JOGJA - Secara catatan PSIM Jogja memang sukses mengakhiri tren tanpa kemenangan di putaran kedua BRI Super League 2025/2026.
Laskar Mataram menundukkan PSBS Biak dengan skor 4-2 pada pekan ke-23 di Maguwoharjo International Stadium (MagIS), Jumat (27/2) lalu.
Empat gol menjadi sinyal kebangkitan. Namun di balik kemenangan tersebut, persoalan lama kembali muncul, PSIM masih terlalu mudah kebobolan.
Pelatih PSIM Jean Paul van Gastel menilai timnya belum cukup stabil dan sesuai dengan keinginannya, terutama saat menguasai pertandingan.
"Saat menguasai bola, kadang kami tidak memegang kendali penuh dan itu membuat pertandingan sedikit terbuka bagi lawan," katanya, Senin (2/3).
Pelatih asal Belanda ini mengungkapkan, salah satu yang menjadi perhatiannya adalah bagaimana cara tim bertahan dan mengontrol jalannya permainan.
"Kami kebobolan gol terlalu mudah dalam beberapa pertandingan terakhir ini," ulasnya.
Ia mencontohkan, seperti saat menghadapi Persik Kediri, PSIM mencetak dua gol tapi tertinggal 2-0, lalu saat menghadapi Bali United, PSIM mencetak tiga gol dan sempat tertinggal 3-0, dan melawan Biak Ze Valente dan tim bisa mencetak empat gol.
Tren itu menunjukkan pola yang sama, PSIM produktif mencetak gol, tetapi kerap memberi ruang bagi lawan untuk unggul lebih dulu. Situasi tersebut memaksa tim bekerja ekstra keras untuk membalikkan keadaan.
Van Gastel berujar, secara produktivitas tim semakin bagus. Namun persoalan mendasar terlalu mudah kebobolan oleh tim lawan juga menjadi evaluasi.
"Kami harus bermain lebih baik dan efisien agar bisa memenangkan pertandingan lebih mudah," tuturnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun