JOGJA - Fenomena permainan keras yang menjurus brutal kembali menjadi sorotan publik sepak bola nasional dalam dua pekan terakhir. Dua insiden di kompetisi Liga 4 yakni di Pasuruan, Jawa Timur, dan di DIJ, memantik diskusi mengenai batas antara permainan keras yang wajar dengan tindakan berbahaya yang dapat mengancam keselamatan pemain.
Di Liga 4 Jawa Timur, seorang pemain melakukan tendangan bergaya “kungfu” ke dada lawan hingga berujung sanksi larangan bermain seumur hidup. Insiden bernuansa serupa terjadi di Liga 4 DIJ. Rekaman keduanya viral di media sosial dan menimbulkan keprihatinan luas.
Mantan kapten tim PSIM Jogja Sumarjono hanya bisa geleng-geleng kepala melihat hal itu. Selama bermain, pemain yang akrab disapa Marjono ini dikenal dengan permainannya yang keras. Tapi hal itu dilakukan tanpa niatan mencederai bahkan melukai lawan.
Marjono, sosok kapten yang membawa PSIM meraih gelar juara Divisi I 2005 dan promosi ke Divisi Utama 2006 menegaskan, sepak bola memang olahraga keras, tetapi bukan tempat untuk melukai lawan. Menurutnya, emosi yang tidak terkontrol sering menjadi pangkal tindakan berbahaya.
"Sepak bola itu olahraga keras, full body contact, sarat emosi. Tapi keras itu bukan berarti mencederai lawan," katanya kepada Radar Jogja, Kamis (8/1).
Ia menilai tindakan seperti yang terjadi dalam dua insiden terakhir merupakan bentuk kejadian sekaligus kesalahan yang serius. "Kalau sepak bola seperti kemarin itu benar-benar sangat salah. Apalagi untuk sepak bola modern seperti sekarang, sangat tidak pas," tegasnya.
Marjono menjelaskan, kontak fisik dalam sepak bola adalah hal wajar. Tetapi pemain juga harus paham bagaimana cara mengantisipasi agar tidak mencederai lawan. Ia mencontohkan teknik tekel yang aman.
"Kalau kaki tidak dijulurkan itu lebih aman. Tetap ada kontak, tapi kita harus bisa nutup kaki. Niatnya pasti beda," kata mantan kapten berkarakter keras ini.
Selain itu, ia juga menambahkan sudut pandangnya sebagai pemain. Ia mengakui memang memiliki karakter yang keras saat bertanding. Namun, tidak pernah ada niatan untuk mencederai lawan.
"Saya sebagai mantan pemain juga bermain cukup keras, ngotot. Tapi saya tidak pernah ada niat untuk mencederai lawan," bebernya.
Terkait sanksi seumur hidup yang dijatuhkan dalam beberapa kasus, Marjono menilai perlu kajian lebih komprehensif, terutama bila pelakunya masih pemain muda.
"Kurang pas kalau dilarang seumur hidup. Pemain masih merintis, emosinya masih labil. Tetap salah, tapi banyak faktor yang melatarbelakangi. Perlu dikaji kembali," ucapnya.
Ia mengingatkan, hukuman seumur hidup juga berarti memutus mimpi pemain terkait. Meski begitu, ia tetap menekankan bahwa tindakan brutal di lapangan tidak boleh ditoleransi. "Bisa-bisa meninggal itu. Dan memang itu layak mendapatkan hukuman," ujarnya.
Menurutnya, peran pelatih sangat penting memberi edukasi karena banyak pemain di level Liga 4 masih minim pengalaman dan pengawasan kompetisi pun juga terbatas.
Di sisi lain, Marjono menegaskan ada perbedaan jelas antara bermain keras dan berniat melukai. Niat pemain, kata dia, bisa terlihat dari cara melakukan tekel. "Kalau pemain nakal, yang dikejar kakinya. Kalau keras tapi fair yang dikejar bolanya," tuturnya.
Sebagai pemain era 2000-an yang terkenal garang di lapangan, Marjono mengaku sering memakai pendekatan psikologis, bukan selalu kekerasan fisik.
"Saya dulu lebih ke shock therapy, psywar, menjatuhkan mental lawan. Saya kejar terus atau saya provokasi kata-kata, tapi tidak ada niat mencederai," ucapnya.
Ia berharap dua insiden yang terjadi di Liga 4 Jawa Timur dan DIJ bisa menjadi bahan evaluasi bersama. "Semoga apa yang terjadi saat ini bisa jadi kajian komprehensif semua pihak," tandasnya. (laz)