Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kiper PSIM Jogja Cahya Supriadi Soroti Wacana Penghapusan Regulasi Pemain U-23 di Musim Depan

Fahmi Fahriza • Minggu, 3 Mei 2026 | 20:30 WIB

 

Kiper PSIM Jogja Cahya Supriadi. Dok. PSIM Jogja 
Kiper PSIM Jogja Cahya Supriadi. Dok. PSIM Jogja 

JOGJA - Regulasi pemain U-23 di BRI Super League musim 2025/2026 masih tetap diberlakukan.

Aturan itu mewajibkan setiap klub mendaftarkan minimal lima pemain muda kelahiran tahun 2003 atau setelahnya, serta memainkan setidaknya satu pemain U-23 Indonesia sebagai starter dengan durasi minimal 45 menit di setiap pertandingan.

Baca Juga: Fenomena SD Kosong vs Sekolah Favorit di Jogja Membeludak, Pengamat Pendidikan Soroti Akar Masalahnya

Secara garis besar, kebijakan ini dirancang untuk mendukung proses regenerasi pemain, khususnya dalam menyuplai kebutuhan Tim Nasional Indonesia di kelompok usia muda. 

Di tengah kompetisi yang semakin kompetitif, kehadiran regulasi ini dinilai menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan pemain muda tetap mendapatkan menit bermain.

Namun, memasuki musim kompetisi 2026/2027, muncul wacana regulasi tersebut akan dihapuskan.

 Hingga saat ini, operator liga, ILeague, memang belum mengeluarkan keputusan resmi. Meski demikian, isu ini sudah beredar luas di kalangan pemain.

Baca Juga: Partai Ummat Konsolidasi Nasional di Sleman, Targetkan Menang Pemilu 2029 dan Gunakan Teknologi AI

Kiper PSIM Cahya Supriadi menjadi salah satu pemain yang turut menanggapi wacana itu. Penjaga gawang kelahiran Karawang, 11 Februari 2003 ini mengaku memiliki perspektif berbeda.

Terutama karena dirinya tak lagi masuk kategori U-23 pada musim depan.

Ia memahami, secara pribadi tidak akan terdampak langsung, tetapi menilai kebijakan tersebut berpotensi menghambat perkembangan pemain muda lainnya. 

"Secara hitungan usia saya juga sudah lewat ya untuk kompetisi tahun depan, tidak lagi masuk U-23," katanya, Minggu (3/5).

Cahya menegaskan dirinya kini telah berusia 23 tahun, sehingga otomatis keluar dari kuota pemain U-23 di musim berikutnya.

"Karena saya baru saja berusia 23 tahun, dan musim depan saya juga tidak masuk kuota U-23 di tim karena umur saya sudah lewat," ungkapnya.

Meski demikian, ia justru menyoroti dampak yang lebih luas terhadap ekosistem pembinaan pemain muda di Indonesia.

Baca Juga: Dipastikan Bertemu PSS Sleman Dalam Perebutan Juara, Pembina Garudayaksa FC: Final Idaman!

 Menurutnya, regulasi itu selama ini menjadi jalur penting bagi pemain usia muda untuk mendapatkan pengalaman bertanding di level tertinggi.

"Disayangkan ketika tidak ada pemain U-23 yang didaftarkan, dan kita butuh bibit-bibit pemain mungkin untuk agenda Timnas Indonesia U-23 atau event-event selanjutnya," paparnya.

Wacana penghapusan regulasi U-23 ini pun berpotensi memunculkan perdebatan panjang.

 Di satu sisi klub menginginkan fleksibilitas dalam menyusun komposisi tim terbaik.

Baca Juga: Optimisme Gelandang PSIM Jogja Donny Warmerdam Diuji di Tengah Dominasi Persib Bandung dan Angkernya GBLA

 Namun di sisi lain, tanpa kewajiban regulasi, peluang bermain bagi pemain muda dikhawatirkan akan semakin terbatas.

Hingga kini keputusan resmi dari ILeague masih dinantikan, sementara suara dari para pemain seperti Cahya menjadi pengingat bahwa kebijakan kompetisi tidak hanya berdampak pada klub, tetapi juga masa depan sepak bola Indonesia.

 Cahya menilai keberadaan aturan ini juga menjadi fondasi penting bagi perkembangan individu pemain muda, baik dari sisi mental maupun kualitas permainan.

"Menurut saya regulasi U-23 ini juga penting untuk pemain muda bisa berkembang," bebernya. (iza/laz)

Editor : Herpri Kartun
#cahya supriadi #BRI Super League 2025 2026 #PSIM Jogja