RADAR JOGJA - Dukungan suporter menjadi salah satu kekuatan penting PSIM Jogja dalam menghadapi kompetisi BRI Super League 2026/2027 mendatang. Namun bagi manajemen Laskar Mataram, kehadiran suporter di stadion bukan semata-mata untuk menciptakan atmosfer pertandingan.
Lebih dari itu, jumlah penonton yang hadir langsung ke stadion memiliki kaitan dengan kekuatan finansial klub. Hal ini menjadi semakin penting setelah PSIM harus mengeluarkan anggaran besar untuk memenuhi berbagai kebutuhan kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Direktur Utama PSIM Liana Tasno menjelaskan, manajemen harus menyeimbangkan berbagai kebutuhan klub. Mulai dari operasional tim, pemenuhan regulasi kompetisi, pengembangan pemain muda, hingga kebutuhan penambahan pemain apabila diperlukan pada paruh musim.
Baca Juga: Dari Adaptasi hingga Ban Kapten, Babak Baru Franco Ramos Mingo Bersama PSIM Jogja di Musim Kedua
Karena itu, kehadiran suporter di stadion menjadi salah satu faktor yang turut menopang kondisi finansial klub. "Kita punya basis suporter, kami harap mereka bisa memenuhi stadion. Jadi kan ada budget yang tersedia untuk manajemen. Itu saya harus seimbangkan, sebagai leader PSIM itu harus saya seimbangkan," kata Liana, Senin (11/8).
Liana sebelumnya juga menjelaskan, manajemen idealnya memiliki ruang anggaran tersendiri untuk melakukan penambahan pemain pada bursa transfer paruh musim. Namun kemampuan itu tidak bisa dilepaskan dari kalkulasi finansial klub secara keseluruhan.
Menurutnya, PSIM tidak boleh menghabiskan seluruh anggaran pada awal musim. Sebab, perjalanan kompetisi sangat panjang dan bisa memunculkan kebutuhan baru di tengah musim, termasuk apabila ada pemain yang dinilai tidak sesuai kebutuhan tim. "Kalau bicara ideal, ya idealnya memang begitu, di putaran kedua ada budget spare sendiri,” ujarnya.
Karena itu, Liana meminta suporter ikut memberikan kontribusi nyata dengan memenuhi stadion ketika PSIM menjalani pertandingan kandang. Menurutnya, dukungan itu tidak hanya memberikan energi tambahan bagi pemain di lapangan, tetapi juga membantu klub menjaga ruang finansial untuk kebutuhan tim.
"Tolong suporter penuhi lapangannya PSIM. Karena itu kontribusi banget untuk nanti kita di paruh musim, untuk kita beli pemain baru,” tegasnya.
Baca Juga: Laga Perdana PSIM Jogja di Super League Bertepatan HUT ke-97, Manajemen Siapkan Experience Khusus
Kebutuhan finansial PSIM musim ini memang tidak hanya berkaitan dengan perekrutan pemain. Klub juga harus memenuhi sejumlah standar infrastruktur yang ditetapkan dalam kompetisi.
Salah satunya berkaitan dengan pencahayaan stadion untuk memenuhi standar lux yang dibutuhkan dalam kepentingan siaran pertandingan. PSIM juga mengeluarkan anggaran untuk kebutuhan single seat di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul yang menjadi venue kandang klub.
Liana mengungkapkan, investasi untuk kebutuhan infrastruktur telah mencapai angka miliaran rupiah. Menurutnya, pengeluaran tersebut menjadi konsekuensi yang harus dipenuhi agar PSIM dapat menjalani kompetisi sesuai regulasi dan terhindar dari sanksi.
Di tengah kebutuhan itu, manajemen juga tetap berupaya membangun fondasi klub dalam jangka panjang melalui pengembangan pemain muda. Liana menegaskan PSIM tidak ingin hanya mengandalkan belanja pemain setiap musim, tetapi juga menyiapkan jalur regenerasi dari akademi menuju tim utama.
Karena itu, dukungan suporter menjadi bagian penting dari ekosistem klub. Semakin besar dukungan yang hadir di stadion, semakin besar pula peluang PSIM memiliki ruang finansial untuk memenuhi kebutuhan tim sepanjang musim.
Baca Juga: PSIM Jogja Panasi Lampu Baru SSA Bantul
Musim 2026/2027 akan menjadi musim kedua PSIM di kasta tertinggi setelah promosi. Dengan kebutuhan klub yang semakin besar, manajemen berharap hubungan antara tim dan suporter tidak berhenti pada dukungan moral di tribun, tetapi juga menjadi bagian dari keberlangsungan PSIM di Liga 1.
"Kita semua di sini kerja keras sama-sama. Di sini enggak ada punya niat buruk atau apa-apa, ini cuma buat benar-benar DIJ," tutur Liana. (iza/laz)
Sumber : Radar Jogja