PSIM Jogja Kembali Kalah dan Gagal Bangkit, Van Gastel Soroti Dua Gol Serangan Balik PSM Makassar

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 18:53 WIB
Konferensi pers setelah pertandingan antara PSIM Jogja melawan PSM Makassar. Fahmi Fahriza/Radar Jogja
Konferensi pers setelah pertandingan antara PSIM Jogja melawan PSM Makassar. Fahmi Fahriza/Radar Jogja

 

JOGJA - PSIM Jogja kembali menelan kekalahan setelah takluk 1-2 dari PSM Makassar dalam pekan kelima BRI Super League 2026/2027 di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Jumat (16/10) sore. Pelatih PSIM Jean Paul Van Gastel menilai timnya tampil lebih baik pada babak pertama, tetapi gagal memaksimalkan peluang dan harus membayar mahal berbagai kesalahan yang terjadi.

Dalam konferensi pers seusai pertandingan, Van Gastel menyebut PSIM sebenarnya mampu mengambil inisiatif permainan. Namun situasi yang tidak menguntungkan serta kegagalan memanfaatkan peluang dengan klinis membuat Laskar Mataram kembali kehilangan poin di kandang sendiri.

Sebagai catatan, ini merupakan empat kekalahan beruntun yang dialami PSIM awal musim ini dari lima pertandingan. Mereka kalah dari Persebaya Surabaya, Madura United, Persija Jakarta, dan kini PSM Makassar.
"Pada babak pertama, kami adalah tim yang lebih baik. Namun, kami kehilangan keberuntungan. Bola-bola jatuh di sana dan di sini," ujar Van Gastel.

Baca Juga: PSS Sleman Bawa 23 Pemain ke GBT, Siap Ganyang Persebaya Surabaya

PSIM sendiri berusaha membangun serangan melalui lini tengah yang dimotori Ze Valente. Kedua bek sayap, Raka Cahyana dan Alwi Fadilah juga beberapa kali membantu serangan dari sisi lapangan. Meski lebih dominan dalam penguasaan bola, PSIM dan PSM sama-sama gagal mencetak gol sepanjang babak pertama.

Memasuki babak kedua, PSM justru memecah kebuntuan melalui Fahrul Aditia pada menit ke-49. Gol tersebut berawal dari skema serangan balik cepat yang membuat pertahanan PSIM kesulitan mengantisipasi pergerakan lawan.

Tertinggal satu gol, PSIM berusaha meningkatkan tekanan. Namun, upaya tersebut justru membuka ruang bagi PSM untuk kembali melancarkan serangan balik. Pada menit ke-65, Stefan Jetovski menggandakan keunggulan tim tamu menjadi 2-0.

Van Gastel mengakui gol kedua PSM tidak terlepas dari kesalahan timnya saat kehilangan penguasaan bola di area tengah. Situasi itu membuat lini pertahanan PSIM terekspos dan memberi kesempatan bagi PSM untuk menghukum tuan rumah.

"Gol kedua kami berikan dengan cukup mudah akibat kehilangan bola di lini tengah, kemudian kami terekspos dan terjadi gol," katanya.

Pelatih asal Belanda ini kemudian melakukan perubahan untuk meningkatkan daya gedor PSIM. Ia memasukkan tambahan penyerang dan mendorong bek sayap agar lebih aktif membantu serangan. Langkah itu dilakukan untuk mengejar ketertinggalan sekaligus menekan pertahanan PSM.

Peluang PSIM memperkecil skor datang pada menit ke-81. Wasit memberikan hadiah penalti setelah bek PSM Dusan Lagator melakukan pelanggaran terhadap penyerang PSIM Nermin Haljeta di dalam kotak terlarang.

Ze Valente yang menjadi eksekutor sukses menjalankan tugasnya dan mengubah kedudukan menjadi 1-2. Situasi pertandingan semakin terbuka setelah PSM harus bermain dengan 10 pemain akibat kartu merah.

Namun, PSIM tidak mampu memanfaatkan keunggulan jumlah pemain untuk menyamakan kedudukan. Van Gastel menyebut timnya memiliki sejumlah peluang emas pada akhir pertandingan, tetapi tidak berhasil mengonversinya menjadi gol.

Selain mengevaluasi efektivitas serangan, Van Gastel turut menyoroti beberapa keputusan dan situasi pertandingan. Salah satunya adalah proses terjadinya gol pertama PSM yang menurutnya bermula dari lemparan ke dalam ketika bola belum sepenuhnya berada di dalam lapangan.

"Sebagai contoh, pada gol pertama, Raka melakukan lemparan ke dalam, tetapi bola belum berada di dalam lapangan. Namun, situasi itu berlanjut hingga menjadi gol. Saya bertanya-tanya di mana VAR dalam situasi seperti ini," ungkapnya.

Baca Juga: Guguran Lava Pijar Merapi Menerjang Kali Krasak Sejauh 1,7 Km, Warga Lereng Kembali Siaga

Van Gastel juga mempertanyakan tambahan waktu yang diberikan wasit. Menurutnya, terdapat jeda panjang ketika proses peninjauan sebelum penalti bagi PSIM, sehingga waktu tambahan tujuh menit pada babak kedua dinilai belum sebanding dengan waktu yang terbuang.

"Antara pelanggaran dan permainan kembali, waktu yang terbuang mencapai 11 menit. Saya pikir itu cukup lama. Namun, waktu tambahan hanya tujuh menit. Jika satu situasi saja memakan waktu 11 menit, menurut saya tambahan waktu seharusnya minimal 11 menit," ujarnya.

Meski menyoroti sejumlah situasi pertandingan, Van Gastel tetap mengakui PSIM perlu memperbaiki penyelesaian akhir. Kegagalan memanfaatkan peluang menjadi salah satu faktor yang membuat timnya tidak mampu mengejar ketertinggalan hingga peluit panjang berbunyi.

Sementara itu, bek PSIM Jop Van Der Avert mengakui timnya sedang menghadapi situasi sulit. Ia menyadari hasil pertandingan yang belum memuaskan membuat suporter kecewa, terlebih PSIM telah menjalani lima laga tanpa kemenangan.

"Saya pikir jelas bahwa saat ini keberuntungan tidak berada di pihak kami. Namun saya tidak ingin mulai berbicara terlalu negatif karena menurut saya itu tidak akan membantu kami," kata Jop.

Menurutnya, persiapan tim menjelang pertandingan melawan PSM telah berjalan dengan baik. Ia juga menegaskan kerja keras para pemain bukan persoalan utama. Meski demikian, hasil di lapangan kembali tidak sesuai dengan harapan.

Jop menilai PSIM harus segera mengalihkan perhatian ke pertandingan berikutnya dan meningkatkan kerja keras agar bisa kembali meraih poin.

 "Satu-satunya hal yang bisa kami lakukan sebagai sebuah tim adalah tetap tegak dan bekerja lebih keras. Kami percaya masa yang lebih baik akan datang, dan kami harus mulai mendapatkan poin sekarang," tegasnya.

Di kubu lawan, Pelatih PSM Darije Kalezic menilai timnya layak membawa pulang tiga poin dari Bantul. Ia menyebut para pemain mampu menunjukkan respons positif setelah penampilan yang kurang memuaskan pada pertandingan sebelumnya.

Baca Juga: PSIM Jogja Takluk 1-2 dari PSM Makassar, Rentetan Kekalahan pun Berlanjut

Menurut Kalezic, terdapat tiga aspek yang menjadi perhatian timnya yakni semangat juang, keinginan untuk menang, dan inisiatif permainan. Ia menilai ketiganya terlihat lebih baik ketika PSM menghadapi PSIM.

"Tim saya cukup bisa mengontrol pertandingan. Kami membiarkan PSIM menguasai bola karena tahu mereka memiliki kesulitan dalam menciptakan peluang dan mencetak gol," ujar Kalezic.

Pelatih PSM ini menjelaskan timnya sengaja memberikan ruang penguasaan bola kepada PSIM sambil menunggu kesempatan untuk melancarkan serangan. Strategi itu dinilai efektif karena PSM mampu menciptakan sejumlah peluang pada babak pertama sebelum mencetak dua gol pada paruh kedua.

Kalezic bahkan menilai timnya seharusnya sudah unggul dua gol ketika memasuki ruang ganti. Namun, situasi pertandingan berubah setelah PSM harus melanjutkan laga dengan 10 pemain.

Meski kehilangan satu pemain, Kalezic justru melihat peningkatan semangat juang dari anak asuhnya. Ia menilai para pemain mampu mempertahankan keinginan untuk menang hingga pertandingan berakhir.

"Setelah bermain dengan 10 orang, para pemain menunjukkan semangat juang dua kali lipat, keinginan menang dua kali lipat, dan inisiatif dua kali lipat. Menurut saya, kami sangat layak memenangkan pertandingan dengan skor 2-1," tegasnya.

Pemain PSM Stefan Jetovski juga menilai kemenangan itu merupakan hasil dari kerja keras tim dalam beberapa pekan terakhir. Menurutnya, PSM mampu menunjukkan kualitas permainan sekaligus kekuatan mental ketika menghadapi situasi sulit.

"Kami bekerja sangat keras selama beberapa pekan terakhir. Hari ini, semua pemain menunjukkan kualitas yang kami miliki dan seberapa kuat mental kami," ujar Jetovski.

Pemain yang mencetak gol kedua PSM itu juga menilai timnya sebenarnya memiliki kesempatan untuk menambah keunggulan. Namun, ia mengingatkan bahwa efektivitas dalam memanfaatkan peluang masih perlu ditingkatkan.

"Saya pikir kami bisa mencetak lebih banyak gol dan perlu memanfaatkan peluang yang kami ciptakan dengan lebih baik," katanya.

Baca Juga: Laporan Scam di DIY Tembus 12 Ribu, Kerugiannya Lebih dari Rp 100 Miliar

Kemenangan ini membuat PSM membawa pulang tiga poin dari Bantul, sedangkan PSIM kembali gagal meraih kemenangan. Dari lima pertandingan awal BRI Super League 2026/2027, Laskar Mataram mencatatkan satu hasil imbang dan empat kekalahan.

PSIM selanjutnya dijadwalkan menjalani dua pertandingan tandang secara beruntun, menghadapi Bhayangkara FC pada 20 Oktober dan Isenmulang FC pada 24 Oktober. Dua laga itu menjadi kesempatan bagi PSIM untuk memperbaiki hasil sekaligus memburu kemenangan perdana musim ini. (iza/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Stadion Sultan Agung (SSA) BRI Super League PSM Makassar PSIM Jogja