Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Saatnya Elang Jawa Terbang Tinggi di Final Indonesia Soccer Championsip

Administrator • Kamis, 22 Desember 2016 | 18:52 WIB
ASA TINGGI : Malam ini PSS Sleman mereka menghadapi PSCS Cilacap di final ISC-B yang dihelat di Stadion Gelora Bumi Kartini Jepara.(SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA)
ASA TINGGI : Malam ini PSS Sleman mereka menghadapi PSCS Cilacap di final ISC-B yang dihelat di Stadion Gelora Bumi Kartini Jepara.(SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA)

Kito Ingin Cetak Dua Gol ke Gawang PSCS


RADARJOGJA.CO.ID - JEPARA - Deny Rumba dan Waskito Chandra menjadi pemain terakhir yang keluar dari bus, Rabu pagi (21/12). Keduanya berangkulan memasuki lapangan Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara saat PSS Sleman menjajal lapangan di Stadion Bumi Kartini.


Tidak tampak ketegangan di wajah keduanya. Meskipun malam ini, penggawa Laskar Sembada-julukan akan berhadapan dengan PSCS di partai puncak perebutan gelar juara Indonesia Soccer Championsip (ISC) B.


Kemenangan tentu menjadi harapan seluruh publik Sleman. Mereka sejak awal telah berencana berbondong-bondong menginvasi Jepara untuk menyaksikan partai final perebutan juara kasta kedua kompetisi sepakbola Indonesia 2016.


Bagi Kito, selain berupaya membawa PSS Sleman memenangi pertandingan, dia tentu berusaha menambah perbendaharaan golnya di laga tersebut.


Kito saat ini mengoleksi 14 gol. Hasil dari 9 gol saat memperkuat Madiun Putra dan ditambah 5 gol saat berseragam PSS. Torehanya masih tertinggal sebiji gol dari striker PSIS Semarang Johan Yoga Saputra dengan 15 gol. "Saya akan memberikan yang terbaik untuk PSS jika dipercaya pelatih. Semoga bisa cetak dua gol untuk melewati Johan," ungkapnya.


Dengan kondisi lapangan yang tidak terlalu bagus, besar kemungkinan pelatih PSS Seto Nurdiantoro akan memaksimalkan kedua sayap. Formasi tidak akan berubah dan mengandalkan skema 4-2-3-1. Kito dan Dicky Prayoga atau Tri Handoko yang biasa menyisir kedua sisi lapangan akan menjadi tumpuan. Suplai bola dari sisi sayap akan menjadi peluang untuk Riski Novriansyah di ujung tombak.


Lini tengah menjadi pos yang akan berusaha dimaksimalkan Busari dan Dave Mustaine. Penetrasi keduanya berharap bisa membahayakan gawang PSCS. Seperti saat tendangan jarak jauh pemain bernomor punggung 17 itu ke gawang Tema Mursadat di 8 besar lalu.


Final ISC-B juga menjadi ajang reuni mantan penggawa Laskar Sambernyawa, julukan Persis Solo. Ada dua mantan penggawa Persis terlibat dalam pertarungan tersebut. Yakni striker muda Chandra Waskito di kubu PSS dan M. Wahyu Fitrianto di barisan tengah PSCS.


Kito merupakan jebolan Persis Junior baru merasakan kipah di tim senior sejak 2013. Yaitu saat tim Persis versi LPIS saat ditukangi pelatih Widyantoro. Namun karena gagal bersaing dengan pemain Persis lainnya, di ISC-B 2016 ini Kito berlabuh di Madiun Putra di bawah asuhan pelatih Nova Arianto.


Mendapat polesan mantan bek Persib Bandung itu, pemain yang di PSS memilih nomor punggung 50 itu menjelma menjadi striker yang ditakuti di kotak penalti. Pemain yang pernah mencicipi tampil di Piala Danone di Prancis tersebut sempat mencetak lima gol dalam satu laga. Yaitu ketika Madiun bertemu Mojokerto Putro di babak penyisihan Grup 5 lalu.


Setelah gagal membawa Madiun Putra lolos 16 besar, manajemen PSS merekrutnya di detik-detik akhir penutupan transfer sebelum 16 besar bergulir. Torehan 9 gol di Madiun Putra menjadi pertimbangan. Di PSS ketajaman pemain yang suka naik gunung itu tetap terjaga, bukti 5 golnya membantu Super Elang Jawa Terbang tinggi sampai partai puncak.


Di final, Kito akan bertemu mantan rekan setimnya di Persis, M. Wahyu. Dipercaya pelatih Gatot Barnowo sebagai pemain tengah Wahyu tentu akan menempel ketat bekas kompatriotnya untuk menciptakan peluang. "Saya bersama PSCS juga ingin juara, baik di Solo atau Jepara bagi saya sama-sama punya kenangan sendiri," ujar Wahyu.


Namun melihat data statistik sejak 16 besar, PSS bisa lebih diunggulkan. Busari dkk menjadi tim yang belum terkalahkan. Sementara PSCS menderita sekali kekalahan saat bertandang ke Jogjakarta. PSIM menjadi tim yang mengalahkan Jimi Suparno dengan skor 3-1 waktu itu.


Melihat hitungan di atas kertas, Seto tidak terlalu memperhitungkan. Sebab menurutnya permainan berada di atas lapangan. "PSCS punya pemain berpengalaman dan mengandalkan organisasi antarlini. Itu yang kami waspadai, selain faktor lapangan," ujar pelatih asal Kalasan, Sleman tersebut. (riz/din/ong) Editor : Administrator

#PSS #FInal ISC-B