SANG LEGENDA: Alan Budikusuma Wiratama saat berdialog dengan anak-anak di Hartono Mall, kemarin (20/3).
Bagi Pengalaman Sekaligus Cari Bibit Atlet Bulutangkis
Gencar mengenalkan olahraga tepok bulu, Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) melalui Bidang Komunitas menginisiasi kegiatan Badminton Mall. Legenda bulutangkis Alan Budikusuma Wiratama juga ikut berbagi tips dan trik. Kehadirannya menjadi magnet tersendiri.
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
DUA hari kemarin, Sabtu (19/3) dan Minggu (20/3), suasana atrium Hartono Mall sedikit berbeda. Anak-anak dengan semangat menjinjing raketnya masing-masing. Mereka menunggu giliran untuk nomor lomba ketangkasan. Anak-anak juga terlihat antusias dan tak sabar untuk bisa bertatap muka dengan Alan Budikusuma.
Untuk pertama kalinya kegiatan bulutangkis ini masuk mal. Kegiatan ini merupakan salah satu cara PP PBSI bekerja sama dengan Pengprov PBSI DIJ untuk mengenalkan bulutangkis ke khalayak. Agar makin dilirik, legenda bulutangkis ikut dilibatkan. Alan Budikusuma salah satunya. Peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 ini ikut berbagi pengalaman dan tips.
"Kuncinya kalian harus semangat latihan, jangan lupa makan-makanan bergizi, istirahat cukup, minum susu, dan kalau bosan ya ajak bapak ibu jalan-jalan ke pantai," ujar Alan.
Alan kemudian berdialog dengan sejumlah anak-anak. Alan pun tertawa terbahak ketika mendapati celotehan seorang peserta yang mengaku selalu sarapan lele bakar. Dia juga cukup terkejut mendengar ucapan seorang anak yang mengaku rutin berlatih seminggu lima kali.
"Animonya selalu baik. Ada yang rutin berlatih lima kali dalam seminggu. Jogja memang menyimpan bibit-bibit yang luar biasa," tandas suami Susi Susanti ini.
Alan mengungkapkan, tahun ini PBSI bekerja sama dengan pengprov ingin lebih memopulerkan bulutangkis. Dari yang tadinya hanya lewat kejuaraan di lapangan, kini memakai strategi yang berbeda dengan masuk mal.
Dia mengakui, popularitas olahraga tepok bulu ini tidak segempita di tahun 1980 dan 1990an. Belum tentu televisi saat ini menyiarkan pertandingan bulutangkis. Demikian pula media cetak, juga belum pasti mengulas pertandingan bulutangkis.
Kondisi inilah yang membuat PBSI lebih gencar menyosialisasikan bulutangkis, dengan menanamkan bahwa olahraga ini menyenangkan. Untuk mempelajarinya juga mudah. Bulutangkis juga merupakan jenis olahraga yang tergolong aman. Artinya, anak-anak minim bisa terkena cedera jika benar-benar tekun dalam berlatih.
Alan mengungkapkan, usia anak yang menjadi sasaran kegiatan ini. Sebab, pembinaan dan pembibitan untuk menjadi atlet bulutangkis tidak bisa dikejar dalam waktu empat atau lima tahun. Tapi, butuh waktu 10 tahun untuk bisa mendapat atlet yang matang.
"Seandainya dari anak-anak ini memilih untuk berkarir di bulutangkis, penghasilan yang bisa mereka dapat juga sudah sangat menjanjikan. Bisa punya masa depan yang baik," ujar mantan atlet berusia 47 tahun ini.
Meski perkembangan bulutangkis di tanah air cukup baik, belum lagi ada "Susi Susanti" muda yang mengisi kekeringan prestasi Indonesia di level internasional. Tidak gampang bagi PBSI untuk mencari bibit-bibit berkualitas, meski dalam kegiatan seperti ini ataupun kejuaraan banyak calon-calon atlet berbakat. "Pemain putri memang jauh lebih sedikit, namun PBSI terus mencari bibit-bibit itu," ujarnya.
Selain Alan, legenda bulutangkis lainnya yakni Haryanto Arbi juga meluangkan waktunya berbagi pengalaman. Dalam ajang Badminton Mall ini digelar dua kompetisi yakni, kompetisi senaminton yang diikuti sembilan grup dan kompetisi pukulan bulutangkis yang diikuti 80 atlet muda.
Kepala Bidang Komunitas PP PBSI Eddy Prayitno menuturkan, setelah Jogja, kegiatan ini akan menyambangi Solo serta 20 provinsi lainnya seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung. Kemudian di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur. Serta di Makassar, Manado, Gorontalo, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua Barat.
"Ini tak lepas dari pencanangan 20.000 anak bisa bermain bulutangkis. Dari jumlah itu, harapannya 50 persennya menjadi atlet potensial," ujar Eddy. (ila/ong) Editor : Administrator