Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Delapan Pelatih Tumbang Sebelum Paruh Musim, Pelatih PSIM Jogja Van Gastel Soroti Tren Pemecatan di BRI Super League

Fahmi Fahriza • Senin, 15 Desember 2025 | 02:07 WIB
Pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel.
Pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel.

JOGJA - Kompetisi BRI Super League 2025/2026 baru memasuki pekan ke-14, namun dinamika di kursi kepelatihan sudah bergerak sangat cepat. Hingga pertengahan Desember ini, tercatat delapan pelatih kehilangan jabatannya, baik karena dipecat manajemen klub atau memilih mundur karena persoalan internal.


Jumlah itu terbilang mencolok karena terjadi bahkan sebelum paruh musim kompetisi selesai. Ini menandakan tingginya tekanan dan rendahnya toleransi terhadap hasil di level kasta tertinggi sepak bola Indonesia.


Dari delapan nama itu, situasi yang melatarbelakangi kepergian para pelatih pun beragam. Bernardo Tavares menjadi salah satu yang paling disorot setelah memilih mundur dari PSM Makassar akibat persoalan internal dan gaji yang macet. Meski tidak diberhentikan secara formal, kepergiannya tetap menambah panjang daftar pelatih yang tumbang.


Selain Tavares, manajemen Semen Padang memutuskan mengakhiri kerja sama dengan Eduardo Almeida menyusul hasil buruk yang tak kunjung membaik. Nasib serupa dialami Mario Lemos di Persijap Jepara, Eduardo Perez di Persebaya Surabaya, serta Ong Kim Swee yang dicopot dari kursi pelatih Persik Kediri di tengah musim berjalan.


Persis Solo juga mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan Peter de Roo, sementara Madura United menghentikan kiprah Alfredo Vera akibat performa yang dinilai belum memenuhi ekspektasi. Teranyar, PSBS Biak memecat Divaldo Alves setelah tim tetap terpuruk di papan bawah klasemen.


Fenomena ini turut mendapat sorotan dari Pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel. Pelatih asal Belanda itu menilai tingginya angka pemecatan pelatih di Super League sebagai sesuatu yang patut disayangkan.


"Sepertinya cukup mudah untuk dipecat di sini (Indonesia). Jadi, delapan pemecatan sebelum paruh musim ini sangat banyak," ujar Van Gastel, Minggu (14/12).


Menurutnya, situasi tersebut terasa kontras jika dibandingkan dengan kompetisi di negara lain. Ia menilai agresivitas klub-klub Indonesia dalam menentukan nasib pelatih berada di atas rata-rata. "Saya pikir situasi ini di atas rata-rata di seluruh dunia. Sejujurnya saya juga tidak tahu apa penyebabnya," terangnya.


Van Gastel sebelumnya juga sempat menyoroti penonaktifan kompatriotnya, Peter de Roo, yang didepak Persis Solo jelang laga kontra PSIM. Ia menyebut keputusan itu terasa pahit bagi seorang pelatih yang telah mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk klub.


"Saya cukup sedih soal berita itu, karena setiap pelatih bekerja keras untuk mendapat hasil dan memberi banyak usaha juga energinya untuk klub," katanya.


Meski demikian, Van Gastel menyadari dunia kepelatihan memang sarat risiko dan tekanan. Terutama di tengah tuntutan hasil instan, dan rentetan pertandingan yang tidak sesuai ekspektasi.
"Saya tahu risiko pekerjaan pelatih. Banyak hal yang dipikirkan. Dan ini risiko dari pekerjaan, di mana Anda bisa dipecat," tandasnya. (iza/laz)

Editor : Herpri Kartun
#BRI Super League #Jean Paul van Gastel #PSIM Jogja