DUKA: Rudi Supriyatmojo, kerabat korban, memperlihatkan foto pernikahan almarhum Kapten CPN Agung Kurniawan di rumah duka di Brontokusuman, Mergangsan, Jogja, kemarin (21/3).
JOGJA - Duka mendalam tampak di rumah duka Kapten CPN Agung Kurniawan, pilot helikopter TNI AD jenis Bell 412 HA.5171 Dron-11/Serbu yang jatuh di Poso, Sulawesi Tengah, Minggu (20/3) lalu.
Sebelumnya, pihak keluarga menghendaki jenazah dimakamkan di Jogja. Namun, setelah mendapat penjelasan dari pihak TNI, mereka rela jenazah almarhum dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata Jakarta.
"Tadi saya kontak ayahnya mas Agung dan beliau sudah ikhlas kalau anaknya dimakamkan di Jakarta," kata kakak ipar Agung, Rudi Supriatmojo, kepada wartawan, saat ditemui di rumah duka di Kampung Karanganyar MG 3, RT 66/RW 18, Brontokusuman, Mergangsan, Jogja, Senin (21/3) pagi.
Rudi mengatakan, sebelumnya memang sempat terjadi perbedaan perihal lokasi pemakaman adiknya itu. Pihak keluarga menghendaki agar Agung yang lahir di Ambarawa, 3 April 1982 itu dimakamkan di Jogja. Sementara apabila dimakamkan di Jakarta, dikhawatirkan tidak ada yang merawat makamnya dan jauh saat akan berziarah. Terlebih di Jakarta tidak ada keluarga.
"Kami mendapatkan penjelasan dari pihak TNI bahwa almarhum meninggal dalam tugas. Juga permintaan Presiden untuk dimakamkan di TMP Kalibata Jakarta, akhirnya kami ikhlaskan," terangnya.
Sebelumnya, dia mengaku pihak keluarga mendapatkan informasi tentang kecelakaan helikopter itu langsung dari Poniman, ayah Agung yang tinggal di Ambarawa. Poniman memberitahu kalau anaknya menjadi salah satu dari 13 korban tewas dalam kecelakaan tersebut.
"Kami langsung menyiapkan tempat untuk menyambut kedatangan jenazah, karena awalnya ingin dimakamkan di sini (Jogja). Ayahnya mas Agung memang tinggal di Ambarawa selepas pensiun sebagai tentara di Kodim 0734/Jogjakarta. Jabatan terakhirnya Serma," ungkapnya.
Selanjutnya, pihak keluarga yang dibantu para tetangga sibuk mempersiapkan rumah duka, meski akhirnya jenazah tidak jadi dikuburkan di Jogja. "Ada rencana mau mengadakan tahlilan, tapi belum tahu mau dimulai kapan dan berapa kali," katanya.
Kapten CPN Agung Kurniawan meninggalkan satu istri bernama Tri Radiyati dan satu orang putra serta dua orang putri. Diketahui si bungsu baru berusia lima bulan. "Kami keluarga besar di Jogja terakhir bertemu dengan almarhum di Semarang saat menengok anaknya yang paling kecil baru lahir," jelasnya.
Kakak sepupu Agung, Dwi Mariyanto mengatakan, sejak kecil Agung hidup dan besar di kampung Mergangsan. Dia juga menjelaskan, Agung merupakan lulusan dari Akmil tahun 2003 lalu. Menurut Dwi, Agung memiliki karir yang bagus di TNI AD. Agung merupakan anak yang cerdas dan pintar. Dari awal Agung ingin menjadi anggota TNI. "Cita-citanya ingin jadi tentara. Waktu sekolah, uang sakunya tidak digunakan untuk jajan, tapi untuk bantu biaya sekolah. Kalau dia berangkat sukanya naik sepeda," ujarnya.
Agung merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Dari tiga adiknya hanya Bobby Kurnia Adi Saputra yang ikut pergi ke Jakarta untuk pemakaman. Sementara dua adiknya, Desi Kurniawati dan Chandra Kurniatmaja tidak bisa ikut.
"Sebelumnya sempat pamit sama adiknya Desi, Sabtu pagi. Katanya pamit dulu kalau mau bertugas di Poso. Makanya Desi mendengar kabar itu langsung shock," ujarnya.
Sementara itu, mengetahui kabar meninggalnya Agung, almamater tempatnya menempuh pendidikan di SMA Muhammadiyah 2 Jogja melakukan salat gaib untuk Kapten CPN Agung Kurniawan. Salat gaib dilakukan di Masjid Al Mujaddid Kompleks SMA Muhammadiyah 2 Jogja.
Guru SMA Muhammadiyah 2 Jogja Riwahyuti mengatakan, mantan muridnya itu tergolong pendiam. Namun juga memperhatikan pelajaran. Agung juga saat itu masuk dalam kelas unggulan, sehingga termasuk anak berprestasi. "Tidak pernah nakal, rajin di kelas. Kita semua di sekolah ini merasa sangat kehilangan," ungkap guru kelas yang pernah mengajar Agung selama kelas 2 dan 3 ini. (riz/sky/ila/ong)
Editor : Administrator