GUNUNGKIDUL - Langkah tim softball putra Sleman di ajang Porda DIJ XVII 2025 harus terhenti di semifinal setelah kalah tipis dari Kulon Progo dengan skor 3-4. Meski gagal melangkah ke partai puncak, skuad muda Sleman menunjukkan perlawanan sengit dan potensi besar untuk masa depan.
Pelatih tim Sleman Fachrur Rachmad Kustanta mengakui, bahwa timnya turun dengan mayoritas pemain muda. Dari total 18 atlet yang diturunkan, 16 di antaranya merupakan debutan di Porda, bahkan sebagian masih duduk di bangku SMA dan SMP.
“Kalau melihat hasil, tentu ada rasa kecewa. Tapi melihat bagaimana anak-anak bertanding, saya justru bangga,´ ujar Fachrur usai pertandingan, Kamis, (11/9). “Mereka tidak pernah menyerah, selalu bisa mengejar meski sempat tertinggal. Lawan memang berisi pemain-pemain lama, tapi anak-anak bisa mengimbangi dengan selisih poin yang sangat tipis.”
Fachrur menambahkan, pengalaman ini menjadi modal penting untuk pembinaan atlet Sleman ke depan. Diakuinya, laga melawan Kulon Progo menjadi pertandingan yang sangat menyulitkan, tapi anak asuhnya membuktikan diri mereka punya potensi besar, baik secara teknis, fisik, maupun mental. “Besok kami masih punya peluang meraih perunggu melawan Bantul, dan itu akan kami perjuangkan untuk Sleman,” tegasnya.
Nada optimisme juga datang dari salah satu pemain Abian H. Perdana. Ia menilai kekalahan tipis dari tim kuat Kulon Progo adalah hasil yang patut diapresiasi. Dengan kekalahan ini, kata Abian, Sleman dipastikan masih berpeluang membawa pulang medali perunggu dari cabang softball putra.
Partai perebutan tempat ketiga melawan Bantul akan menjadi laga penentu sekaligus ajang pembuktian generasi baru atlet softball Sleman.
Dia mengaku, tim sudah berusaha sekuat tenaga. Meskipun kalah, mereka tetap bangga karena hanya tertinggal satu poin.
“Ini pengalaman pertama bagi banyak teman-teman saya, jadi wajar kalau ada yang emosional bahkan menangis setelah pertandingan. Tapi semua perjuangan ini kami persembahkan untuk Sleman,” kata Abian. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo