JOGJA - Minimnya jumlah penonton dalam laga kandang PSIM Jogja di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, kembali menjadi sorotan.
Pada pekan ke-27 kompetisi BRI Super League saat menghadapi PSM Makassar, Jumat (10/4) lalu, dari total 7.500 tiket yang disediakan, hanya 1.866 penonton yang hadir langsung di stadion.
Angka ini mempertegas bahwa kehadiran suporter PSIM sepanjang musim ini masih jauh dari kata optimal.
Baca Juga: Figo Dennis Optimistis PSS Bisa Kembali ke Kasta Tertinggi
Bahkan hingga memasuki pekan-pekan akhir kompetisi, hanya hitungan jari laga kandang yang benar-benar mencapai status sold out penjualan tiketnya.
Pelatih PSIM Jean Paul van Gastel turut memahami dan sadar akan situasi itu, terutama karena faktor waktu pertandingan yang kurang ideal.
"Pertandingan home sering digelar di hari kerja pukul 15.30.
Baca Juga: Dari Wakil ke Kapten Utama, Franco Ramos Mingo Solid Pimpin PSIM Jogja di Putaran Kedua
Jadi saya bisa paham kalau banyak orang sedang bekerja. Itu waktu yang sulit bagi suporter," katanya, Selasa (28/4).
Namun demikian, ia tetap menekankan bahwa kehadiran suporter memiliki peran penting dalam membangun atmosfer pertandingan dan motivasi pemain di lapangan.
"Sangat disayangkan saat stadion sepi, karena kami bermain untuk suporter.
Saya berharap di pertandingan selanjutnya ada lebih banyak yang datang ke stadion," harapnya.
Lebih jauh Van Gastel juga mengisyaratkan pentingnya dukungan langsung dari tribun bagi performa tim.
Menurutnya, dukungan dan atmosfer yang dihadirkan itu bisa memengaruhi psikologis dan mental bertanding para pemain di lapangan.
"Ketika stadion lebih ramai, itu selalu memberi energi tambahan bagi pemain.
Baca Juga: Musrenbang Jawa Tengah Terima 37 Ribu Usulan Senilai Rp37,8 Triliun
Dalam situasi sulit, dukungan seperti itu sangat penting untuk tim," ujarnya.
Sejak promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim ini, Laskar Mataram dituntut beradaptasi dengan kompetisi yang jauh lebih ketat.
Tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga aspek nonteknis seperti optimalisasi pemasukan dari tiket.
Baca Juga: Tak Terima Dituduh Pungli, Lurah Garongan Kulon Progo Laporkan Balik Warganya Atas Pencemaran Nama Baik
Secara akumulatif, sepanjang putaran pertama, PSIM mencatat total kehadiran penonton sebanyak 49.687 orang di laga kandang SSA.
Angka ini menunjukkan bahwa antusiasme suporter masih bersifat fluktuatif dan sangat bergantung pada konteks pertandingan.
Lonjakan jumlah penonton terlihat saat PSIM menghadapi tim-tim besar dengan basis suporter nasional yang kuat.
Laga melawan Persib Bandung tercatat dihadiri 8.725 penonton, disusul Arema FC 8.618 penonton, serta Borneo FC 8.068 penonton.
Sementara itu, pertandingan dengan daya tarik menengah mencatat angka yang lebih moderat, seperti saat menghadapi PSBS Biak 6.202 penonton, dan Semen Padang 5.540 penonton.
Di sisi lain, beberapa laga justru mencatatkan kehadiran yang relatif rendah.
Pertandingan melawan Dewa United hanya dihadiri 3.810 penonton, Persik Kediri 3.823 penonton, serta Bhayangkara FC dengan 4.901 penonton.
PSIM dijadwalkan kembali bermain di SSA pada pekan ke-30 menghadapi Persita Tangerang, Kamis (30/4) mendatang.
Pertandingan itu kembali akan berlangsung pada sore hari di hari kerja, kondisi yang berpotensi membuat jumlah kehadiran penonton belum mengalami peningkatan signifikan.
Dari sisi suporter, kendala ini diakui nyata.
Salah satu suporter PSIM Bima Mustofa menyebut jadwal pertandingan yang bertepatan dengan jam kerja menjadi hambatan utama bagi dirinya untuk hadir langsung di stadion.
"Kalau main sore di hari kerja, jujur saja susah buat datang.
Apalagi pukul 15.30 itu masih jam kantor, jadi harus izin atau bahkan tidak bisa sama sekali," ulasnya.
Ia menambahkan, keputusan untuk datang ke stadion kini juga dipengaruhi oleh performa tim yang dinilainya belum benar-benar stabil.
"Kalau performa tim lagi kurang bagus, jadi mikir dua kali juga buat nonton langsung. Apalagi harus korbankan waktu kerja," bebernya.
Selain itu, faktor daya tarik pertandingan juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi suporter.
Ditambah, kuota tiket yang berubah-ubah di tiap pertandingan juga menjadi alasan.
Apalagi, Bima menambahkan, di laga sebelumnya yang harusnya PSIM Jogja bermain melawan Persija Jakarta di SSA, harus dipindahkan ke Bali.
Situasi ini turut memengaruhi keputusannya untuk menonton pertandingan di laga berikutnya.
"Kalau lawan tim besar atau pertandingan penting, saya usahakan datang.
Tapi kemarin malah dipindah pas lawan Persija, jadi ada perasaan kecewanya juga," lontarnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun