belum ada pembicaraan dengan Pemprov DIJ maupun PT Reska Multiusaha. Kalau ada tentu kami diajak berkoordinasi," ungkapnya
Sementara itu, terkait penataan Malioboro Kepala Seksi Pembangunan Sarana dan Prasarana Bidang Cipta Karya Dinas PUP-ESDM DIJ Arif A. Zain menjelaskan, proses penataan sisi timur dimulai minggu depan. Saat ini proses lelang sudah selesai. "Mulai minggu depan kami kerjakan secara bertahap, dari depan Hotel Inna Garuda hingga Ketandan," terangnya.

Beberapa pekerjaan untuk mendukung konsep semi pedestrian seperti mengganti trotoar untuk lantai pedestrian. Juga pengadaan street furniture seperti kursi dan ornamen lain yang khas. Di antaranya node aksara Jawa. Node tersebut diharapkan menjadi penanda lokasi.

Proses pengerjaan sendiri akan berlangsung selama delapan bulan. Ditargetkan pada pertengahan Desember 2016 nanti semua pengerjaan sudah selesai. Setelah itu, pada 2017 akan menata sisi barat Malioboro sampai Titik Nol Kilometer. (pra/ila/ong) Editor : Administrator
#Malioboro #Jogja #Parkir