JOGJA - Hingga pekan 23 kompetisi BRI Super League 2025/2026, PSIM Jogja berada di posisi keenam klasemen dengan torehan 36 poin. Situasi ini bisa dikatakan cukup aman dan nyaman sebagai tim promosi dan asa untuk terhindar dari zona degradasi pun cukup besar.
Namun demikian, manajemen PSIM Jogja tak ingin terlambat dalam menyongsong musim depan. Meski kompetisi masih berjalan, Laskar Mataram ternyata sudah mulai menyusun perencanaan sejak November lalu.
General Manager PSIM Jogja Steven Sunny menegaskan, langkah itu merupakan bagian dari komitmen manajemen untuk menjaga stabilitas dan daya saing tim di kasta tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia.
"Untuk plan ke first team kita sudah bekerja mulai dari November kemarin. Jadi memang sudah mulai tektokan dan segala macam. Koordinasi juga dengan pelatih soal bagaimana kita menghadapi musim depan," ujar Steven, Selasa (3/3).
Menurutnya, ia bukan tipe individu yang nyaman bekerja dalam tekanan waktu yang sempit. Perencanaan lebih awal dinilai penting agar klub memiliki ruang analisa yang cukup sebelum mengambil keputusan besar.
"Saya tipikal orangnya nggak terlalu suka mepet-mepet. Jadi kita tarik maju supaya semua punya waktu lebih banyak, analisanya lebih banyak, serta preparasinya lebih bagus," tegasnya.
Secara pribadi Steven memegang satu prinsip sederhana dalam manajemen klub. Yakni lebih baik ada planning daripada tidak ada planning. Meskipun ada planning kadang goal atau tujuan itu juga tidak tercapai.
"Apalagi kalau tidak ada planning, malah makin bingung dan kita gak kemana-mana nantinya," bebernya.
Meski demikian, ia menyadari dinamika sepak bola, termasuk di Indonesia tak selalu berjalan sesuai rencana. Kompetisi bisa berubah sewaktu-waktu dan penuh kejutan. "Bola itu kita tahu seperti roller coaster. Jadi tetap akan ada dinamika, dan kita harus siap," tambahnya.
Tak hanya fokus pada penguatan skuad, manajemen PSIM juga mulai menggarap sektor bisnis sebagai penopang keberlanjutan klub. First team memang tetap menjadi prioritas utama karena merupakan produk utama klub, namun lini komersial juga mulai digenjot.
"First team itu menjadi prioritas utama dulu karena produknya kita. Tapi pelan-pelan dari store, secara bisnis kita sudah ekspansi. Nanti anak-anak juga akan bikin campaign supaya store ini lebih menarik, karena itu salah satu revenue kita," jelas Steven.
Langkah ini menunjukkan PSIM tak hanya berpikir jangka pendek soal hasil pertandingan, tetapi juga membangun fondasi organisasi yang lebih matang dan berkelanjutan di level tertinggi sepak bola nasional. "Kita mau berkembang secara kompetitif maupun finansial di musim-musim mendatang," tuturnya. (iza/laz)