SLEMAN - Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jogjakarta berhasil menemukan delapan peripih atau kotak batu. Di dalam peripih yang ditemukan akhir Februari lalu itu, terdapat lubang yang berisi sejumlah lempengan emas, perak serta biji-bijian berwarna hijau. Hingga kini, penelitian terhadap kotak batu itu masih dilakukan.
Kepala Seksi Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB Jogjakarta Wahyu Astuti mengatakan, delapan peripih tersebut terbuat dari batu putih dan berada tepat dengan arah mata angin. Barat, timur, utara, selatan, barat daya, barat laut, tenggara, dan timur laut.
Diungkapkan, penemuan itu terjadi saat tim dari BPCB tengah melakukan studi teknis Candi Perwara yang berada di deret dua nomor 135 di kompleks Candi Prambanan di kedalaman 130 sentimeter atau speed 7. Peripih-peripih tersebut berukuran 40x21 sentimeter dengan ketebalan 8 sentimeter.
Wahyu menuturkan, penemuan peripih lengkap dari semua mata angina ini merupakan yang pertama. Menariknya, dari semua peripih itu ada isinya baik lempengan perak, emas maupun biji-bijian.
"Biasanya peripih ditemukan di tengah-tengah candi. Isinya, biasanya abu atau potongan rambut. Tapi, ini beda. Selain isinya berbeda, juga ditemukan lengkap dari semua arah mata angin," katanya, kemarin (7/3).
Wahyu menjelaskan, peripih dari timur laut terdapat biji berwarna hijau dan tampak masih utuh. Di dalamnya juga terdapat lempengan emas dengan kadar 70 persen atau 18 gram. Menurutnya, pada zaman dulu, peripih biasa dimanfaatkan untuk menyimpan alat keagamaan. Meski peripih hanya terbuat dari batu putih dan sekilas tak seberapa. Tapi, bagi ilmu arkeologi benda itu memiliki nilai tinggi.
Dia mengatakan, BPCB terus melakukan penelitian terhadap delapan peripih atau kotak batu yang ditemukan petugas di Candi Perwara. "Temuan peripih tersebut menjadi penting dalam dunia arkeologi," terang Wahyu.
Wahyu mengungkapkan tahapan-tahapan dalam penelitian yang dilakukan. Tahap awal, petugas mengeluarkan seluruh tanah yang terdapat dalam peripih. Selanjutnya, tanah-tanah tersebut diayak guna memastikan apakah masih terdapat lempengan emas atau lainnya dalam bentuk lebih kecil. "Jika proses ayak belum menemukan temuan baru, maka tanah-tanah isi peripih itu akan dioven," terangnya.
Arkeolog BPCB Jogjakarta Yoses Tanzaq mengatakan, dalam bidang arkeologi, sebuah peripih bisa untuk menghidupkan candi. Tanpa peripih, candi hanyalah seonggok bebatuan biasa. "Peripih merupakan nyawa candi. Tiap sudut peripih yang ditemukan ini melambangkan dewa-dewa Lokapala dengan nama-nama berbeda sesuai arah mata angin," paparnya.
Dijelaskan, arah utara menggambarkan Dewa Kuwera, timur laut Dewa Isana, timur Dewa Indra, tenggara Dewa Agni. Sedangkan arah selatan menggambarkan Dewa Yama, barat daya Dewa Naruti, barat Dewa Baruna, dan barat laut Dewa Bayu.
"Inti dari peripih, yakni unsur-unsur alam atau kosmos. Seperti tanah yang memang berasal dari alam, juga biji-bijian dari alam yang melambangkah kehidupan," jelasnya. (riz/ila/ong) Editor : Administrator