JOGJA - PSIM Jogja dipastikan tidak dapat menjamu Persija Jakarta di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, pada lanjutan BRI Super League 2025/2026 pekan ke-29. Laga yang dijadwalkan berlangsung Rabu (22/4) resmi dipindahkan ke Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, dan digelar tanpa kehadiran penonton.
Manajemen PSIM menegaskan, keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai aspek, khususnya terkait keamanan dan keterbatasan fasilitas stadion. Selain itu, langkah ini juga dilakukan untuk meredam berbagai spekulasi yang berkembang di kalangan suporter.
Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno, menyebut pihaknya perlu memberikan penjelasan terbuka agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi di akar rumput.
"Kita press conference hari ini untuk menjelaskan bahwa kita tidak bisa menjamu Persija di SSA. Sekaligus meredam banyak isu di grassroot. Kami rasa ini perlu dilakukan," ujar Liana, Minggu (19/4).
Ia menegaskan, secara prinsip PSIM menghormati penuh keputusan pihak kepolisian dan otoritas terkait yang telah melakukan kajian menyeluruh sebelum rekomendasi akhirnya dikeluarkan.
"Kami hormati keputusan pihak kepolisian dan seluruh otoritas soal keamanan dan perizinan. Ketika ini dilakukan, tentu sudah ada investigasi yang komprehensif dan kami menghormati itu," lanjutnya.
Menurut Liana, bermain di luar kandang bukanlah pilihan ideal bagi PSIM. Namun, keterbatasan opsi stadion di sekitar DIJ dan Jawa Tengah membuat klub harus mengambil keputusan tersebut.
"Kami sudah coba cari alternatif stadion di sekitar DIJ, termasuk Semarang dan Solo. Tapi semua digunakan oleh tim masing-masing, dan akhirnya kami harus memainkan pertandingan ini keluar Jawa, tepatnya di Bali," jelasnya.
Liana mengungkapkan, keputusan ini juga berdampak secara finansial bagi klub. PSIM dipastikan kehilangan potensi pemasukan dari penjualan tiket, sekaligus harus menanggung biaya tambahan operasional.
"Kita kehilangan revenue dari tiket yang harusnya bisa didapat jika bermain di SSA. Di sisi lain, ada cost tambahan yang harus kami keluarkan," ungkap Liana.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Bali menjadi opsi paling realistis agar pertandingan tetap berjalan sesuai jadwal kompetisi.
"Situasi ini merugikan kita semua. Tapi kami harus tetap bertanggung jawab menjalankan kompetisi sesuai regulasi, dan Bali menjadi opsi yang tersedia saat ini," tegasnya.
Senada, Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) PSIM Wendy Umar Seno Aji mengungkapkan, pihaknya telah bergerak mencari berbagai alternatif stadion sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan ke Bali.
"Kita sudah bergerak ke beberapa stadion seperti Magelang, Solo, dan Semarang. Bali menjadi opsi terakhir karena waktu terus berjalan dan pertandingan tidak bisa diubah atau ditunda," kata Wendy.
Baca Juga: Tidak Dapat Menyaksikan PSIM Menjamu Persija di SSA, Suporter: Kecewa!
Ia juga menyadari betul soal adanya kekecewaan dari berbagai pihak, termasuk suporter dan tim sendiri yang harus menjalani perjalanan tambahan.
"Saya sangat merasakan kekecewaan dari suporter, tim Persija, dan semua pihak. Apalagi tim PSIM baru pulang dari Lampung dan harus berangkat lagi," ujarnya.
Wendy menegaskan, dukungan suporter tetap dibutuhkan dalam situasi sulit ini, mengingat PSIM masih memiliki tiga laga kandang tersisa musim ini.
Manajemen PSIM pun berkomitmen untuk memperbaiki koordinasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang. "Kami percaya bisa tetap bertahan di Liga 1. Jadi kami sangat membutuhkan dukungan penuh dari semua pihak," ucapnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun