AQUA DBL Dance Jadi Panggung Anak Muda Hidupkan Wastra Nusantara

Bahana. • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 14:06 WIB
SMK BPK Penabur
SMK BPK Penabur

Batik selama ini identik dengan pakaian formal. Namun, anggapan tersebut perlahan mendapat wajah baru di tangan generasi muda.

Melalui panggung AQUA DBL Dance 2026, kain tradisional Indonesia, termasuk batik, dipadukan dengan modern dance, musik, koreografi, hingga berbagai properti. Wastra Nusantara tak lagi sekadar menjadi busana, tetapi ikut menjadi bagian dari cerita yang dibawakan para pelajar.

Momentum tersebut terasa semakin relevan bertepatan dengan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober. Peringatan itu tidak hanya menjadi pengingat tentang warisan budaya, tetapi juga tentang bagaimana batik dan kain tradisional Indonesia tetap dapat hidup serta relevan di tengah perubahan zaman.

Tahun ini, AQUA DBL Dance mengusung tema “100% Indonesia”. Tema tersebut memberikan ruang bagi para pelajar untuk menerjemahkan keberagaman Nusantara melalui kreativitas masing-masing.

Hasilnya terlihat di berbagai kota penyelenggaraan DBL. Di 31 kota yang tersebar di 22 provinsi, sejumlah tim dance memilih memasukkan wastra Nusantara ke dalam kostum maupun konsep pertunjukan mereka.

Baca Juga: Tiga Konsep Unik, Budaya Indonesia Hidup di Panggung AQUA DBL Dance 2026 Jogja

Salah satu contohnya datang dari tim dance SDOB (Sixers Dance One Blood) dari SMAN 6 Surabaya.

Batik menjadi bagian penting dalam konsep yang mereka tampilkan. Tidak hanya digunakan sebagai kostum, kain tradisional tersebut juga diolah menjadi bagian dari properti, koreografi, hingga keseluruhan visual pertunjukan.

“Kami ingin membawa batik dari image-nya tradisional itu ke arah modern. Harapannya batik tidak hanya diakui UNESCO, tapi batik itu bisa kayak mendunia,” ujar Keisha Bella Valencia Irawan, salah satu dancer SDOB.

Bagi SDOB, proses kreatif tidak berhenti pada memilih motif batik. Mereka membeli kain secara bersama-sama, kemudian mengolahnya dengan menjahit dan menempelkannya pada kostum.

Sejumlah properti juga dibuat sendiri untuk memperkuat konsep. Dengan demikian, para dancer tidak sekadar mengenakan batik, tetapi ikut terlibat dalam proses mengubah kain tradisional tersebut menjadi bagian dari karya pertunjukan.

Semangat serupa ditunjukkan Xtrada dari SMAN 2 Jombang. Tim dance tersebut melihat perkembangan teknologi dan tren modern sebagai tantangan sekaligus peluang untuk memperkenalkan kembali budaya tradisional kepada generasi muda.

“Di era digital yang penyebaran informasi bisa masif dan datang dari mana saja, banyak yang lupa dengan budayanya sendiri. Padahal harusnya budaya tradisional dan modern itu tak harus berlawanan. Malah bisa di-blend,” ujar Alisha Nathania Putri atau Lisha, kapten Xtrada.

Xtrada menghadirkan karakter pembatik dalam pertunjukannya. Kostum yang digunakan memadukan kebaya dan kain batik dengan sentuhan modern.

Tak berhenti di busana, mereka juga memasukkan musik tradisional Bali dan Jawa Tengah ke dalam koreografi. Perpaduan tersebut menjadi cara Xtrada menunjukkan bahwa budaya tradisional tidak harus dikemas secara kaku agar dapat diterima anak muda.

Eksplorasi wastra juga terlihat di panggung AQUA DBL Dance 2026 D.I. Yogyakarta. Tim dance SMAN 1 Yogyakarta menghadirkan pertunjukan yang sarat unsur budaya melalui gerakan yang anggun dan simbolik.

Mereka menginterpretasikan sejumlah motif batik melalui koreografi. Motif Parang dibawa sebagai simbol semangat untuk terus maju dan pantang menyerah.

Sementara motif Kawung menggambarkan keseimbangan dan keteguhan hati. Adapun Mega Mendung diterjemahkan melalui pesan tentang ketenangan serta kemampuan mengendalikan diri.

Baca Juga: Pilur Bantul Berlangsung Kondusif, Bupati Minta Kandidat dan Pendukung Jaga Rekonsiliasi

Pertunjukan kemudian mencapai puncaknya ketika sosok burung merak hadir dengan bentangan bulu yang lebar.

Kehadiran burung merak tersebut menjadi visualisasi keberanian untuk menunjukkan jati diri sekaligus menggambarkan keindahan keberagaman Indonesia.

Eksplorasi budaya melalui batik juga datang dari sejumlah tim di DBL seri Jawa Barat. SMAN 2 Bandung, SMA BPK Penabur Singgasana, dan SMA Taruna Bakti membawa cerita masing-masing.

Ada yang mengangkat keberanian menemukan jati diri, perjalanan batik untuk dikenal di tingkat internasional, hingga petualangan menjelajahi kekayaan budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Meski memiliki konsep berbeda, ketiga tim tersebut membawa pesan yang serupa. Indonesia memiliki begitu banyak cerita yang dapat dirayakan melalui kreativitas anak muda.

Semangat tersebut menunjukkan bahwa generasi muda tidak selalu ingin menjaga budaya dengan cara yang sama seperti generasi sebelumnya.

Mereka ingin mengenalnya melalui pengalaman sendiri, menggunakannya, mengolahnya, lalu memperkenalkannya kembali kepada publik dengan bahasa mereka.

Dari Jakarta, SMA Perguruan Rakyat 2 juga membawa proses membatik ke dalam rangkaian koreografinya.

Nuansa budaya semakin kuat ketika mereka memasukkan sejumlah kesenian tradisional, termasuk kuda lumping, ke dalam pertunjukan.

Namun, unsur tradisional tersebut tidak ditampilkan secara mentah. Para dancer menggabungkannya dengan koreografi modern sehingga konsep budaya yang diangkat terasa lebih dekat dengan karakter penonton dan generasi masa kini.

Eksplorasi serupa juga datang dari SMA Xaverius 1 Palembang melalui tim The Reverie.

Mengusung tema “Kartini: Woman Empire”, mereka mengangkat perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan gender serta hak perempuan untuk berkembang dan berprestasi.

Batik menjadi salah satu elemen utama dalam kostum dan visual pertunjukan. Kehadirannya memperkuat pesan bahwa nilai perjuangan perempuan dapat terus disampaikan dengan tetap berpijak pada identitas budaya Nusantara.

Baca Juga: Apresiasi Sinergitas TNI dan Peran Aktif Tokoh Masyarakat Wujudkan Situasi Kondusif di Papua

Marketing Director AQUA Adisti Nirmala mengatakan, budaya akan terus hidup ketika generasi muda merasa dekat dan bangga terhadap warisan tersebut.

“AQUA percaya bahwa budaya akan tetap hidup ketika generasi muda merasa dekat dan bangga terhadapnya. AQUA DBL Dance 2026 menghadirkan ruang ‘adem’ bagi pelajar untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus merayakan kekayaan budaya Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, kreativitas peserta dalam mengangkat wastra Nusantara menunjukkan bahwa warisan budaya Indonesia tetap relevan, dapat dinikmati, sekaligus menginspirasi lintas generasi.

Panggung AQUA DBL Dance 2026 akhirnya menunjukkan satu hal penting: melestarikan budaya tidak selalu berarti mempertahankannya dalam bentuk yang sama.

Batik dan wastra Nusantara justru bisa terus hidup ketika diberi ruang untuk berkembang. Di tangan para pelajar, kain tradisional dapat berubah menjadi kostum panggung, properti, simbol cerita, hingga bagian dari koreografi.

Baca Juga: Musim Hujan Mundur Ekstrem, Indonesia Bersiap Hadapi Super El Niño

Dengan cara tersebut, warisan budaya tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Ia menjadi bagian dari ekspresi generasi baru—dikenakan, dimainkan, ditafsirkan, dan diperkenalkan kembali kepada publik dengan cara yang lebih dekat dengan zamannya.

AQUA DBL Dance merupakan bagian dari Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027. Pada musim 2026-2027, AQUA DBL Dance mengusung tema “100% Indonesia”, yang memberikan ruang bagi pelajar untuk mengeksplorasi keberagaman budaya Nusantara melalui dance dan kreativitas pertunjukan.

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 digelar di 31 kota yang berada di 22 provinsi Indonesia, dengan berbagai program yang melibatkan student-athlete dan generasi muda dalam ekosistem DBL.

Editor : Bahana.
AQUA DBL Dance 2026 budaya indonesia DBL Indonesia Batik Wastra Nusantara