Ketika Kepentingan Politik dan Bisnis Saling Berkelindan
Indonesia kenapa gagal juara Piala AFF lagi? Sudah 25 tahun tidak mendapat gelar di tingkat Asean dan Asia. Apa sebenarnya masalahnya?
RIZAL SN, Sleman
PERTANYAAN itu terlontar saat diskusi membincangkan masa depan sepak bola Indonesia di Dongeng Kopi, Jalan Wahid Hasyim, Gorongan, Condongcatur Depok, Sleman, Senin malam (26/12) lalu.
Pertanyaan itu tidak hanya ada di benak sekitar 50-an peserta diskusi. Namun mungkin juga 250 juta rakyat Indonesia. Pemantik diskusi, Miftakhul FS wartawan Jawa Pos, penulis buku Mencintai Sepak Bola Indonesia Meski Kusut dan Fajar Junaedi, dosen ilmu komunikasi UMY yang juga penulis buku Merayakan Sepak Bola tentu juga tak tahu pasti jawabannya.
Seperti lirik lagu pembuka film kartun Dragon Ball, jawabnya mungkin hanya ada di ujung langit. Ya, sengkarut dan kusutnya sepak bola Indonesia sudah kadung rumit. Banyak masalah dan kepentingan saling ber-kelindan. Namun bukan ber arti tidak ada secercah cahaya untuk mengurainya satu-persatu .
Memang, sepak bola dan Timnas Indonesia kita sudah seperempat abad tidak mendapat gelar mayor. Hampir sama dengan klub Inggris Liverpool yang sejak Premier League dimulai tahun 1991, tak kunjung menjadi juara.Kesabaran fans Liverpool setali tiga uang dengan fans Garuda.
Liverpudlian boleh berkilah meskipun tidak juara liga namun Steven Gerrard menyabet Liga Champions dan Piala UEFA. Jangan lupa, 2008 Timnas Indonesia juga juara Piala Ke-merdekaan mengalahkan Libya.
Hampir mirip bukan ? Miftahul yang masuk menjadi wartawan Jawa Pos sejak 2005 mengatakan, jika bisa dipilah dan diamati, salah satu alasan kegagalan Indonesia memiliki Timnas yang bagus karena kompetisinya juga bermasalah. Liga atau klub di Indonesia banyak digunakan segelintir orang untuk ajang kepentingan politik dan bisnis.
"Ada yang rela keluar uang banyak menghidupkan klub, tapi jelas mengharapkan kom-pensasi di belakangnya. Jika dekat dengan pemerintahan, ada banyak sekali proyek pe-ngadaan, proyek infrastruktur olahraga dan sepakbola bisa jadi celah. Bisa jadi dapat kontrak pengadaan. Itu banyak terjadi tapi sedikit yang tahu," ujarnya.
Selain itu, adalah permainan agen pemain dan judi pengaturan skor pertandingan. Bisa dibilang seperti kentut. Ada baunya tapi tidak ada wujudnya. Pengaturan skor bisa melalui agen pemain. Sebab satu agen bisa memiliki pemain di beberapa klub berbeda.
"Bisa dikendalikan jika kedua tim bertemu. Itulah kenapa kuota pemain asing selalu besar, lima pemain. Sekarang direduksi empat asing satu Asia. Selalu ada celah," imbuhnya.
Politikpun sama. Menurutnya masih ada sekitar 60 persen kekuatan politik yang ada di balik klub-klub di Indonesia. Poli-tik tidak bisa dihilangkan selama suporter masih bisa diarahkan. Baik secara halus maupun terang-terangan. Perlawanan menurut-nya bisa dimulai dari suporter dengan hanya mendukung klub dan tidak mendukung lainnya (pengurus klub).
"Kalau suporter mandiri, datang ke stadion hanya mendukung klub, kekuatan politik bisa direduksi," bebernya.Ia mengungkapkan, suporter Persib Bobotoh, setelah dilakukan survey komprehensif sampai ke kantong-kantong di tingkat desa, jumlahnya mencapai 3 juta orang. Jumlah tersebut tentu menjadi pangsa pasar pemilih dan bisnis yang meng-giurkan. Termasuk juga mungkin basis masa klub lainnya.
"Sisi positifnya, sudah mulai ada anak muda yang masuk ke sepak bola, berani memegang klub dan mencoba mereduksi semua itu. Ada dari Samarinda, Bali, sebentar lagi Surabaya. Saya harap sih bisa menyebar ke seluruh Indonesia," ungkapnya.
Jika kompetisi reguler ternyata banyak bopengnya, maka sulit mengharapkan pemain dengan kualitas yang sebaik negara lain. Miftahul yang juga alumni FIK UNY mengatakan, hal itu ditambah dengan kualitas pelatih lokal yang minim dalam penerapan sport science dalam model kepelati-hannya.
Mereka kebanyakan hanya mengandalkan pengalaman selama menjadi pemain di masa lalu.Ia menyebutkan, ada pelatih lokal yang menjadi pelatih tim nasional yang panjang lebar bicara kepelatihan yang menurut si pelatih sedang berkembang di Eropa. Yaitu bagaimana bertahan, menyerang, menjaga fisik, pe-riodesasi peak performance-nya.
"Dia pelatih top nasional. Tapi saya sudah pelajari apa yang dia omongkan 15 tahun lalu. Itu semua sudah ada jauh sebelum-nya dan tidak dipelajari pelatih saat ini. Jadi sudah ketinggalan jauh," cetusnya. Kemudian dia juga men-ceritakan, saat meliput sebuah tim ISL di Jawa Timur dengan pelatih yang pernah membawa timnya juara liga tahun se-belumnya. Namun pola latihan-nya monoton hampir sebulan tanpa variasi.
"Saya sampai menawarkan buku model kepelatihan waktu saya kuliah. Lengkap model latihan harian, mingguan sampai bulanan. Model kepelatihan saat ini sudah jauh mundur dan hanya berdasarkan pengalaman si pelatih. Di samping mudahnya mendapat lisensi pelatih di In-donesia," ujarnya.
Selain itu, jika ditilik dari segi teknis, jarang sekali tim di Indonesia yang menggunakan jasa pelatih fisik. Itulah kenapa pemain Indonesia hanya bisa bermain separo babak dan mlempem di penghujung babak kedua. Dari sedikit pelatih itu, Fim menyebut PSIM Jogja, PSS Sle-man, Persipura di era Jacksen Tiago dan Beni Dolo yang lekat dengan pelatih fisik Octavianus Matakupan. "Pelatih timnas Piala Asia 2007 Ivan Kolev pernah bilang, pemain kita 80 persen jalan 20 baru lari," ke lakarnya. (din/ong/bersambung) Editor : Administrator
Jika kompetisi reguler ternyata banyak bopengnya, maka sulit mengharapkan pemain dengan kualitas yang sebaik negara lain. Miftahul yang juga alumni FIK UNY mengatakan, hal itu ditambah dengan kualitas pelatih lokal yang minim dalam penerapan sport science dalam model kepelati-hannya.
Mereka kebanyakan hanya mengandalkan pengalaman selama menjadi pemain di masa lalu.Ia menyebutkan, ada pelatih lokal yang menjadi pelatih tim nasional yang panjang lebar bicara kepelatihan yang menurut si pelatih sedang berkembang di Eropa. Yaitu bagaimana bertahan, menyerang, menjaga fisik, pe-riodesasi peak performance-nya.
"Dia pelatih top nasional. Tapi saya sudah pelajari apa yang dia omongkan 15 tahun lalu. Itu semua sudah ada jauh sebelum-nya dan tidak dipelajari pelatih saat ini. Jadi sudah ketinggalan jauh," cetusnya. Kemudian dia juga men-ceritakan, saat meliput sebuah tim ISL di Jawa Timur dengan pelatih yang pernah membawa timnya juara liga tahun se-belumnya. Namun pola latihan-nya monoton hampir sebulan tanpa variasi.
"Saya sampai menawarkan buku model kepelatihan waktu saya kuliah. Lengkap model latihan harian, mingguan sampai bulanan. Model kepelatihan saat ini sudah jauh mundur dan hanya berdasarkan pengalaman si pelatih. Di samping mudahnya mendapat lisensi pelatih di In-donesia," ujarnya.
Selain itu, jika ditilik dari segi teknis, jarang sekali tim di Indonesia yang menggunakan jasa pelatih fisik. Itulah kenapa pemain Indonesia hanya bisa bermain separo babak dan mlempem di penghujung babak kedua. Dari sedikit pelatih itu, Fim menyebut PSIM Jogja, PSS Sle-man, Persipura di era Jacksen Tiago dan Beni Dolo yang lekat dengan pelatih fisik Octavianus Matakupan. "Pelatih timnas Piala Asia 2007 Ivan Kolev pernah bilang, pemain kita 80 persen jalan 20 baru lari," ke lakarnya. (din/ong/bersambung) Editor : Administrator