Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wisatawan Belum Boleh Mendekat Pantai Sadranan

Administrator • Senin, 22 Juni 2015 | 21:00 WIB
Photo
Photo

GUNUNGKIDUL - Polres Gunungkidul masih menutup sekitar kawasan tebing karang Pantai Sadranan yang longsor dan menelan korban jiwa beberapa waktu lalu. Hingga kemarin (21/6) polisi masih memasang police line.
Kapolsek Tepus AKP Yulianto mengatakan, tindakan ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya wisatawan yang datang dan ingin melihat dari dekat. "Kami menilai lokasi itu masih berbahaya. Meski batu retak sudah dibongkar dengan alat berat, kami tidak ingin wisatawan mendekat," kata Yulianto.
Dijelaskan Yulianto, keberadaan police line sekaligus untuk antisipasi agar wisatawan tidak bermain di sekitar tebing. Dia mengaku belum mengetahui sampai kapan garis polisi akan dilepas. Menurutnya, jika nanti memang kondisi sudah tidak mengkhawatirkan, maka akan dicopot.
Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbubpar) Gunungkidul Saryanto mengatakan, pascabencana yang menelan empat korban jiwa, dia akan memasang papan peringatan di sejumlah titik yang disinyalir berpotensi terjadi longsor.
Diakui, tragedi longsornya tebing Sadranan sebagai pembelajaran bahwa faktor keselamatan wisatawan merupakan salah satu aspek yang harus diutamakan. "Kami tidak ingin musibah itu terjadi lagi," katanya.
Beberapa tebing yang rawan longsor, dikatakan, segera diberi tanda peringatan. "Sebelum lebaran kami harapkan sudah bisa terpasang papan imbauan atau larangan wisatawan untuk tidak berada di bawah tebing pinggir pantai," kata Saryanto.
Untuk mengingatkan, pada 17 Juni lalu sekitar pukul 14.50 tebing karang di lokasi longsor. Material longsoran sebesar rumah menimbun hidup-hidup sejumlah wisatawan yang berteduh di bawahnya. Sontak acara padusan menjelang Ramadan berubah menjadi duka.
Pascakejadian, ketua tim bencana tanah longsor pusat vulkanologi dan mitigasi Bencana Geologi Nasional Herry Purnomo bersama tim mendatangi lokasi dan mencari tahu penyebab pasti musibah tebing karang ambrol. Dari penelitian awal, tebing setinggi 15 meter itu ambrol karena pelapukan di bagian retakan tebing.
Hal itu dianggap wajar, hanya kebetulan ada warga yang berada di bawah. Diketahui batuan karang di wilayah Jogjakarta ujung timur ini berjenis batuan kapur, sehingga mudah terkikis oleh gelombang air laut.
Akibat dihantam ombak terus menerus, tebing terkikis membentuk cekungan. Goncangan ombak semakin membuat tebing karang menjadi rapuh kemudian bisa ambrol setiap saat. (gun/laz/ong) Editor : Administrator