JOGJA - Sebanyak 170 atlet pelajar penyandang disabilitas bersaing dalam ajang Pekan Paralimpik Pelajar Daerah (Peparpeda) DIY 2025 selama dua hari, 11-12 Juni 2025. Ajang kompetisi yang rutin digelar setiap tahun ini dilaksanakan demi persiapan menyeleksi atlet-atlet menuju ajang Pekan Paralimpik Pelajar Nasional (Peparpenas).
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY Suhirman menjelaskan, para peserta Peparpeda DIY 2025 ini merupakan atlet pelajar disabilitas/ABK dari sekolah luar biasa (SLB) atau sekolah umum atau sekolah penyelenggara pendidikan inklusi (SPPI) tahun ajaran 2024-2025 di DIY.
Dari 170 atlet yang ambil bagian di ajang Peparpeda ini, meliputi Kabupaten Bantul 35 orang atlet dan 10 pelatih/ofisial, Kota Jogja 35 orang atlet dan 10 pelatih/ofisial. Kemudian Kabupaten Sleman 35 orang atlet dan 10 pelatih/ofisial, lalu Kabupaten Kulonprogo dengan 30 orang atlet dan 10 pelatih/ofisial, dan Kabupaten Gunungkidul 35 orang atlet dan 10 pelatih/ofisial.
Lebih lanjut Suhirman menjelaskan, untuk Peparpeda kali ini mempertandingkan lima cabang olahraga (cabor) yaitu para atletik, para badminton, para tenis meja, boccia dan para tenis meja.
"Peparpeda DIY 2025 ini untuk menjaring dan menyeleksi atlet-atlet pelajar penyandang disabilitas yang akan diterjunkan pada Pekan Paralimpik Pelajar Nasional (Peparpenas) mendatang," ucapnya saat pembukaan di GOR Amongrogo Jogja, Rabu (11/6).
Selain untuk persiapan menuju Peparpenas, Suhirman juga mengatakan ajang Peparpeda kali ini digelar untuk melakukan pembudayaan olahraga khususnya bagi pelajar penyandang disabilitas.
"Selain itu ajang ini juga ditujukan untuk memacu dan memotivasi dalam rangka optimalisasi pengembangan potensi atlet pelajar disabilitas. Serta membentuk dan meningkatkan persahabatan, persatuan dan kesatuan di kalangan pelajar disabilitas," ungkapnya.
Sementara, Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Sosial, Budaya dan Kemasyarakatan Didik Wardaya yang mewakili Plt Sekprov DIY Tri Saktiana Trisaktiyana berharap, event ini bukan sekadar ajang pertandingan olahraga saja. Namun bisa lebih dari itu, karena menjadi ruang pembelajaran, proses awal bagi para pelajar disabilitas untuk mengasah kemampuan, keberanian, dan kepercayaan diri melalui olahraga.
"Di arena inilah lahir calon-calon atlet paralimpik masa depan. Dari sinilah perjalanan besar dimulai, langkah pertama menuju panggung yang lebih tinggi di tingkat provinsi, nasional, bahkan internasional," jelasnya.
Tak hanya itu, Didik juga mengatakan Peparpeda DIY 2025 juga menjadi sebuah penegasan sekaligus pengakuan bahwa disabilitas itu jangan sampai menjadi penghalang untuk meraih impian. Harapannya melalui event ini juga bisa melahirkan atlet-atlet yang bisa berprestasi pada ajang yang lebih tinggi. (ayu/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita