JOGJA – Pengurus Provinsi (Pengprov) Universal Taekwondo Indonesia Profesional (UTI Pro) DIY resmi bergabung ke Pengurus Daerah (Pengda) Taekwondo Indonesia (TI) DIY di bawah naungan KONI DIY. Langkah ini dilakukan usai Lembaga Ombudsman DIY menangani laporan soal tidak diterimanya atlet Pengprov UTI DIY dalam Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) 2023.
Anggota Bidang Pengawasan Aparatur Pemerintahan Lembaga Ombudsman DIY, Abdullah Abidin mengatakan, laporan yang diterima pihaknya itu mengarah pada adanya dugaan tindak diskriminatif dalam penerimaan atlet pelajar di ajang Popda. Di mana seharusnya pelajar tidak perlu dibatasi oleh status keanggotaan dalam Pengda TI DIY.
“Karena ini kan pelajar, tidak bisa dibatasi, artinya tidak harus menjadi anggota Pengda TI dulu, berbeda dengan klub,” katanya di KHAS Tugu Hotel Yogyakarta, Sabtu (25/1/2025).
Lembaga Ombudsman DIY kemudian mengundang berbagai pihak terkait, yakni Pengprov UTI Pro DIY, Pengda TI DIY, dan KONI DIY untuk membahas masalah ini. Salah satu kesimpulan dalam koordinasi itu adalah memberikan mandat atau rujukan kepada Balai Pemuda dan Olahraga (BPO) DIY untuk mendampingi proses keikutsertaan atlet dalam Popda, melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) DIY.
Pada Juni 2023, BPO DIY menginisiasi langkah perbaikan untuk memastikan proses Popda berjalan sesuai dengan keputusan yang sudah disepakati oleh semua pihak dengan dukungan penuh dari Ombudsman DIY.
“Kami yakin kalau cuma di atas kata-kata saja itu nanti jadi problem karena tidak ada hitam di atas putih. Sehingga kami menggagas pertemuan di akhir tahun 2024 untuk ada MoU pelaksanaan Popda,” ujar Abdullah.
Selanjutnya, Pengda TI DIY sebagai penyelenggara Popda berkomitmen untuk mengundang Pengprov UTI Pro DIY dan menyampaikan surat edaran agar mereka dapat terlibat dalam Popda.
Kemudian, muncul pertanyaan dari Lembaga Ombudsman DIY terkait kejelasan status keanggotaan Pengda TI.
“Kami penasaran, kenapa cuma Popda saja, kenapa tidak Pra PON hingga PON. Kalau itu yang terjadi, maka harus bergabung dengan Pengda TI secara murni, artinya melebur,” ucap Abdullah.
Setelah melakukan serangkaian pertemuan dan diskusi, akhirnya semua pihak sepakat untuk mengambil langkah konkret guna meleburkan Pengprov UTI Pro DIY ke dalam Pengda TI DIY.
Ketua Umum Pengprov UTI Pro DIY Zuharsono Ashari mengatakan, atlet taekwondo dari pihaknya menghadapi kesulitan untuk melanjutkan karir ke jenjang prestasi karena tidak adanya sistem penjenjangan yang jelas. Tidak ada jenjang prestasi seperti yang ada di bawah KONI, mulai dari Pra-PON, PON, hingga SEA Games. “Maka dari itu, kami meminta agar bisa dijembatani untuk bertemu dengan Pengda TI DIY dan bergabung, sehingga atlet kami bisa berprestasi lebih baik," ujarnya.
Dia menyebut, meskipun Popda bukan event yang diselenggarakan oleh KONI, melainkan oleh Disdikpora, namun setiap pelajar berhak untuk ikut serta. Sebab, banyak atlet dari pihaknya yang sebelumnya tidak bisa ikut karena masalah administratif. “Kami berusaha keras agar semua pelajar bisa berpartisipasi, karena Popda adalah ajang yang seharusnya terbuka untuk semua pelajar," kata Zuharsono.
Dirinya berharap kesepakatan ini bisa menjadi tonggak sejarah baru. Di mana dua federasi taekwondo di Indonesia yang terpisah dapat bersatu di DIY. "Kami berharap agar atlet DIY bisa berprestasi di tingkat internasional, dan semoga ini bisa jadi awal kebangkitan olahraga taekwondo di DIY," tuturnya.
Ketua Pengda TI DIY Rudy Koeshardijanto menjelaskan, perpecahan antara dua federasi ini berawal dari pengurus di tingkat pusat yang berimbas di tingkat daerah. Perpecahan ini mengarah pada teknis yang berbeda-beda dalam setiap event yang diselenggarakan. Padahal, kata Rudy, yang terpenting adalah atlet di Popda berstatus pelajar, tidak peduli di bawah naungan siapa. “Akibatnya, terjadi deadlock dan Popda pun sempat dibekukan," jelasnya.
Namun, setelah melalui serangkaian diskusi, kedua pihak akhirnya sepakat untuk menemukan jalan tengah terkait pelaksanaan Popda. Kedua federasi memutuskan untuk bersatu, baik atlet yang berada di bawah naungan Pengda TI DIY maupun Pengprov UTI Pro DIY. Walaupun peleburan ini belum terjadi di tingkat nasional. “Kami yakin langkah ini akan membawa dampak positif bagi prestasi taekwondo di DIY," lanjut Rudy.
Ke depan, kedua federasi ini sepakat untuk bekerja bersama dalam pembinaan prestasi atlet. Rudy berharap dengan bergabungnya dua federasi ini, prestasi taekwondo DIY akan meningkat secara signifikan. "Dengan bergabungnya anggota UTI Pro, kami yakin kemajuan prestasi taekwondo di DIY bisa lebih pesat. Ini adalah win-win solution bagi kami semua," kata Rudy.
Anggota Bidang Pembibitan dan Pembinaan Prestasi KONI DIY, Wesley Tauntu mengatakan, pihaknya menyambut baik dan mengapresiasi atas bergabungnya Pengprov UTI Pro DIY dengan Pengda TI DIY. Dia menyatakan, ini merupakan langkah positif untuk pengembangan taekwondo di DIY. Menurutnya, penggabungan kedua federasi ini menjadi jawaban atas PR panjang bagi KONI DIY untuk menciptakan satu wadah taekwondo yang solid di DIY.
"Sumber daya taekwondo akan jauh lebih banyak dan berkualitas. Harapannya, potensi-potensi ini bisa dipersiapkan untuk menghadapi event nasional dan internasional," kata Wesley.
Dia juga menyoroti pencapaian Pengda TI DIY pada PON 2024, yang berhasil meraih 1 medali emas, 2 perak, dan 3 perunggu. Wesley berharap, dengan penggabungan ini, UTI Pro DIY akan membawa serta atlet-atlet terbaiknya, serta semua perangkat pendukung yang ada.
"Kami berharap dengan penggabungan ini, SDM taekwondo DIY akan lebih terkelola dengan baik dan dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan atlet unggulan," ujarnya. (tyo)
Editor : Heru Pratomo