JOGJA - Bek Laskar Mataram Yusaku Yamadera menghadirkan pengalaman berbeda bagi pemain muda PSIM di Elite Pro Academy (EPA) U-16.
Ia membelikan tiket dan mengajak mereka menyaksikan langsung pertandingan di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul.
Ini terinspirasi dari sistem pembinaan yang ia jalani di Jepang.
Baca Juga: DPRD Kota Jogja Akan Bahas Revisi Perda KTR Mulai Juni, Pembeli Rokok Minimal Berusia 21 Tahun
Inisiatif tersebut diwujudkan saat laga antara PSIM Jogja melawan Persita Tangerang, 30 April 2026 lalu.
Dalam pertandingan itu, Yusaku membelikan tiket bagi sekitar 25 hingga 30 pemain EPA PSIM U-16 agar bisa merasakan atmosfer stadion secara langsung.
Pemain asal Jepang ini mengungkapkan, langkah itu berangkat dari pengalamannya saat menimba ilmu di akademi J.League.
Baca Juga: DPUPKP Bantul Akan Perbaiki Lima Jembatan yang Rusak, saat Ini Masih Dalam Proses Lelang
Ia menilai, di Jepang kesempatan menonton pertandingan bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari proses pembelajaran pemain muda.
"Biasanya pemain akademi J-League mendapat tiket dari klub, tetapi mereka harus membersihkan stadion sebelum pertandingan dimulai," ujar Yusaku, Selasa (12/5).
Ia menambahkan, keterlibatan langsung dalam atmosfer pertandingan memberikan dampak besar bagi perkembangan pemain muda, baik dari sisi mental maupun pemahaman permainan.
"Kadang saya juga menjadi ball boy di stadion. Itu pengalaman yang sangat baik untuk karier saya karena bisa melihat langsung pemain profesional dan belajar bagaimana mereka bermain," katanya.
Berangkat dari pengalaman itu, Yusaku merasa penting menghadirkan kesempatan serupa bagi pemain muda di PSIM Jogja.
Ia mengaku tergerak setelah mengetahui bahwa pemain akademi harus membeli tiket sendiri untuk menonton pertandingan tim senior.
"Saya mendengar kalau mereka ingin menonton pertandingan, mereka harus beli tiket sendiri.
Menurut saya itu kurang baik, jadi saya menyediakan tiket untuk mereka," tegasnya.
Baca Juga: Dugaan Pelecehan Berujung Pembunuhan, Pria di Magelang Hajar Rekan Kerja Tunangan hingga Tewas
Langkah ini sekaligus menyoroti perbedaan pendekatan pembinaan usia muda antara Jepang dan Indonesia.
Jika di Jepang pengalaman menonton pertandingan menjadi bagian dari sistem yang terstruktur, di Indonesia praktik itu masih belum menjadi kebiasaan.
Secara pribadi, Yusaku berharap inisiatif ini tidak berhenti sebagai aksi satu kali, tetapi bisa berlanjut ke depan.
"Musim ini tim EPA sudah menyelesaikan kompetisi, jadi mungkin musim depan.
Kalau saya punya kesempatan, saya akan melakukannya lagi," ujarnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun