JOGJA - BMKG Yogyakarta menetapkan kawasan karst Gunungkidul sebagai wilayah paling rawan kekeringan pada musim kemarau 2026.
Pesisir Bantul dan Kulon Progo menyusul sebagai daerah berisiko tinggi karena minimnya cadangan air dan kemarau yang diprediksi lebih panjang.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, kawasan karst di Gunungkidul merupakan wilayah sangat rawan kekeringan karena memiliki cadangan air yang sangat terbatas.
Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 3045 K/40/MEM/2014, kawasan bentang alam karst meliputi 14 kemantren. Di antaranya Kapanewon Karangmojo, Nglipar, Paliyan, Ponjong, Purwosari, Rongkop, Girisubo, Saptosari, Semanu, Tanjungsari, Tepus, dan Wonosari.
Kemudian untuk wilayah yang masuk rawan kekeringan tersebar di wilayah pesisir Kulon Progo dan Bantul. Lantaran ketersediaan air sangat bergantung pada hujan dan sumber air yang terbatas.
Meliputi Kapanewon Kretek, Sanden, dan Srandakan (Bantul), serta Kapanewon Temon, Wates, Panjatan, dan Galur (Kulon Progo).
Baca Juga: Peringati Asadha dengan Puja Yatra, Kirab Relik Buddha Diikuti Belasan Ribu Umat
“Wilayah Sleman bagian timur dan utara masuk kategori sedang. Sementara Kota Jogja masuk kategori rendah kekeringan karena jaringan air bersih cukup baik,” ujar Reni saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Minggu (26/7/2026).
Ia mengingatkan agar wilayah-wilayah rawan mewaspadai potensi kekeringan ekstrem. Sebab pada tahun ini musim kemarau diprediksi lebih panjang. Akibat adanya aktivitas El Nino yang bertahan hingga akhir tahun.
Berdasarkan pantauan BMKG, sejumlah wilayah juga telah mengalami hari tanpa hujan secara berturut-turut. Adapun yang masuk kategori menengah (11–20 hari) di Kapanewon Semanu (Gunungkidul), kemudian kategori panjang (21-30 hari) terdeteksi di Kapanewon Cangkringan, Ngaglik, Pakem, Turi (Sleman).
Sementara untuk yang sudah masuk kategori sangat panjang (31-60 hari) meliputi Kapanewon Bambanglipuro, Banguntapan, Dlingo, Imogiri, Kasihan, Kretek, Piyungan, Pleret, Sanden, Sedayu, Sewon, Srandakan (Bantul), Berbah, Depok, Gamping, Godean, Kalasan, Minggir, Mlati, Moyudan, Ngemplak, Prambanan, Seyegan, Sleman, Tempel (Sleman).
Lalu Kapanewon Gedangsari, Girisubo, Karangmojo, Ngawen, Paliyan, Panggang, Patuk, Playen, Ponjong, Saptosari, Semin, Tanjungsari, Tepus, Wonosari (Gunungkidul). Kemudian Kapanewon Galur, Girimulyo, Kalibawang, Kokap, Lendah, Nanggulan, Panjatan, Pengasih, Samigaluh, Sentolo, Temon, Wates (Kulon Progo).
“Untuk yang sudah mengalami kekeringan ekstrem (lebih dari 60 hari) meliputi Bantul, Jetis, Pajangan, Pundong (Bantul) dan Rongkop (Gunungkidul),” beber Reni.
Baca Juga: Nasib Nermin Haljeta Masih Menggantung, PSIM Jogja Akui Masih Buka Proses Negosiasi
Terpisah, Analis Kebijakan Ahli Muda Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Iswari Mahendrarko menyampaikan, sudah menyiapkan langkah antisipatif menghadapi kemarau dengan menyiagakan Pos BPBD Tegal Turi dan Tim Reaksi Cepat selama 24 jam.
Meski secara geografis Kota Jogja memiliki potensi rendah dampak kekeringan, kondisi di musim kemarau dapat memicu bencana seperti kebakaran lahan akibat vegetasi yang mengering.
“Tim akan mempercepat penanganan apabila terjadi keadaan darurat,” imbuhnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita