Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Suratmi Mufidah, Istri Terduga Teroris Siyono Datangi PP Muhammadiyah

Administrator • Rabu, 30 Maret 2016 | 22:43 WIB
Photo
Photo
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

Dapat Dua Gepok Uang, Tak Berani Buka Bungkusan Koran


Istri terduga teroris Siyono yang meninggal seusai ditangkap Densus 88, Suratmi Mufidah, mendatangi PP Muhammadiyah di Jalan Cik Di Tiro, Kota Jogja, Senin pagi (29/3). Dia meminta bantuan hukum atas ketidakadilan yang menimpa almarhum suaminya.

RIZAL SN, Jogja
SURATMI datang sekitar pukul 09.00 WIB dengan membawa buah hatinya. Dia datang ditemani oleh beberapa orang yang mengaku dari Laskar Islam. Kedatangannya ke PP Muhammadiyah bukannya tanpa alasan. Suratmi ingin meminta bantuan hukum atas ketidakadilan yang diterima oleh almarhum Siyono, suaminya.

"Saya datang ke sini untuk mengadu dan meminta bantuan agar Muhammadiyah mau mendampingi proses hukum," kata Suratmi pada Wakil Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum dan HAM Busyro Muqoddas kemarin
Perempuan dengan lima anak itu mengatakan, pihak keluarga mengaku tidak ikhlas ketika Siyono meninggal seusai ditangkap Densus 88. Siyono diketahui ditangkap pada 8 Maret 2016 dan dikabarkan meninggal tiga hari kemudian. Penangkapan tersebut, menurutnya, tanpa ada proses hukum.

"Waktu ke Jakarta saya sempat diminta untuk tanda tangan. Isinya pernyataan untuk tidak akan membawa kasus ini ke hukum, tapi saya tidak mau. Karena itu saya ingin meminta bantuan," ujarnya.

Selain itu, dia juga mengaku diberi uang sebanyak dua gepok dengan masing-masing tebalnya sekitar 10 sentimeter. Uang tersebut diberikan oleh salah seorang bernama Ayu, Lastri, serta tiga orang lainnya yang menjemput Suratmi dari Klaten dan membawa ke Jakarta. Uang itu, menurut si pemberi sebagai uang solidaritas.

Dua gepok uang tersebut dibungkus dengan koran bekas dan dilakban pada masing-masing sisinya. Sejak menerima uang itu, dia tidak berani membukanya. "Bu Ayu yang memberikan, saya menduga bu Ayu adalah polwan, tapi saya tidak tahu pasti. Uang itu diberikan di Hotel Leaf Jakarta tempat saya menginap," katanya.

Menurut pengakuan dari pemberi, uang tersebut diberikan sebagai santunan dan biaya pemakaman almarhum Siyono. Namun karena takut, Suratmi tidak berani membuka bungkusan uang tersebut.

"Apa maksudnya memberikan uang sebanyak ini. Katanya, satu bungkus untuk santunan dan satu bungkus untuk pemakaman," ujarnya.

Saat itu Ayu juga mengatakan, soal kematian Siyono diikhlaskan saja. Karena sudah menjadi takdirnya. Usai menerima uang itu, kata Suratmi, dia diminta untuk tanda tangan pernyataan. Tetapi dia menolak untuk membubuhkan tanda tangan.

Beberapa poin pernyataan antara lain, tidak akan menempuh jalur hukum atas kematian suaminya. Juga tidak akan melakukan otopsi ulang terhadap jenazah Siyono. Serta harus mengikhlaskan kematian suaminya itu.

"Kalau tidak salah ada lima poin, tapi saya hanya baca sekilas saja," ungkapnya.

Suratmi lalu menyerahkan uang tersebut kepada PP Muhammadiyah yang diwakili Busyro Muqoddas. Uang itu juga bisa sebagai barang bukti jika nanti akan menghadapi meja hijau. "Untuk barang bukti silahkan saja. Tapi, saya tidak berani membukanya, sejak awal diberikan masih utuh seperti itu," ujarnya.

Sementara itu, Busyro Muqoddas mengatakan, pihaknya menerima permintaan dari Suratmi. PP Muhammadiyah akan mengambil amanat untuk mendampingi keluarga Siyono ke jalur hukum.

Langkah selanjutnya, PP Muhammadiyah akan menyiapkan tim hukum untuk proses pengumpulan bukti dan membawa kasus ini ke meja hijau. Dia juga meragukan berita versi Polisi terkait kematian Siyono.

Menurutnya, tidak mungkin seorang Siyono yang bertubuh kecil melakukan pelawanan kepada Densus 88 yang memiliki keahlian khusus dan senjata lengkap. Dengan postur badan Siyono yang tidak terlalu besar, Busyro menyangsikan jika Siyono melakukan perlawanan seperti yang dikatakan petugas. Kalau melakukan perlawanan, katanya, seharusnya Densus bisa melumpuhkan tanpa harus menghilangkan nyawa.

"Kami berempati terhadap keluarga Siyono. Teman-teman media sudah mendengar sendiri keinginan dari keluarga Siyono, dan kami akan menyanggupinya," kata Busyro. (ila/ong) Editor : Administrator
#PP Muhammadiyah #Istri Terduga Teroris Siyono #Muhammadiyah #Suratmi Mufidah #Jogjakarta #terduga teroris