Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pameran Tunggal, Usung Tanah Kelahiran

Editor News • Senin, 14 April 2014 | 15:38 WIB
Photo
Photo
BANTUL – Identitas tanah kelahiran tidak sekadar menjadi latar belakang, tetapi juga menentukan arah pandangan berkarya. Inilah yang dilakukan Andis Rivai Pasaribu, saat menggelar pameran solo bertajuk mARTabe di Tembi Rumah Budaya Sewon Bantul.
Pameran yang menyajikan karya lukis ini memiliki ciri khas berbeda. Di mana, penuh simbol Batak. Ini bisa dilihat dengan adanya simbol totem ataupun artefak ciri khas Batak. Meski mengusung jatid diri, Andis tetap menampilkan isu-isu terkini yang dikemas pada karya-karyanya.
"Hidup ini berjalan dengan dinamis, di mana mengalami perubahan seiring perjalanan waktu. Seni tradisi bergeser, berubah menjadi seni yang lebih modern. Di sisi lain, nilai tradisi perlahan hilang. Inilah mengapa, Batak tetap saya usung dalam proses berkesenian," ungkap Andis, Jumat (11/4).
Pameran yang berlangsung hingga 27 April mendatang ini juga mengajak seniman maupun penonton tidak melupakan tanah kelahiran. Meski terbalut modernitas, tonggak awal tetap berpegang pada tanah kelahiran. Unsur tradisi daerah menjadi akar kuat dalam berpijak dan menjalani dinamika kehidupan.
Lebih lanjut, Andis menceritakan karya-karyanya yang dipamerkan bercerita tentang pengamatan sehari-hari. Misal, karyanya yang berjudul Membisu dengan ukuran kanvas 130 cm x 100 cm. Lukisan yang menggunakan cat akrilik ini menggambarkan sosok totem yang mulutnya dibalut kain merah.
"Tradisi seakan diam terpaku menghadapi modernitas. Tradisi yang seharusnya menjadi akar, tak kuat menghadapi terpaan dan memilih diam. Meski begitu, ada harapan, karena bagaimanapun juga tradisi adalah akar dari semua," tegas seniman kelahiran Tapanuli Utara, 5 September 1987 ini.
Keunikan lain karya Andis adalah tak terlalu berpatokan pada warna khas Batak. Yakni, putih, merah, dan hitam.
Setiap proses berkarya, Andis mengangkat warna-warna lain dan melanggar pakem-pakem ke - Batakan. Bahkan, beberapa lukisan karya Andis mengkolaborasikan kelembutan corak Jawa dengan ketegasan Batak. Dua unsur yang berbeda ini mampu dikemas Andis menjadi corak baru yang indah. Yaitu berupa garis-garis yang kuat mampu berpadu dengan arsir-arsir yang halus dan lembut.
"Terpengaruh setelah sekian lama mengembara di Jogjakarta mencari ilmu. Sesuatu yang baru ini bukan ah sebuah ancaman, namun menjadi ide segar dalam berkarya. Jika dilihat lebih luas, tradisi yang dimiliki Indonesia sangat kaya dan beragam," kata Andis.(dwi/hes) Editor : Editor News