JOGJA - Pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel menyambut positif keberhasilan PSS Sleman promosi ke BRI Super League musim depan. Ia menilai kembalinya rival se-provinsi ini akan menghidupkan kembali Derby DIY yang telah lama absen di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Rivalitas antara PSIM dan PSS dikenal sebagai salah satu yang paling intens di Indonesia. Ditandai tensi tinggi di lapangan serta dukungan fanatik dari kedua kelompok suporter. Namun dalam beberapa tahun terakhir, pertemuan resmi kedua tim terbilang jarang terjadi karena berlaga di divisi yang berbeda.
Dari data yang ada, terakhir kali kedua tim bertemu terjadi pada kompetisi Liga 2 tahun 2018. Saat itu, PSS menang telak 4-0 pada 10 Oktober 2018, sementara pada pertemuan sebelumnya, 26 Juli 2018, PSIM meraih kemenangan tipis 1-0. Sejak saat itu, duel resmi keduanya praktis menghilang dari kalender kompetisi nasional.
Baca Juga: Pemutihan Akumulasi Kartu Kuning di Final Championship, PSS Sleman Dipastikan Tampil Full Team
Sejak 2018, kedua tim belum bertemu lagi di kompetisi resmi karena PSS promosi ke Liga 1, sementara PSIM tetap di Liga 2. Selanjutnya pada musim kompetisi 2024/2025, PSIM promosi ke kasta tertinggi dan PSS justru terdegradasi. Musim depan, kedua tim sama-sama bermain di kasta tertinggi, dan derby ini akan kembali terjadi.
Van Gastel mengaku antusias menyambut potensi kembalinya laga sarat gengsi itu di musim depan. "Saya pikir musim depan akan menjadi derby yang indah lagi setelah sekian lama. Saya sudah menantikan pertandingan-pertandingan tersebut," ungkapnya, Selasa (5/5).
Menariknya, antusiasme Van Gastel juga dipengaruhi oleh kedekatan personalnya dengan sosok di tubuh PSS saat ini. Ia menyebut Direktur Teknik PSS Pieter Huistra sebagai kolega sesama Belanda yang memiliki hubungan profesional dengannya.
Dari kabar yang beredar, Huistra sendiri disebut berpeluang kembali menangani PSS sebagai pelatih pada musim depan. "Sangat menyenangkan kolega saya, sesama orang Belanda, menjadi direktur teknik mereka dan mereka berhasil promosi," bebernya.
Di sisi lain, kondisi PSIM saat ini juga memberi dimensi tersendiri bagi potensi derby itu. Dari total 18 tim peserta, PSIM kini berada di peringkat ke-11 klasemen sementara dengan koleksi 39 poin dan telah memastikan diri aman dari degradasi. Meski begitu, performa mereka tengah menurun setelah tidak meraih kemenangan dalam delapan pertandingan terakhir.
Situasi ini membuat Derby DIY musim depan berpotensi menjadi lebih dari sekadar ajang rivalitas. Tetapi juga momentum pembuktian bagi kedua tim, khususnya PSIM yang ingin kembali menemukan konsistensi permainan.
Dengan sejarah panjang, tensi tinggi, serta jeda waktu yang cukup lama sejak pertemuan terakhir, kembalinya duel PSIM kontra PSS di kasta tertinggi diprediksi akan menjadi salah satu laga paling dinantikan di musim depan. "Bagi para pendukung di wilayah sekitar Jogja, ini sangat bagus bahwa kedua tim telah kembali," ulasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun