JOGJA - PSIM terus menunjukkan komitmennya dalam membangun fondasi kuat bagi sepak bola masa depan dengan menanamkan nilai profesionalisme sejak usia dini. Melalui PSIM Academy, manajemen menggelar talkshow bertajuk Beyond The Pitch, The Journey of Growth untuk para pemain muda di tim Elite Pro Academy (EPA).
Kegiatan ini melibatkan seluruh staf pelatih serta menghadirkan perwakilan pemain tim senior Laskar Mataram. Forum itu menjadi ruang edukasi sekaligus refleksi bagi para pemain muda PSIM Academy untuk memahami bahwa perjalanan di dunia sepak bola profesional tidak hanya berbicara soal teknik bermain. Tetapi juga kesiapan mental, disiplin, dan konsistensi dalam menjalani proses.
Dirut PSIM Liana Tasno hadir langsung dan memoderatori jalannya diskusi. Ia menekankan pentingnya komitmen penuh bagi setiap pemain yang bercita-cita meniti karier sebagai pesepak bola profesional.
"Kalau kalian benar-benar ingin di bola, tunjukkan tekad kalian 100 persen. Karena kalau tidak yakin, lebih baik tidak terjun sama sekali," tegas Liana Jumat (16/1).
Dari sisi kepelatihan, Asisten Pelatih PSIM Erwan Hendarwanto turut menyoroti aspek fisik sebagai salah satu standar utama dalam sepak bola modern, khususnya di level kompetisi tertinggi.
"Yang harus di-maintenance adalah fisik yang prima. Itu syarat utama. Sekarang di Liga 1, Coach Jean-Paul (pelatih kepala tim senior PSIM) punya standar yang tinggi tentang fisik," jelas Erwan.
Menurutnya, tuntutan permainan di level atas mengharuskan setiap pemain menjaga kondisi tubuh secara konsisten. Tidak hanya saat latihan atau pertandingan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, Erwan juga menyinggung tantangan yang kerap dihadapi pemain muda di era digital, yakni gangguan dari penggunaan gawai yang berlebihan. Ia mengingatkan waktu istirahat menjadi faktor krusial dalam menjaga performa dan kebugaran pemain.
"Rata-rata yang jadi penghalang itu gadget, karena pelatih taunya pemain sudah istirahat tapi ternyata masih main game. Istirahat yang cukup, minimal 8-9 jam sehari. Itu salah satu hal paling penting untuk menjaga fisik prima," ujarnya.
Pesan serupa turut disampaikan pemain tim senior PSIM Raka Cahyana. Ia mengajak para pemain muda untuk tidak cepat berpuas diri serta selalu menjaga sikap dan perilaku, baik di dalam maupun di luar lapangan.
"Saya menerapkan ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Jadi tidak boleh cepat puas dan harus tetap disiplin," kata Raka.
Sementara itu, Manajer PSIM Razzi Taruna menutup sesi diskusi dengan memaparkan gambaran kriteria pemain yang dibutuhkan tim senior. Ia menegaskan sepak bola modern menuntut pemain yang tidak hanya unggul secara fisik dan teknis, tetapi juga memiliki pemahaman taktik yang baik.
Melalui kegiatan ini, PSIM berharap PSIM Academy mampu menjadi wadah pembentukan pemain muda yang tidak hanya siap bersaing di lapangan, tetapi juga memiliki mental profesional sebagai bekal menapaki jenjang karier yang lebih tinggi.
"Salah satu indikator pemain PSIM yang kita ambil musim ini di Liga 1 selain fisik dan skill bermain adalah pengetahuan taktikal," tandas Razzi. (iza/laz)