JOGJA - Pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel secara gamblang dan terbuka menyoroti persoalan mentalitas yang dinilai menjadi akar penurunan performa timnya di putaran kedua BRI Super League musim 2025/2026.
Setelah sempat tampil impresif di paruh pertama musim dengan torehan 30 poin dari 17 pertandingan, performa Laskar Mataram justru mengalami penurunan signifikan. Hasil-hasil yang seharusnya bisa diamankan, kerap lepas begitu saja.
Sejauh ini dari 10 pertandingan yang sudah dijalani PSIM di putaran kedua, hanya meraih satu kemenangan, empat kekalahan, dan lima hasil seri.
Van Gastel menilai, persoalan utama bukan semata faktor teknis, melainkan sikap pemain di dalam pertandingan. Ia melihat adanya kecenderungan bermain terlalu santai tanpa dorongan kuat untuk mengunci kemenangan.
"Saya pikir di beberapa laga putaran kedua, kami harusnya bisa menang, tapi tidak. Itu karena kurangnya urgensi, terlalu santai, bermain tanpa tekanan. Itu salah satu karakter negatif dalam tim saya," ujar Van Gastel, Selasa (14/4).
Menurut pelatih asal Belanda ini, sikap easygoing itu berdampak luas, tidak hanya pada hasil akhir pertandingan, tetapi juga pada detail permainan yang krusial. Salah satunya terlihat dari buruknya pengambilan keputusan pemain, terutama saat memasuki sepertiga akhir lapangan.
Baca Juga: Kolaborasi dengan Angkasa Pura, PSIM Jogja Resmikan Lini Bisnis Baru Berupa Store di YIA
Ia menilai banyak peluang terbuang sia-sia karena pemain gagal membaca situasi dengan tepat dan tidak cukup fokus dalam mengeksekusi pilihan yang ada.
"Kami membuat keputusan yang salah karena kami tidak cukup fokus. Itu juga bagian dari sikap terlalu santai tadi. Saya tidak puas dengan aspek itu," tegasnya.
Masalah serupa juga terlihat dalam fase bertahan. Van Gastel menyoroti lemahnya tanggung jawab pemain saat melakukan penjagaan, khususnya dalam situasi bola mati. Ia menilai masih ada pemain yang tidak menjalankan tugasnya dengan disiplin.
"Masalahnya ada pada kurangnya urgensi, terlalu santai, marking tanpa rasa tanggung jawab," ungkapnya.
Upaya perbaikan sebenarnya sudah terus dilakukan oleh tim pelatih. Van Gastel menyebut dirinya rutin memberi evaluasi kepada pemain, baik terkait hal-hal yang perlu diperbaiki maupun aspek yang sudah berjalan baik. Semua itu kemudian diterjemahkan ke dalam latihan agar pemain mampu memahami situasi permainan secara lebih baik.
"Saya selalu tunjukkan apa yang bisa diperbaiki dan apa yang sudah baik. Lalu kami coba masukkan ke latihan. Pemain harus bisa mengenali situasi, mengambil keputusan yang tepat, lalu mengeksekusinya. Itu sangat kompleks," jelasnya.
Dengan kompetisi yang menyisakan beberapa pertandingan lagi, Van Gastel menegaskan pentingnya perubahan sikap dari para pemain jika PSIM ingin kembali ke jalur positif dan mengamankan hasil maksimal.
"Di putaran kedua, kami harusnya bisa raih lebih banyak poin. Harusnya bisa menang lebih banyak atau setidaknya mendapat hasil imbang, tapi itu tidak terjadi," tandas Van Gastel. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun