RADAR JOGJA - Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DIJ mengklaim Jogjakarta telah menjadi magnet dan etalase bagi pertumbuhan olahraga voli yang progresif dan modern. Perkembangan positif itu semakin terlihat jelas menjelang partisipasi DIJ dalam ajang PON XXI 2024 Aceh-Sumut lalu.
Ketua Umum KONI DIJ Paku Alam X mengatakan, atas catatan positif itu saat ini pihaknya mengajak semua pihak agar terus mengembangkan dan menumbuhkan kesadaran perjuangan serta menumbuhkan sportivitas dalam dunia olahraga, terutama voli. Sehingga ke depan DIJ tetap menjadi magnet pertumbuhan olahraga bola voli di Indonesia.
"Kami harus mendorong bola voli Indonesia dengan kesadaran penuh agar sebagai bangsa pejuang, Indonesia bisa menjadi bangsa juara untuk bola voli," katanya Minggu (11/5).
Ke depan, Paku Alam X juga menekankan akan pentingnya kolaborasi antarberbagai pemangku kepentingan dalam dunia olahraga. Sebab, inisiatif itu bukan hanya sebuah langkah strategis, tetapi juga momentum rasa aktif bagi semua pihak untuk memberikan sumbangsih dalam merumuskan arah baru yang lebih adaptif inklusif dan berkelanjutan untuk bola voli di Indonesia. "Kami ingin DIJ ini bisa memajukan olahraga bola voli di Indonesia," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PP PBVSI) Komjen Pol (Purn) Imam Sujarwo juga menegaskan akan pentingnya kolaborasi dalam perkembangan bola voli di Indonesia. Sehingga kolaborasi harus dilaksanakan sebagai kerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan prestasi dan mempopulerkan bola voli di kancah nasional maupun internasional.
Kolaborasi yang baik, menurut Imam, didasari pada tiga hal, yaitu koordinasi, informasi, dan simplifikasi. Tanpa koordinasi semua hal tidak akan bertemu, sehingga harus saling memberikan informasi dan menyederhanakan program yang tidak bisa dilakukan sendiri.
Imam juga menekankan, kolaborasi tidak akan berjalan tanpa sumber daya manusia atau SDM yang berkualitas dan memiliki integritas. Integritas itu meliputi profesionalisme disiplin loyalitas dan etika moral.
"Percuma atlet hebat tapi tidak punya integritas moral, tidak punya rasa memiliki, kurang persatuan dan kesatuan serta kurang wawasan kebangsaan," tegasnya.
Tak hanya itu, Imam juga menegaskan para senior dan atlet berpengalaman juga diharapkan dapat menularkan nilai-nilai integritas agar dapat membentuk atlet-atlet profesional yang berprestasi di masa depan. Loyalitas itu penting karena dapat membuat para atlet mengingat dari mana tempatnya berasal dan siapa yang membesarkannya. (ayu/laz)
Editor : Herpri Kartun