Beragam harapan dan doa disampaikan warga saat HUT ke-270 Kota Jogja. Sesuai dengan tema tahun ini, Otentik Konkret, rangkaian HUT ke-270 Kota Jogja Rabu (7/10) menghadirkan kegiatan dan karya nyata yang dapat dirasakan dan bermanfaat bagi masyarakat.
Sampah, sampah, sampah. Itulah jawaban mayoritas warga Kota Jogja jika ditanya pekerjaan rumah apa yang ahrus segera dilakukan.
Selama beberapa tahun terakhir, Kota Jogja dikepung dengan tumpukan sampah di depo, bahkan pinggir jalan. Tapi disadari atau tidak dalam setahun terakhir kondisi tersebut mulai menghilang.
Baca Juga: Anggaran Pilkada Kebumen 2029 Naik Jadi Rp 68 Miliar, Dicicil mulai 2027
Pengelolaan sampah menjadi kuncinya. Kota Jogja di bawah kepemimpinan wali kota Hasto Wardoyo dan wakil wali kota Wawan Harmawan meluncurkan Mas Jos. Akronim dari Masyarakat Jogja Olah Sampah. Ada lima langkah Mas Jos yang dikampanyekan, yaitu pilah sampah sesuai jenis, sampah anorganik dibawa ke bank sampah, olah sampah organik, habiskan makanan dan gunakan wadah berulang.
Bank sampah di Kota Jogja pun berhasil mengubah masalah tersebut menjadi rupiah. Di Bank Sampah Pak Q One, yang beralamat di Gedongkiwo, Mantrijeron, botol plastik bekas diolah menjadi lembaran bahan baku wayang.
Produk kerajinan tersebut kemudian dibentuk menjadi berbagai karakter, mulai dari tokoh wayang hingga karakter film dan anime. "Awalnya berangkat dari sanggar tari. Kalau mereka latihan, bawa sampah untuk nanti kami jual," ujar Seksi Pengembangan Wayang Upcycle Pak Q One Budi Anggoro saat ditemui di tempat produksi.
Baca Juga: Bench Points Jadi Kunci Tim Putra Olifant Gulung De Britto 45-25
Karyanya pun sudah laku dijual. Produk ukuran kecil dibanderol sekitar Rp 80 ribu, sedangkan ukuran sekitar 40 sentimeter bisa mencapai Rp 150 ribu. Untuk ukuran besar, harga dapat menembus Rp 350 ribu.Menariknya, bahan utama yang digunakan memiliki harga sangat murah.
Satu botol plastik bekas ukuran 1,5 liter hanya dihargai sekitar Rp 500."Kalau wayang Bima itu habis sekitar delapan botol. Kalau satu botol cuma Rp 500, berarti bahan bakunya sekitar Rp 4 ribu. Tapi bisa dijual sampai Rp 350 ribu," ungkapnya.
Pemasaran produk saat ini banyak dilakukan melalui media sosial, terutama Instagram dan TikTok. Pesanan datang dari berbagai daerah, seperti Salatiga dan Jakarta. Bahkan, produk tersebut telah dikirim ke sejumlah negara, antara lain Amerika Serikat, India, Korea Selatan, dan Australia.
Baca Juga: Megathrust Nyata tapi Jangan Panik Berlebihan, Kebumen Punya 11 Potensi Bencana
Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kota Jogja Supriyanto menyampaikan, partisipasi masyarakat dalam program Mas Jos terus mengalami peningkatan signifikan. Pada 2025, volume sampah yang berhasil dikelola dari tingkat hulu tercatat sekitar 21,20 ton per hari. Angka tersebut melonjak menjadi 47,68 ton per hari pada tahun 2026, atau naik sekitar 124,9 persen.
Menurutnya, perkembangan gerakan Mas Jos juga terlihat nyata dari bertambahnya keterlibatan warga. Saat ini sudah terdapat sekitar 40.742 Keluarga Mas Jos, disokong keberadaan bank sampah yang jumlahnya meningkat dari 698 unit pada 2025 menjadi 713 unit pada 2026.
Melalui berbagai skema gerakan Mas Jos seperti pengolahan ember organik, pembuatan biopori, bank sampah, hingga pengelolaan sampah daun, Kota Jogja kini mampu mengelola sekitar 47,68 hingga 50 ton sampah per hari.
Baca Juga: Lempar Kesalahan dan Berbelit, Hakim Geram di Persidangan Ketua Yayasan Daycare Little Aresha
Supriyanto menyebut, berkat Mas Jos Kota Jogja tidak lagi membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan selama beberapa bulan berturut-turut pada tahun 2026. "Sampah tidak lagi dipandang sekadar limbah yang harus dibuang, tetapi dipilah, diolah, dan sebagian memiliki nilai ekonomi,” terang Supriyanto.
Apa hanya sampah? Kota Jogja juga mulai melakukan pengentasan permukiman kumuh. Dengan target 0 persen permukiman kumuh pada 2029 mendatang. Untuk mewujudkannya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kota Umi Akhsanti menyebut Pemkot Jogja menyiapkan program mundur, munggah, madhep kali (M3K) untuk kawasan bantaran sungai. Juga dengan program Mahananni atau perumahan dan permukiman layak huni.
Salah satunya dengan rutin menggelar program bedah rumah tak layak huni (RTLH) yang tanpa dibiayai dengan APBD Kota Jogja. Umi membeberkan pada 2026 ini ditargetkan bedah RTLH sebanyak 200. Hingga September ini sudah terealisasi 88 rumah. Sedang selama 2025 melakukan bedah rumah di 68 rumah. “Untuk pembiayaan pemkot menggelar charity night sebagai bagian dari HUT Kota Jogja, juga dari CSR dan dana non-APBD seperti dari Baznas,” jelasnya.
Editor : Heru Pratomo