Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Made in Jogja, Siswa SMK di DIY Berhasil Merakit Becak Listrik Bekalista

Guntur Aga Tirtana • Jumat, 17 Juli 2026 | 19:29 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa penasaran dengan becak kayuh listrik wisata (Bekalista) saat mengelilingi Alun-alun Selatan, Kota Jogja, Kamis (16/7).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa penasaran dengan becak kayuh listrik wisata (Bekalista) saat mengelilingi Alun-alun Selatan, Kota Jogja, Kamis (16/7).

 

 

Wajah transportasi ikonik Kota Gudeg resmi memasuki babak baru. Becak Kayuh Listrik Pariwisata atau akrab disapa Bekalista, becak listrik berbasis pemesanan daring pertama di Indonesia, secara resmi diluncurkan pada Kamis (16/7/2026) kemarin di Alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta. Upacara peresmian dipimpin langsung oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa.
 
Lahir dari semangat kebersamaan, Bekalista merupakan wujud nyata sinergi lintas pihak yang dijembatani oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Daerah Istimewa Yogyakarta. Proyek ini melibatkan PT Langit Biru Istimewa (PT LBI) selaku pengembang utama, mitra strategis PT YPTI, lima SMK BLUD se-DIY, serta platform kolaboratif JogjaKita, membuktikan bahwa kemajuan bisa dicapai lewat kerja sama seluruh elemen bangsa.
 
Bukan Menggantikan, Melainkan Membantu Pengayuh Becak
 
Presiden Direktur PT LBI sekaligus Prinsipal Bekalista, Ary Tjahyono, menjelaskan kehadiran inovasi ini sama sekali bukan untuk menggantikan profesi pengayuh becak, melainkan menjadi pendamping yang meringankan beban mereka.

Baca Juga: Fasilitas Belum Lengkap, 10 Gerai Koperasi Desa Merah Putih di Kulon Progo Belum Beroperasi
 
"Selama ini pengayuh becak bekerja sangat keras, bahkan seringkali harus bersaing dengan becak motor bensin yang lebih cepat. Bekalista hadir sebagai kaki tangan yang meringankan beban tenaga sekaligus meningkatkan pendapatan," ujar Ary, Jumat (17/7/2026).
 
Didesain dengan mengacu pada Surat Edaran Dirjen Hubdar/Kemenhub Nomor AJ. 005/3/5/DJPD/2019, kendaraan ini telah legal dan layak beroperasi di jalur pariwisata. Berbeda dengan sekadar modifikasi kendaraan lama, seluruh rangka, jok, hingga ornamen Bekalista dibuat ulang lewat proses reverse engineering demi menjamin standar keamanan dan kenyamanan setara kendaraan modern.
 
Sistem kelistrikannya pun dirancang dengan standar keamanan tertinggi karena menggunakan tegangan rendah 48 Volt (di bawah batas aman sengatan listrik standar internasional IEC 61140). Kemudian tahan debu dan air kelas IP67 serta motor listrik 750 Watt dengan torsi hingga 100 NM, sanggup membawa beban 300 kg dan menanjak kemiringan 15 persen. Untuk baterai LiFePo4 mampu melaju 50 km dengan kecepatan maksimal 20 km/jam dalam satu kali pengisian daya dan dilengkapi tiga tombol darurat pemutus arus

Baca Juga: Penggunaan RTH Publik Dibebani Retribusi, Warga Kampung Dipowinatan Kota Jogja Resah
 
Produk Lokal, Buatan Tangan Anak Bangsa
 
Salah satu kebanggaan terbesar Bekalista adalah rantai produksi yang sepenuhnya melibatkan kekuatan lokal. PT LBI menyediakan komponen inti kelistrikan dan standar kendaraan, PT YPTI menyusun gambar teknik serta peralatan produksi, sedangkan perakitan utamanya dikerjakan oleh siswa binaan di lima SMK BLUD se-DIY di bawah pengawasan ketat tim ahli.
 
Langkah ini sekaligus membuka peluang kerja baru, meningkatkan kualitas sumber daya manusia pendidikan vokasi, dan saat ini sedang mengajukan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) agar produk Bekalista diakui kualitasnya secara resmi.
 
Wakil Ketua Umum Kadin DIY Bidang Pariwisata, Arif Efendi, menegaskan proyek ini adalah bukti nyata kekuatan gotong royong. "Kami tidak bisa berjalan sendiri. Tugas Kadin adalah menjembatani dunia usaha, pendidikan, pemerintah, dan masyarakat agar semua bersatu menghasilkan karya bermanfaat bagi seluruh warga Yogyakarta," ujarnya.

Baca Juga: Kelanjutan Renovasi Stadion Mandala Krida Terancam Tersendat, BPKA dan BPO DIY Beda Pandangan
 
Gagasan ini pun telah mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat, serta telah dibahas mendalam bersama Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan harapan Bekalista nantinya menjadi percontohan nasional.
 
Tekan Emisi Karbon, Siap Layani Pemesanan Daring
 
Selain meringankan beban pengayuh, Bekalista menjadi solusi nyata untuk menekan polusi udara. Satu unit Bekalista yang beroperasi rata-rata 50 km per hari mampu mengurangi emisi karbon hingga 1.230 kg CO₂ per tahun dibandingkan becak motor bensin. Jika target penerapan 500 unit tercapai, Yogyakarta bisa memangkas emisi hingga 615 ton karbon setiap tahunnya.
 
Bekerja sama dengan JogjaKita, Bekalista juga resmi menjadi becak listrik pertama di Indonesia yang terintegrasi layanan pemesanan lewat aplikasi. Gembong Prakoso, Co-Founder sekaligus Komisaris JogjaKita, menyebut pola pengelolaan ini jauh dari nuansa kapitalis karena menjadi milik bersama.

Baca Juga: Final Piala Dunia 2026 Spanyol vs Argentina Jadi Duel Ideal! Juara Eropa Kontra Juara Bertahan Dunia
 
"Pengelolaan operasional berada di bawah Koperasi MNI, dan seluruh keuntungan akan dikembalikan untuk kesejahteraan pengayuh serta pengembangan ekosistem. Ini adalah ekonomi gotong royong yang sesungguhnya," jelasnya.
 
Pada tahap awal, aplikasi Bekalista telah siap digunakan dan melayani pemesanan dalam radius 2 km dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta, berpusat di kawasan Malioboro. Ke depannya layanan akan diperluas mencakup seluruh kota hingga ke pasar, sekolah, dan destinasi wisata lainnya.
 
"Belum ke Yogyakarta kalau belum mencoba naik Bekalista, dan belum lengkap kunjunganmu kalau belum berfoto di Malioboro," tutup Arif berharap kehadiran becak listrik ini menjadi ikon baru pariwisata Yogyakarta yang membanggakan.

Editor : Heru Pratomo
Bekalista Kadin DIY Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Gubernur DIY Hamengku Buwono X siswa smk