Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Terpesona Tarian Kreasi Baru

Editor News • Senin, 30 Juni 2014 | 15:26 WIB
Photo
Photo
JOGJA – Upaya pelestarian seni dan budaya oleh Dinas Kebudayaan (Disbud) DIJ terus dilakukan. Setelah beberapa waktu lalu melakukan dokumentasi terhadap beksan klasik Pura Pakualaman dan Keraton Jogjakarta. Kini giliran tari kreasi baru. Tarian ini merupakan karya maestro-maestro tari di Jogjakarta.Bertempat di Gedung Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta (TBY) tiga tarian karya dua maestro tari ditampilkan. Jumat (27/6) malam lalu, Disbud menampilkan Bedaya Luluh karya Siti Sutiyah Sasmintamurti, tari Kebyar dan tari Roro Ngigel karya mendiang Ida Manutranggana.Dokumentasi pertama menampilkan Bedaya Luluh karya Siti Sutiyah. Beksan ini dimainkan oleh 18 penari putri berbusana penari Jawa klasik. Jumlah penari ini menurut istri mendiang Kanjeng Raden Tumenggung Sasmintamardawa dua kali dari jumlah penari bedaya pada umumnya.
Sutiyah mengungkapkkan bedaya Luluh diciptakan sebagai bentuk penghormatan dan mengenang jasa-pengabdian seni Rama Sas. Pengabdiannya ini melalui organisasi seni yang didirikannya, yaitu Mardawa Budaya (1962) dan Pamulangan Beksa Ngayogyakarta (1976). Kedua yayasan ini telah melebur menjadi Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa. "Bedaya Luluh merakit komposisi 18 penari dalam satu kesatuan format bedayan, bukan sebatas dua rakit bedaya yang dibersamakan. Anyaman dua rakit bedaya, yang manjing dalam kesatuan tekad buat merawat harkat, martabat, dan semangat seni tari klasik gaya Jogjakarta," kata Sutiyah.Tarian selanjutnya menampilkan tarian karya almarhum Ida Manutranggana. Dalam menarikannya merupakan tantangan. Inilah yang diungkapkan oleh Kepala Seksi Rekayasa Budaya Dinas Kebudayaan DIJ Drs Agus Amarullah, MA. Menurut Agus, almarhum Ida memiliki sejarah panjang dalam dunia tari.Dalam tarian pertama yang ditampilkan, Kebyar menceritakan tentang tarian yang ringan, ceria dengan durasi pendek. Meski begitu karya Ida menurut Agus tetap meletakkan arti penting dasar-dasar teknik gerak berestetika tinggi dan rumit. "Penguasaan teknik dasar tari yang kuat dan penjiwaan saat membawakan, akan menjadikan tari karya Ida hidup dan enak ditonton. Tari Kebyar terinspirasi oleh gemerlap bintang di langit malam. Kilau dan kerlap-kerlip bintang malam, di tangan Ida menjadi peristiwa hidup dengan tarian," kata Agus.
Tari kedua, Rara Ngigel lebih istimewa karena melibatkan dua putri almarhum Ida. Dalam kesempatan ini Paranditya Wintarni dan Indiartari Kussnowari ikut menyajikan tarian ini. Diar panggilan akrab Indiartari Kussnowari mengungkapkan tarian ini yang mengangkat kegairahan para penari ronggeng.Tarian ini, menurut anak kedua Ida ini, memiliki makna penuh suka cita. Tarian ini mengisahkan sosok perempuan muda yang memiliki semangat dalam menari. Tarian ini juga menggambarkan semangat Ida saat melanglang buana nusantara dalam mempelajari ragam tarian."Dengan adanya dokumentasi untuk tari kreasi baru sangatlah penting. Ini untuk menampilkan keaslian karya yang diciptakan oleh ibu. Dokumentasi seperti ini tentunya sangatlah penting," kata Diar. (dwi/ila) Editor : Editor News