Budaya Indonesia kembali menjadi sumber inspirasi para dancer dalam ajang AQUA DBL Dance 2026 D.I. Yogyakarta. Kekayaan tradisi, keberagaman identitas, hingga cerita mitologi Nusantara diterjemahkan ke dalam koreografi dengan karakter yang berbeda-beda.
Bukan sekadar mengejar penampilan atraktif, para peserta juga berusaha menyampaikan pesan tentang Indonesia melalui konsep yang mereka persiapkan. Setiap gerakan, kostum, hingga properti menjadi bagian dari cerita yang ingin disampaikan kepada penonton.
Tiga penampilan menarik datang dari SMA Olifant Yogyakarta dan SMAN 2 Yogyakarta. SMA Olifant menghadirkan perpaduan budaya Papua, Hip-Hop Indonesia, dan Batik Nusantara. Sementara tim Smadance SMAN 2 Yogyakarta mengangkat jamu tradisional.
Tim putri SMA Olifant kembali menawarkan konsep berbeda. Mereka mengangkat kisah Betari Nagagini, sosok dewi naga dalam mitologi Nusantara yang dikaitkan dengan kekuatan bumi dan keseimbangan alam.
Ketiganya memperlihatkan bagaimana satu tema besar tentang Indonesia dapat diterjemahkan melalui perspektif yang beragam.
Tim dance SMA Olifant Yogyakarta membawa tema “Puteri Indonesia: Berbeda Pesona, Satu Indonesia. 100% Indonesia.”
Pertunjukan tersebut menghadirkan tiga sosok putri dengan latar budaya dan karakter berbeda. Masing-masing membawa identitas Indonesia melalui unsur budaya Papua, Hip-Hop Indonesia, dan Batik Nusantara.
Pada bagian awal, ketiga karakter tampil dengan ciri khas masing-masing. Perbedaan itu kemudian secara perlahan dipertemukan melalui koreografi bersama.
Baca Juga: Pilur Bantul Berlangsung Kondusif, Bupati Minta Kandidat dan Pendukung Jaga Rekonsiliasi
Perubahan tersebut menjadi simbol bahwa keberagaman budaya tidak harus menjadi sekat. Sebaliknya, berbagai identitas dapat berjalan berdampingan dan menjadi kekuatan dalam satu kesatuan Indonesia.
Melalui konsep tersebut, SMA Olifant ingin menunjukkan bahwa setiap budaya memiliki ruang untuk tampil dan saling melengkapi.
Pesan keberagaman menjadi semakin kuat ketika ketiga karakter akhirnya menyatu dalam satu koreografi. Perbedaan yang semula terlihat jelas justru menjadi bagian penting dari keseluruhan pertunjukan.
Berbeda dari SMA Olifant, tim Smadance dari SMAN 2 Yogyakarta memilih sesuatu yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia: jamu tradisional.
Jamu merupakan bagian dari warisan pengetahuan tradisional Indonesia yang memanfaatkan berbagai bahan alami. Beragam jenis jamu, seperti beras kencur, kunyit asam, hingga brotowali, telah lama dikenal dalam kehidupan masyarakat.
Konsep tersebut kemudian diterjemahkan Smadance melalui koreografi yang atraktif. Salah satu karakter yang menjadi sorotan adalah Mbok Jamu, sosok perempuan yang identik dengan pakaian tradisional dan tenggok berisi botol-botol jamu.
Kehadiran karakter tersebut membawa nuansa kehidupan masyarakat tradisional ke atas panggung. Gerakan para dancer juga dibuat ekspresif untuk menggambarkan tradisi dan nilai yang melekat pada jamu.
Melalui pertunjukan itu, Smadance ingin mengingatkan bahwa jamu bukan hanya minuman tradisional. Di dalamnya terdapat pengetahuan, kebiasaan, dan warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Masih dari SMA Olifant Yogyakarta, tim putri memilih konsep yang berbeda melalui kisah Betari Nagagini.
Sosok Nagagini digambarkan sebagai dewi naga yang memiliki keterkaitan dengan kekuatan bumi. Cerita tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam koreografi yang menggambarkan gerakan naga sekaligus dinamika energi alam.
Pertunjukan dibuka dengan gerakan perlahan dan meliuk. Gerakan tersebut menggambarkan tubuh naga yang bergerak di antara bebatuan.
Tempo kemudian meningkat. Gerakan para dancer menjadi semakin kuat dan dinamis, menggambarkan gejolak energi bumi hingga aktivitas tektonik.
Baca Juga: Apresiasi Sinergitas TNI dan Peran Aktif Tokoh Masyarakat Wujudkan Situasi Kondusif di Papua
Selendang yang digunakan dalam koreografi turut memperkuat visual pertunjukan. Properti tersebut dimanfaatkan untuk menggambarkan aliran energi dan kekuatan alam yang menjadi bagian dari kisah Nagagini.
Pada bagian akhir, tempo kembali melambat. Sosok Nagagini seolah kembali ke dalam keheningan bumi melalui rangkaian gerakan yang lebih tenang.
Pertunjukan tersebut menjadi contoh bagaimana cerita mitologi Nusantara dapat dikemas dalam bentuk pertunjukan modern tanpa kehilangan akar cerita yang menjadi inspirasinya.
Tiga penampilan tersebut sekaligus memperlihatkan kreativitas generasi muda dalam memperkenalkan kembali kekayaan Indonesia.
Keberagaman budaya, jamu tradisional, hingga mitologi Nusantara tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Di tangan para dancer AQUA DBL Dance 2026 D.I. Yogyakarta, semuanya diolah menjadi pertunjukan yang lebih dekat dengan generasi masa kini.
Pada akhirnya, panggung dance bukan hanya menjadi tempat menunjukkan kemampuan koreografi. Ia juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk merawat, mengenalkan, sekaligus memberi wajah baru bagi budaya Indonesia.
Editor : Bahana.