JOGJA - Keputusan pemindahan venue pertandingan PSIM Jogja melawan Persija Jakarta menuai kritik dari kelompok suporter Mataram Independent (The Maident).
Pertandingan itu awalnya akan dilangsungkan di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, Rabu (22/4) pukul 19.00, tapi resmi berpindah ke Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, di hari yang sama, namun menjadi pukul 15:30, dan digelar tanpa penonton.
The Maident menilai kebijakan itu diambil secara mendadak dan mencerminkan lemahnya koordinasi antar-pihak. Pernyataan sikap itu disampaikan oleh Pengurus Pusat Mataram Independent yang diwakili Ketua Umum Rendy Agung Prasetya, usai melakukan koordinasi internal.
Dalam pernyataannya, The Maident secara terbuka menyayangkan keputusan pemindahan venue yang dinilai merugikan para suporter.
"Kami sangat menyayangkan pemindahan venue yang dilakukan secara mendadak. Ini merugikan suporter secara materil maupun imateril, terutama rekan-rekan yang sudah meluangkan waktu dan biaya untuk persiapan di stadion lebih awal," katanya, Senin (20/4).
Tak hanya soal kerugian, Rendy juga menyoroti aspek yang lebih mendasar, yakni hilangnya hak PSIM sebagai tuan rumah. SSA yang selama ini menjadi basis dukungan dianggap bukan sekadar lokasi pertandingan, melainkan bagian dari identitas tim Laskar Mataram.
"Pemindahan ini seolah mencabut hak PSIM untuk mendapatkan dukungan penuh di atmosfer kandang yang sebenarnya," tuturnya.
Baca Juga: PSIM Jogja Dikejar Waktu dan Jadwal Padat, Bek Andy Setyo Tekankan Pentingnya Recovery dan Disiplin
Namun di tengah kekecewaan itu, The Maident tetap menegaskan komitmen untuk menjaga situasi tetap kondusif. "Meski kecewa, kami berkomitmen tetap menjaga keamanan dan ketertiban di mana pun laga dilaksanakan. Kami imbau seluruh anggota tidak terprovokasi dan tetap mengedepankan akal sehat demi nama baik PSIM," pesannya.
Lebih jauh Rendy menegaskan, kritik tidak berhenti pada keputusan pemindahan semata. The Maident secara eksplisit menyinggung lemahnya koordinasi dalam upaya mempertahankan laga tetap digelar di kandang sendiri.
Mereka menuntut penjelasan terbuka atas kendala yang terjadi, baik penjelasan secara teknis maupun manajerial. "Memberi penjelasan terbuka mengenai alasan teknis atau manajerial yang menyebabkan laga ini tidak bisa digelar di venue semula," ulasnya.
Selain itu, mereka juga mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap panitia pelaksana agar kejadian serupa tidak kembali terulang, terutama dalam laga-laga penting. "Perlu evaluasi total terhadap jajaran Panpel agar kejadian serupa tidak terulang di laga-laga krusial mendatang," tegasnya.
Dalam pernyataan yang sama, The Maident turut mengarahkan sorotan kepada pihak kepolisian, khususnya terkait mekanisme perizinan yang kerap menjadi kendala utama dalam penyelenggaraan pertandingan. Mereka meminta agar proses perizinan dilakukan secara objektif dan tidak berubah-ubah, apalagi di waktu dan situasi krusial.
"Kami meminta pihak kepolisian memberi izin keramaian secara objektif berdasar asesmen keamanan yang terukur. Bukan sekadar menjadikannya jalan pintas atau pelarangan demi efisiensi kerja," serunya.
Selain itu, mereka juga menyinggung pentingnya konsistensi regulasi agar tidak ada keputusan yang berubah di detik-detik akhir. "Juga kejelasan regulasi terkait izin pertandingan agar tidak ada keputusan yang berubah di detik-detik terakhir (H-4) yang sangat merugikan semua pihak," bebernya.
Di tengah situasi itu, The Maident tetap menyampaikan pesan persaudaraan kepada suporter Persija Jakarta (The Jakmania), yang juga terdampak akibat perubahan venue. "Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini. Kami sangat menantikan kehadiran kalian di Jogja untuk merajut silaturahmi. Namun situasi di luar kendali kami memaksa laga ini berpindah tempat," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun