JOGJA - menjadi salah satu dari beberapa pemain yang dipertahankan manajemen setelah promosi dari Pegadaian Liga 2 2024/2025 ke BRI Super League 2025/2026. Yusaku sudah dua musim membela PSIM, namun pemain kelahiran 4 Agustus 1997 ini sejatinya telah tiga tahun merumput di Indonesia.
Sebelum ke PSIM, ia sempat bermain untuk Nusantara United selama satu tahun, sekaligus musim perdananya di Indonesia. Diakui, ia sangat menikmati hidup dan berkarir di Indonesia. Termasuk di Jogja yang, menurutnya, sangat menyenangkan untuk ditempati.
Ia menuturkan, kedatangannya ke Indonesia dibawa oleh sang agen bernama Aggy Eka Ressy. Agen itu membawanya ke Nusantara United pada 2023 dan memberi kesempatan untuk bermain di sana selama satu tahun.
"Saya di sana satu tahun, lalu pindah ke PSIM sampai sekarang ini," katanya kepada Radar Jogja, Jumat (10/10). Saat di pindah ke Jogja, Yusaku mengaku banyak menemukan hal-hal baru.
Salah satu yang cukup menarik perhatiannya adalah sate klathak, kuliner yang cukup banyak dikenal di Jogja. "Sejauh ini, salah satu hal sangat saya sukai soal Jogja adalah sate klathak," tuturnya.
Kendati demikian, Yusaku menyadari dirinya adalah pemain sepak bola profesional. Meski menyukai, ia berujar hanya di situasi tertentu saja ia akan mengonsumsi sate klathak khas Bantul itu.
Baca Juga: Hasil Nusantara United vs Bhayangkara FC, Gol Tunggal Frengky Missa Pastikan The Guardian Kunci Tiket 8 Besar
Selain itu, menurutnya, sate klathak juga tidak cukup bagus jika dikonsumsi berlebihan. Apalagi banyak mengandung minyak hingga lemak yang akan berpengaruh terhadap tubuhnya.
"Biasanya setelah pertandingan yang bagus atau menang, saya merasa perlu memberi self reward pada diri saya. Salah satunya sate klathak itu," ungkapnya.
Dalam banyak kesempatan, Yusaku mengungkapkan sejatinya ia lebih sering memasak sendiri. Hal itu dilakukan untuk menjaga pola makan dan gizi seimbang yang harus dikonsumsinya.
"Saya jarang membeli makanan dari luar. Saya lebih sering masak sendiri, karena memang harus melakukannya," ungkapnya.
Dalam konteks lain, ia mengaku Jogja sangat nyaman untuk ditinggali. Ia membandingkan dengan negara asalnya, Jepang. Di Indonesia, katanya, lebih mudah beradaptasi, salah satunya karena hanya memiliki dua pergantian musim.
Baca Juga: Kapten Tim PSIM Jogja Reva Adi Utama Absen, Yusaku Jadi Wing Back saat Lawan PSM Makassar
"Indonesia hanya punya musim kemarau dan musim hujan. Secara pribadi saya nyaman dan cepat beradaptasi di sini," lontarnya.
Sementara soal budaya di Indonesia, ia mengaku banyak penyesuaian. Salah satunya soal padatnya lalu lintas dan berkendara di Jogja yang membuatnya harus lebih bersabar dan adaptif.
"Saya menyetir sendiri di Jogja dan jalanan di sini sangat ramai kendaraan," ungkap pemain asal Nagano itu. (laz)