Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tak Mau Campuri Ranah Teknis Pelatih, Dirut PSIM Jogja Yuliana Tasno Andalkan Profesionalisme Tim Kepelatihan

Fahmi Fahriza • Jumat, 3 Juli 2026 | 19:52 WIB
Yuliana Tasno, Direktur Utama PSIM Jogja.
Yuliana Tasno, Direktur Utama PSIM Jogja.

 

JOGJA - Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno mengungkapkan perihal filosofi kepemimpinannya dalam mengelola klub berjuluk Laskar Mataram. Setelah menyelesaikan kompetisi BRI Super League 2025/2026 dan menjelang bergulirnya BRI Super League 2026/2027, ia menegaskan dirinya tidak terlalu mencampuri urusan teknis tim, dan memberikan kepercayaan penuh kepada jajaran pelatih.


PSIM saat ini memang tengah bersiap menjalani musim kedua di kasta tertinggi sepak bola Indonesia setelah sukses promosi sebagai juara Pegadaian Championship atau Liga 2 musim 2024/2025.  Pada musim perdananya di BRI Super League 2025/2026, Laskar Mataram mampu bertahan di kompetisi kasta tertinggi. Manajemen pun mempertahankan pelatih asal Belanda, Jean Paul van Gastel untuk melanjutkan proyek pembangunan tim pada musim 2026/2027.

Baca Juga: Van Gastel Ungkap Alasan Betah di Indonesia, dari Pekerjaan hingga Pesona Asia


Ci Liana, sapaan akrabnya mengatakan, dirinya memiliki pendekatan kepemimpinan yang berbeda dibanding sebagian pimpinan klub lain. Menurutnya, seorang direktur utama tidak perlu terlalu jauh mengintervensi keputusan teknis yang sudah menjadi tanggung jawab pelatih.


"Saya enggak terlalu berani frontal. Sebagai presdir di sepak bola beda dengan yang saya perhatikan presdir-presdir lain. Saya melihat mereka involved dan berani nyebur. Mungkin karena gendernya ya, laki-laki mungkin mereka berani direct," ujar Liana, Jumat (3/7).
Ia mengibaratkan pelatih adalah sebagai seorang koki yang sudah memahami racikan terbaik untuk timnya. Karena itu, ia memilih menjaga batas antara fungsi manajemen dan kewenangan staf pelatih.

Baca Juga: Riyatno Abiyoso Tak Ingin Berpuas Diri, Siap Maksimalkan Peluang Bersama PSIM Jogja di Musim Depan


"Kalau misalnya saya direct, nanti malah tidak pas, ini kan sudah ada chef-nya. Chef sudah atur takaran tepungnya sekian, gulanya sekian. Terus saya masuk, marah-marah untuk mengubah itu. Saya takut malah jadi berantakan," ujarnya menganalogikan.


Meski demikian, Liana mengaku tetap turun tangan apabila situasi benar-benar dinilai genting. Salah satu momen yang masih diingatnya terjadi ketika PSIM menjalani laga tandang di Subang saat kompetisi Liga 2 beberapa tahun silam. 

Baca Juga: Cedera Pangkas Kiprah Anton Fase, PSIM Jogja Resmi Akhiri Kontrak Kerja Sama


Saat itu ia mengumpulkan seluruh elemen tim untuk memberikan evaluasi secara langsung. "Waktu itu saya sempat marah, saya kumpulkan coach sampai kitman, semua harus ada di ruangan. Tapi saya juga bukan marah seperti ke manajemen. Cara komunikasinya tetap beda," ucapnya.

Namun secara umum, Liana mengaku lebih memilih memberikan dukungan moral kepada pemain daripada menunjukkan kemarahannya. Menurut Liana, pembagian peran yang jelas antara manajemen dan tim pelatih menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun profesionalisme di PSIM.

Baca Juga: Semusim di PSIM Jogja Bermasalah dengan Cedera hingga Sempat Bela EPA, Andy Setyo Nugroho Pamit


Dengan struktur organisasi yang kini semakin lengkap dan keberlanjutan proyek bersama Jean Paul van Gastel, ia berharap tim dapat terus berkembang dan tampil lebih kompetitif pada musim kedua di BRI Super League 2026/2027.


"Belum pernah sih saya benar-benar marah banget. Kalau ke first team justru sifatnya lebih encourage mereka," tuturnya. (iza/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Direktur Utama PSIM Jogja #BRI Super League 2026/2027 #Jean Paul van Gastel #Yuliana Tasno #PSIM Jogja