JOGJA - Sepak bola di Kota Jogja menyimpan ironi yang mencolok, khususnya bagi para Sekolah Sepak Bola (SSB) yang menjadi tulang punggung pembinaan pemain muda. Di satu sisi prestasi klub-klub lokal terus bersinar, di sisi lain infrastruktur lapangan yang memadai untuk mendukung perkembangan olahraga ini masih menjadi mimpi yang sulit diraih.
CEO SSB Indonesia Muda (IM) Naturindo Muhammad Rifai mengakui sejauh ini keterbatasan lapangan menjadi tantangan besar bagi SSB di Kota Jogja. Namun di tengah keterbatasan fasilitas latihan yang memprihatinkan, semangat dan bakat dari anak-anak SSB tetap mampu mencetak prestasi membanggakan.
"PSIM Jogja, klub kebanggaan Kota Jogja ini baru saja mencatatkan sejarah dengan promosi ke Liga 1. Pencapaian ini menjadi bukti potensi besar sepak bola Jogja. Sayangnya, keberhasilan itu tidak didukung oleh sistem kompetisi yang baik maupun infrastruktur lapangan yang memadai," katanya Selasa (13/5).
Bagi SSB di Kota Jogja yang bertugas menyiapkan generasi penerus PSIM Jogja, kondisi dari keterbatasan fasilitas ini tentu saja memperumit upaya mereka untuk melatih bibit-bibit muda dengan optimal. "SSB di Kota Jogja menghadapi masalah serius terkait fasilitas latihan itu," tegasnya.
Sejauh ini ia menilai memang kondisi lapangan untuk latihan yang digunakan oleh sejumlah SSB di Kota Jogja sangat jauh dari kata ideal. Rifai sendiri memberikan berbagai gambaran nyata terkait hal itu.
Pertama, SSB IM Naturindo yang rutin berlatih di Lapangan Kridosono, sebuah aset kota yang dikabarkan segera dialihfungsikan untuk kepentingan lain. Ketidakpastian itu tentu saja mengganggu program latihan jangka panjang mereka.
Lalu, SSB Mataram Utama yang selalu mengandalkan Lapangan Kenari sebagai pusat latihan. Namun lapangan ini juga terancam karena bakal dijadikan gedung DPRD DIJ yang baru. Bahkan, peletakan pembangunan gedung dewan sudah dilakukan.
Selain itu, ada juga SSB Marsudi Agawe Santoso (MAS) juga harus berjuang dengan kondisi Lapangan Minggiran yang jauh dari standar kelayakan. Kualitas permukaan lapangan yang buruk berpotensi menimbulkan risiko cedera bagi para pemain muda.
Dan terakhir, SSB Browidjoyo juga seringkali mendapati jadwal latihan mereka terganggu dan bahkan dibatalkan di Lapangan Sidokabul. Alasannya perawatan lapangan yang tidak terprediksi.
"Ironisnya, ada Lapangan Karang yang kondisinya bagus dan bisa menjadi solusi. Namun lapangan ini tidak dapat dimanfaatkan oleh SSB Kota Jogja karena sewanya terlalu mahal dan tidak terjangkau bagi kami," ungkap Rifai.
Meski dihadapkan pada keterbatasan fasilitas, lanjut Rifai, SSB bisa terus menorehkan prestasi membanggakan. Contohnya SSB IM Naturindo dan SSB Mataram Utama sering kali menjadi juara di ajang Piala Soeratin DIJ.
Lebih jauh lagi, SSB IM Naturindo menjuarai Liga Topskor U16 Regional DIJ dan akan mewakili DIJ di seri nasional.
"SSB bukan hanya tempat untuk melatih keterampilan sepak bola, tetapi juga wadah yang sangat berarti bagi anak-anak dan remaja di Kota Jogja," tegasnya.
Melihat realitas ini, ia berharap Pemkot Jogja bisa mengambil langkah nyata untuk SSB di Kota Jogja.
Mengingat akses terhadap lapangan latihan yang layak bukan lagi sekadar keinginan, melainkan kebutuhan mendesak untuk mendukung prestasi sepak bola yang ada.
"Pemerintah diharapkan dapat memberikan solusi, seperti menyediakan lapangan dengan biaya terjangkau. Atau mengelola fasilitas yang ada agar lebih inklusif bagi SSB," lontarnya. (ayu/laz)
Editor : Heru Pratomo