JOGJA - Pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel tetap berpegang pada filosofi konsistensi dalam membangun tim.
Meski performa Laskar Mataram di putaran kedua BRI Super League 2025/2026 belum menunjukkan hasil optimal.
Setidaknya hingga pekan ke-29, PSIM masih tertahan di peringkat 10 klasemen sementara dengan 39 poin.
Dengan hanya lima pertandingan tersisa menuju akhir musim, tekanan untuk meraih hasil maksimal pun kian besar.
Baca Juga: 30 Investor dan 75 UMKM Unggulan Bakal Ramaikan CJIBF 2026
Situasi itu diperparah dengan tren performa yang belum stabil.
Dari 12 pertandingan di putaran kedua, PSIM baru meraih satu kemenangan, enam hasil imbang, dan menelan lima kekalahan.
Di tengah kondisi itu, Van Gastel justru menegaskan tidak akan mengubah pendekatannya secara drastis.
Khususnya dalam hal rotasi pemain di lapangan.
"Biasanya jika saya rotasi dan ubah posisi, itu karena alasan taktis untuk tim.
Atau karena kualitas yang kita butuhkan di pertandingan tertentu," ujarnya, Kamis (30/4).
Pelatih asal Belanda ini menekankan, perubahan dalam tim bukanlah sesuatu yang dilakukan secara reaktif.
Ia lebih memilih memberi waktu bagi pemain untuk beradaptasi dan menunjukkan performa dalam jangka panjang.
"Saat saya rotasi, biasanya itu jangka panjang. Saya memberi semua pemain untuk menunjukkan kemampuannya.
Jadi, saya tidak suka bongkar pasang pemain terus-menerus," tegasnya.
Pendekatan ini sejalan dengan metode latihan yang ia terapkan.
Van Gastel memastikan setiap sesi tetap relevan dengan kebutuhan pertandingan, termasuk dalam aspek fisik yang selalu dikombinasikan dengan penggunaan bola.
"Saya tipe pelatih yang tidak suka berlari tanpa bola.
Jadi biasanya latihan fisik saya selalu menggunakan bola," jelasnya.
Filosofi ini menempatkan konsistensi sebagai fondasi utama permainan PSIM.
Namun di sisi lain, dengan performa yang belum kunjung membaik, pendekatan minim rotasi juga menghadirkan tanda tanya.
Apakah stabilitas cukup untuk mengangkat hasil, atau justru membatasi fleksibilitas tim dalam merespons situasi pertandingan.
"Semua pertandingan di Indonesia ini pada dasarnya sulit.
Baca Juga: Beda Kultur, May Day di Kulon Progo Tanpa Aksi Hanya Tumpengan dan Hiburan Pekerja
Termasuk sisa laga di akhir-akhir kompetisi ini," tuturnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun