Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

TBY Lakukan Regenerasi Mimers

Editor News • Selasa, 8 April 2014 | 14:54 WIB
Photo
Photo
JOGJA – Dunia pantomim di Jogjakarta memasuki masa kejayaan pada era 1980-an hingga 1990-an. Beberapa pertunjukkan pantomim hadir dan menghiasi jagad kesenian di Jogjakarta pada era itu. Seiring perjalanan zaman, pertumbuhan pantomim berangsur surut.
Memasuki era 2000-an, tokoh-tokoh pantomim berguguran. Dari sekian banyak tokoh yang pernah berjaya, tinggal Jemek Supardi yang bertahan. Ini menggugah Taman Budaya Yogyakarta (TBY) untuk mewadahi mimers , sebutan seniman pantomim di Jogjakarta.
"Pada era ini, selain Jemek Supardi muncul nama Moerti Purnomo, Dedy Ratmoyo, dan beberapa mimers lainnya. Regenerasi pantomim memasuki jalan gelap dibandingkan genre kesenian lain. Perkembangan seni pantomim bisa dikatakan hidup enggan, mati pun tak mau," ungkap Kepala TBY Diah Tutuko Suryandaru di kantornya, kemarin. (7/4).
Berangkat dari situ, TBY mengadakan pergelaran Pantomim 2014 di Concert Hall TBY. Diah mengungkapkan, rencananya digelar 12 April dan mewadahi mimers Jogjakarta. Terhitung ada 75 mimers yang berpartisipasi.
Grup pantomim yang terlibat adalah Bengkel Mime Theatre, Mal Mime Ja, Reza Mime Club, Deaf Art Community, Deddy Ratmoyo, dan Mbak Ita. Pergelaran ini bertajuk Beringharjo, dan memadukan pantomim, dance, dan teater.
"Pentas ini sesuai tupoksi TBY sebagai tempat pengembangan seni dan pengolahan seni di Jogjakarta. Sebelum pentas, Maret lalu telah digelar workshop dan mendatangkan mimers dari Jepang. Dengan forum ini, akan meningkatkan kembali perkembangan pantomim di Jogjakarta," kata Diah berharap.
Ketua penyelenggara, Sri Wahyuni Sulistiowati menambahkan, pergelaran Pantomime 2014 berbeda dengan kegiatan sebelumnya. Pergelaran Pantomim 2014 menggelar satu pertunjukan yang dikemas kolaboratif.
Selain mengusung kolaborasi antara grup pantomim di Jogja, juga dibuat format berbeda. Cara ini, sebagai upaya TBY menciptakan ruang kreatif bersama antargrup pantomim di Jogjakarta.
"Kolaborasi ini semacam ruang penciptaan bersama yang mempertemukan berbagai prespektif, bentuk, gaya, dan metode penciptaan yang berbeda. Persiapan yang berbeda diharapkan melahirkan kekayaan dalam membaca situasi kemanusiaan yang melekat pada tema pertunjukan seni pantomim," kata Yuni-sapaan akrabnya.(dwi/hes) Editor : Editor News