Tiket lolos PON 2020 didapat setelah keempatnya tampil apik di ajang Pra-PON September tahun lalu. Mereka meraih dua perak dan tiga perunggu. Medali perak dipersembahkan Naviska di nomor Individual Time Trial (ITT) 200 meter putri dan Aurelia di nomor Point To Point (PTP) 10 KM putri.
Kemudian, medali perunggu diraih Aradhana yang menyabet dua medali sekaligus masing-masing dinomor ITT 500 meter putri dan sprint 500 meter putri. Satu medali perunggu lainnya dipersembahkan Aurelia di nomor Eliminasi 15 KM putri. Lalu, Chalila yang turun di nomor ITT 400 meter menempati peringkat empat.
Nah, saat ini keempat atlet tersebut tergabung dalam pemusatan latihan daerah (puslatda) DIJ. Persiapan terus dilakukan jelang berkiprah di PON September mendatang. Pelatih Sepatu Roda Puslatda DIJ Sugeng Lasono mengatakan sejauh ini latihan berjalan cukup lancar.
Dikatakan, timnya sudah berlatih secara intensif sejak Februari lalu di Kompleks Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul. Dalam sepekan latihan digelar delapan hingga 10 kali. Pagi dan sore.
Hanya saja, saat ini latihan menjadi tidak maksimal lantaran virus korona (Covid-19) yang merebak belakangan ini. Alhasil, latihan pun hanya bisa dilakukan secara mandiri. Juga terpaksa harus mengurangi porsi latihan. "Saya hanya bisa memantau atlet yang berlatih melalui aplikasi," ujar Sugeng
Di ajang mutievent olahraga empat tahunan ini sepatu roda menargetkan satu emas. Karena itu, untuk merealisasikan target yang dibidik para atlet diminta untuk berusaha semaksimal mungkin agar memberikan hasil terbaik bagi DIJ. "Aradhana dijagokan di nomor jarak pendek 500m dan 1000m, Aurelia di jarak jauh 15 KM dan 10 KM PTP, Naviska jarak pendek 100 m dan 200 m, dan beregu nomor relay dan team time trial," bebernya.
Selain itu, Sugeng juga berkomentar terkait prestasi tim putri dan putra DIJ yang sedikit timpang. Sebab, cabor sepatu roda tak satupun berhasil meloloskan tim putra di ajang PON ini.
Kegagalan tersebut, menurut Sugeng tak terlepas dari kurang maksimalnya atlet putra dalam menjalani latihan. Hal ini terlihat jelas dalam presensi kehadiran para atlet. "Saya selalu memotivasi agar selalu datang latihan tetapi ya mereka bisa merasakan hasilnya untuk Pra-PON kemarin," keluhnya. "Apalagi tim putra itu kompetitif sekali dan kekuatannya berimbang," imbuh Sugeng.
Di sisi lain, pelatih 38 tahun itu menyebut peta persaingan di PON dinilai sangat merata. Namun, menurut Sugeng ada empat daerah yang bakal menjadi pesaing terberat bagi DIJ. Yakni, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur. "PON kali ini pasti semakin ketat karena setiap daerah menunjukkan berkembang setiap tahunnya," katanya. (ard/din)
Editor : Editor Content