Arsip Jadi Sumber Sejarah Faktual dan Narasi Keistimewaan DIY

Rizky Wahyu • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:21 WIB
Arsiparis Ahli Madya Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Rudi Andri Syahputra dan Den Baguse Ngarso saat menjelaskan tentang pentingnya arsip di Halaman Grhatama DPAD DIY, Sabtu (29/8) sore. (Rizky Wahyu/Radar Jogja)
Arsiparis Ahli Madya Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Rudi Andri Syahputra dan Den Baguse Ngarso saat menjelaskan tentang pentingnya arsip di Halaman Grhatama DPAD DIY, Sabtu (29/8) sore. (Rizky Wahyu/Radar Jogja)

BANTUL - Talkshow bertajuk “Menjaga Memori Menghidupkan Budaya” baru saja diadakan di halaman Gedung Grhatama Pustaka Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY. Kegiatan yang didukung dana keistimewaan itu menjadi bagian dari rangkaian acara Jogja Book Fair 2026 dan Pameran Arsip.

Dalam acara itu hadir sebagai narasumber Arsiparis Ahli Madya Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Rudi Andri Syahputra. Bicara soal arsip, Rudi menekankan pentingnya korelasi antara arsip sebagai sumber sejarah  faktual dengan narasi Keistimewaan DIY.

Baca Juga: Luncuran Awan Panas Guguran Dua Kilometer Sebabkan Terbakarnya Vegetasi di Gunung Merapi

Bukti-bukti otentik sejarah itu di antaranya, seperti penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia, hingga pelantikan Ir Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS)  di Bangsal Sitihinggil Keraton Yogyakarta pada 17 Desember 1949.  “Itu fakta kearsipan yang tak terbantahkan,” kata Rudi Sabtu (29/8).

Dia berpandangan,  narasi Keistimewaan DIY agar tidak dianggap sekadar dongeng oleh generasi Gen Z, bukti sejarah kearsipan harus dihadirkan. Rudi mendorong DPAD DIY mengadakan pameran. “Pameran virtual Keistimewaan DIY berbasis data yang teruji," katanya.

Baca Juga: Prediksi Tottenham Hotspur vs Newcastle United Premier League, Balas Dendam The Lilywhites

Rudi juga ingin arsip-arsip yang ada di DIY tersebut bisa diunggah ke Sistem Informasi Kearsipan Nasional (SIKN) dan Jaringan Informasi Kearsipan Nasional (JIKN). Tujuannya  agar data sejarah atau arsip statis tidak hanya diunggah di media sosial pribadi seperti Facebook atau Instagram. “Tapi bisa masuk ke dalam platform resmi JIKN agar dapat dipertanggungjawabkan secara akademis,” tegasnya.

Terkait wacana pemulangan ribuan manuskrip dan benda sejarah asal Jogja yang sekarang tersimpan di museum Inggris dan Belanda, Rudi memberikan pandangan kritis. Baginya yang paling krusial bukan fisik barang tersebut kembali. Tapi kesiapan tata kelola dan perawatan di dalam negeri. Sebab, ada lebih dari 7.000 item manuskrip Jogja yang dibawa Raffles ke British Museum. Sebagian lagi ada yang  tersimpan di Leiden, Belanda.

"Pertanyaannya, kalau dikembalikan, apakah kita siap merawatnya?,” tanya Rudi.

Menurut dia, opsi yang paling potensial adalah pertukaran informasi digital. Fisiknya  tetap berada di Inggris dan Belanda,  tapi data dan kopi digitalnya bisa  diakses melalui diplomasi kearsipan. Selain itu, Rudi juga mengingatkan,  ketersediaan arsip  sangat tergantung pada kedisiplinan pencipta arsip dalam menyerahkan arsip statisnya. Sebab, keutuhan fisik manusia maupun dokumen pasti memiliki batas waktu.

Talkshow juga menghadirkan Budayawan Susilo Nugroho yang akrab disapa Den Baguse Ngarsa. Dia memantik diskusi dengan menyoroti pentingnya pencatatan peristiwa-peristiwa lokal berjiwa nasionalisme yang kerap luput dari historiografi arus utama. Den Baguse mencontohkan peristiwa penurunan bendera Jepang di kawasan Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta. Kejadiannya menjelang aksi penyerbuan Kotabaru 7 Oktober 1945.

Peristiwa tersebut melibatkan dua orang perempuan yang membawa tangga bambu untuk menurunkan bendera Jepang secara sopan tanpa pertumpahan darah. Ini berbeda dengan aksi fisik bersenjata di daerah lain.

"Penting itu ditulis dulu. Bener salah keri, sing penting ono tulisane sek (benar atau salah belakangan, yang penting ada catatannya dulu, Red). Nanti ahli sejarah yang meneliti. Ada lebih dari seribu peristiwa lokal heroik yang belum tersentuh terjadi di DIY," bebernya.

 Den Baguse Ngarso berharap DPAD DIY dan lembaga kearsipan terus membuka akses seluas-luasnya bagi publik untuk memanfaatkan fasilitas kearsipan. Baik secara langsung maupun digital. Tahap awal yang perlu dikejar adalah keterjangkauan kuantitatif agar masyarakat semakin sadar akan pentingnya memori kolektif bangsa. "Yang penting dapat mengakses. Itu harus sebanyak mungkin," pintanya. (ayu/kus)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Dinas perpustakaan dan arsip (dpad) diy DPAD DIY dana keistimewaan DIY arsip