Ada Perubahan jika Banyak Anak Mudayang Mau Terjun
Di Asia dan Eropa, perkembangan sepak bola juga berjalan seiring tumbuhnya ekonomi kapitalisme. Klub-klub yang berdiri di kota yang banyak berdiri pabrik-pabrik menjadi hiburan pekerja di akhir pekan.
Rizal SN, Sleman
Dosen Ilmu Komunikasi UMY Fajar Junaedi mengatakan, hal itulah kenapa kemudian muncul Hooligans dan Ultras sebagai kelompok suporter yang loyal mendukung klub. Simbol ultras bergambar palu menandakan berasal dari kelas pekerja.
Perbedaanya, di Eropa kapitalisme tumbuh karena industrialisasi dan persaingan sehat. Sementara di Indonesia lebih pada kapitalisme semu yang berkembang seiring bangkitnya orde baru (orba). Persaingan bisnis tidak terjadi secara sehat, sebab ada campur tangan negara dan kedekatan dengan penguasa.
Klub-klub di Indonesia pernah terbagi menjadi Galatama dan Perserikatan. Ketika terjadi penggabungan diantara keduanya, banyak klub-klub eks Galatama yang tidak bisa bertahan lama. Lain dengan klub eks Perserikatan yang dekat dengan pemerintahan dan dibiayai APBD. "Pada masa kapitalisme semu awal ini, peran media mainstream luar biasa. Saling bekerja sama simbiosis dengan media saat itu," ujarnya.
Ia mencontohkan pada masa sekitar medio 2000an, bagaimana Radar Jogja identik dengan berita-berita PSS Sleman dan KR dengan PSIM Jogja. Hal yang sama dengan Jawa Pos di Surabaya dengan Persebaya dan Indopos di Jakarta yang saat itu banyak memberitakan Persija di era Ketum Sutiyoso. "Karena waktu itu pemberitaan Persija di Kompas sedikit sekali," imbuhnya.
Selain kapitalisme semu, kata kunci kedua mengenai sepak bola Indonesia saat ini adalah kalangan kelas menengah. Fajar mengatajan, potensi dari kalangan kelas menengah terutama akademisi di DIJ luar biasa, bahkan Solo sebenarnya kalah. Namun memang bum semua bisa dimaksimalkan.
Ia mencontohkan bagaimana ide memanfaatkan infrastruktur yang ada di kampus. Dengan membuat MoU antara kampus dan klub maka menjadi simbiosis yang menguntungkan bagi keduanya. Di DIJ banyak kampus yang mempunyai fisioterapis dan pendidikan olahraga, mereka jelas memiliki resources yang bisa dimagangkan. Termasuk fasilitas olahraga seperti lapangan dan gym yang dapat dimanfaatkan.
"Kapitalisme semu akan berakhir ketika yang berusia muda dan punya potensi, bisa sadar. Mereka yang jadi bagian klub membuat kebijakan dan visi positif. Masa depan memang di generasi muda. Tapi tidak potong generasi, tapi saling sinergi. Yang susah kan itu," ujarnya.
Miftakhul FS kembali mengungkapkan saat Piala AFF 2016 akan dimulai, jauh hari dia sudah meyakini tidak akan juara, karena sudah tidak jelas sejak awal. Menurutnya, jika memang ingin membangun sepak bola Indonesia yang baik maka perlu mengubah pola pikir pengembangan sepak bola. "Kita saat ini tidak punya plane atau perencanaan dari bawah ke atas," cetusnya.
Ia mencontohkan pelatih Piter Huistra yang akan dikontrak PSSI. Piter sebenarnya ingin membikin kurikulum pengembangan sepak bola berjenjang selama beberapa tahun ke depan. Namun belum tentu pas jika diterapkan karena kultur Eropa dan Indonesia beda. "Kita sebenarnya bisa bikin sendiri, namun masalahnya pemerintah dan PSSI mau menerapkan atau tidak ?" tuturnya.
Ia melihat, pola pembinaan sepak bola sejak pemain bola menimba ilmu di SSB sudah salah. Ketika latihan drible, kontrol, passing belum baik betul, sudah dituntut untuk juara. Hal ini yang membedakan dengan paradigma pembinaan di banyak negara sepak bola lain. "Ketika anak-anak, yang utama latihan. Kompetisi hanya hore-hore saja untuk senang-senang. Tidak harus juara. Juaranya nanti kalau sudah dewasa," bebernya.
Jenjang junior adalah menanamkan disiplin mengenai permainan dasar sepak bola yang betul. Itulah kenapa dulu timnas memiliki tim junior Primavera yang dilatih di Eropa. Fim mengatakan saat Indonesia juga pernah menjadi juara pelajar Asia tahun 1984-1985. Namun saat Primavera diperkuat Kurniawan dkk lalu mengadakan uji coba dengan Timnas Korea Selatan dan kalah 1-0. "Saat itu mereka dikritisi habis-habisan. Tapi banyak yang lupa saat itu Kurniawan masih 19 tahun dan lawannya pemain senior," ungkapnya.
Menurutnya, dengan adanya kurikulum yang bisa diterapkan di semua jenjang dan ada masterplane pengembangan sepak bola Indonesia maka akan terlihat hasilnya beberapa belas tahun ke depan. Pada kepengurusan PSSI kali ini, dia sedikit optimistis akan ada perubahan jika banyak anak muda yang mau terjun ke sepak bola dan mempunyai visi yang positif. (din/ong)
Editor : Administrator
Ia melihat, pola pembinaan sepak bola sejak pemain bola menimba ilmu di SSB sudah salah. Ketika latihan drible, kontrol, passing belum baik betul, sudah dituntut untuk juara. Hal ini yang membedakan dengan paradigma pembinaan di banyak negara sepak bola lain. "Ketika anak-anak, yang utama latihan. Kompetisi hanya hore-hore saja untuk senang-senang. Tidak harus juara. Juaranya nanti kalau sudah dewasa," bebernya.
Jenjang junior adalah menanamkan disiplin mengenai permainan dasar sepak bola yang betul. Itulah kenapa dulu timnas memiliki tim junior Primavera yang dilatih di Eropa. Fim mengatakan saat Indonesia juga pernah menjadi juara pelajar Asia tahun 1984-1985. Namun saat Primavera diperkuat Kurniawan dkk lalu mengadakan uji coba dengan Timnas Korea Selatan dan kalah 1-0. "Saat itu mereka dikritisi habis-habisan. Tapi banyak yang lupa saat itu Kurniawan masih 19 tahun dan lawannya pemain senior," ungkapnya.
Menurutnya, dengan adanya kurikulum yang bisa diterapkan di semua jenjang dan ada masterplane pengembangan sepak bola Indonesia maka akan terlihat hasilnya beberapa belas tahun ke depan. Pada kepengurusan PSSI kali ini, dia sedikit optimistis akan ada perubahan jika banyak anak muda yang mau terjun ke sepak bola dan mempunyai visi yang positif. (din/ong)
Editor : Administrator