SLEMAN - Tengah pekan lalu muncul surat yang diunggah sejumlah pemain PSBS Biak kepada manajemen, I.League, dan PSSI. Surat itu mengabarkan kondisi miris yang terjadi di dalam internal timnya akibat mismanajemen.
Dalam surat itu disampaikan terkait keterlambatan gaji sejumlah individu selama kurang lebih 2,5 hingga 3 bulan. Keterlambatan pembayaran gaji itu dikatakan mulai berdampak serius terhadap kondisi kehidupan sehari-hari.
Dalam beberapa kesempatan, kebutuhan dasar seperti air minum setelah sesi latihan tidak selalu tersedia. Selain itu, saat ini tidak tersedia makanan bagi pemain lokal.
Baca Juga: PSBS Biak vs Persija Jakarta, Mauricio Souza Tak Mau Remehkan Laskar Badai Pasifik
Tak hanya itu, kendaraan tim juga telah ditarik, lalu pemain asing menerima pemberitahuan terkait pengosongan tempat tinggal akibat kurangnya pembayaran. Bahkan sesi latihan dalam beberapa kesempatan tidak dapat dilakukan karena tidak tersedianya lapangan latihan.
Menanggapi hal itu, Pelatih PSBS Biak Marian Mihail mengungkapkan permasalahan itu membuat moral para pemain menurun. Menurutnya, tim berjuluk Badai Pasifik itu saat ini tampak seperti mayat berjalan di sisa musim kompetisi Super League musim 2025/2026.
"Mungkin secara keseluruhan memang mental pemain agak terganggu. Situasi ini tidak mudah buat pelatih. Saya berharap ke depan akan baik," jelasnya, Sabtu (18/4) malam.
Meski begitu, Mihail mengatakan, tim harus tetap profesional. Sebab, mantan pelatih PSS Sleman itu ingin timnya menyelesaikan musim dengan nyaman.
"Kami tetap profesional, walaupun banyak teman-teman yang meminta hak-haknya. Kami juga berharap semua masalah cepat selesai," tegasnya. (ayu/laz)
Editor : Herpri Kartun