RADAR JOGJA – Tonggo Perdana memulai babak baru dalam karier kepelatihannya bersama tim putri SMA Olifant Yogyakarta. Pada Honda DBL with Kopi Good Day 2026 D.I. Yogyakarta, ia dipercaya menangani skuad yang berstatus sebagai juara bertahan.
Bergabungnya Tonggo sekaligus membawa warna baru bagi permainan Olifant. Sebelumnya, ia menangani tim basket putra SMAN 3 Yogyakarta atau Padmanaba sejak 2023. Musim ini, Tonggo memilih melanjutkan kiprahnya bersama Olifant dengan tantangan mempertahankan pencapaian yang sudah diraih tim tersebut.
Laga perdana bersama Olifant berlangsung Sabtu (26/9). Berhadapan dengan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta, Olifant tampil dominan dan mengamankan kemenangan 32-11.
Namun, hasil tersebut belum membuat Tonggo menganggap proses adaptasi telah selesai. Ia masih harus mengenali karakter pemain, kebiasaan tim, sekaligus menerapkan sistem permainan yang sesuai dengan prinsip kepelatihannya.
Baca Juga: Cinta Laura Bakal Hadir di Kupang, Siap Ramaikan Flobamorata Creative Expo 2026
“Jelas butuh waktu karena tempat baru, orang baru, dan kebiasaan baru jadi butuh adaptasi. Sampai detik ini pun masih adaptasi,” ujar Tonggo.
Bawa Pengalaman dari Level Perguruan Tinggi
Tonggo bukan hanya memiliki pengalaman menangani tim basket tingkat sekolah. Ia juga pernah melatih tim di level perguruan tinggi.
Pengalaman tersebut menjadi bekal ketika harus membangun sistem di Olifant. Menurutnya, terdapat perbedaan karakter dalam menangani pemain SMA dan mahasiswa.
Pemain SMA dinilai masih membutuhkan pendekatan yang lebih personal. Sementara pemain perguruan tinggi cenderung memiliki pola pikir yang lebih matang karena berada pada fase usia yang berbeda.
“Kalau anak SMA lebih ke personal. Anak kuliah beda POV (point of view) karena kalau mereka sudah lebih dewasa,” jelasnya.
Proses membangun sistem baru di Olifant juga dilakukan secara bertahap. Dalam persiapan menuju Honda DBL with Kopi Good Day 2026 D.I. Yogyakarta, tim berlatih tiga kali dalam sepekan.
Ketika kompetisi semakin dekat, frekuensi latihan ditingkatkan menjadi lima kali setiap minggu. Peningkatan tersebut dilakukan agar pemain semakin terbiasa dengan sistem yang dibawa Tonggo.
Ia ingin para pemain tidak terlena dengan status juara bertahan. Sebaliknya, pencapaian musim sebelumnya harus menjadi motivasi untuk terus berkembang dan berani keluar dari zona nyaman.
Bagi Tonggo, mempertahankan gelar justru bisa menjadi tantangan yang lebih berat dibandingkan saat mengejarnya. Perkembangan basket yang semakin cepat membuat setiap tim harus terus memperbarui cara bermain.
“Yang jelas mempertahankan pasti akan lebih berat daripada mengejar. Apalagi basket modern update terus perkembangannya,” tegas Tonggo.
Baca Juga: Kronologi Laka Maut di Bukit Fatimah Larantuka, Mobil Bawa 7 Orang Masuk Jurang, 2 Meninggal Dunia
Menang Besar, Tonggo Belum Puas
Kemenangan pada pertandingan pembuka memang menjadi modal positif. Namun, Tonggo masih menemukan sejumlah pekerjaan rumah yang harus segera diperbaiki.
Olifant sempat tampil sangat dominan pada paruh pertama. Mereka bahkan mencatatkan 22 poin beruntun tanpa balasan.
Situasi berubah setelah jeda. Pada kuarter ketiga, Olifant hanya mampu menambah dua angka. Memasuki kuarter terakhir, Stella Duce 1 Yogyakarta mampu mengimbangi perolehan poin dengan skor 8-8.
Penurunan performa tersebut menjadi perhatian Tonggo. Ia ingin pemain mampu mempertahankan standar permainan sepanjang pertandingan, bukan hanya ketika menghadapi lawan tertentu.
“Tingkat kepuasan baru 40 persen, karena di kuarter ketiga dan keempat menurut saya kita bermain di bawah standar kita. Karena saya mau menanamkan ke pemain untuk harus selalu bermain di standar yang kita miliki mau siapa pun lawan kita,” ungkapnya.
Bagi Tonggo, keberhasilan Olifant musim ini tidak hanya diukur dari kemampuan mempertahankan gelar. Ia juga ingin melihat perkembangan setiap pemain selama berada dalam program latihannya.
Para pemain didorong untuk terus belajar, mengembangkan kemampuan, dan tidak cepat puas terhadap pencapaian yang sudah dimiliki.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari proses yang ingin dibangun Tonggo bersama skuad putri Olifant.
Baca Juga: Empat Cerita Indonesia Hadir dalam AQUA DBL Dance 2026 D.I. Yogyakarta
“Jangan pernah berpuas diri. Di atas langit masih ada langit dan selalu menjadi anak yang rendah hati,” tutup Tonggo.
Putri Olifant selanjutnya dijadwalkan kembali bertanding pada 30 September 2026. Mereka akan menghadapi SMA Santa Maria Yogyakarta.
Laga tersebut menjadi kesempatan berikutnya bagi Olifant untuk menguji sistem permainan yang sedang dibangun sekaligus menentukan langkah mereka dalam persaingan menuju babak Playoffs Honda DBL with Kopi Good Day 2026 D.I. Yogyakarta.
Editor : Bahana.