YOGYAKARTA – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih tercatat tinggi hingga Minggu (12/7/2026). Berdasarkan laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), gunung berapi setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut ini masih berstatus Level III (Siaga). Sepanjang periode pengamatan 00.00 hingga 24.00 WIB, tercatat 116 kali gempa guguran serta 13 kali luncuran lava pijar yang mengarah ke sejumlah sungai di barat daya puncak.
Secara visual, kondisi cuaca di sekitar Gunung Merapi bervariasi antara cerah, berawan, hingga mendung dengan angin bertiup lemah ke arah barat. Suhu udara berkisar antara 14.8 hingga 25.7 derajat Celcius dengan kelembaban 71-79.7 persen. Asap kawah bertekanan lemah teramati membubung dengan warna putih tipis setinggi 25 hingga 50 meter di atas puncak kawah.
Dari sisi kegempaan, selain 116 kali gempa guguran dengan amplitudo 2-31 mm dan durasi 30-196 detik, BPPTKG juga mencatat 95 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak, 1 kali Tremor Harmonik, 1 kali gempa Vulkanik Dangkal, serta 1 kali gempa Tektonik Jauh. Data ini mengindikasikan bahwa suplai magma dari perut bumi ke permukaan masih terus berlangsung.
Yang menjadi perhatian utama adalah teramatinya 13 kali guguran lava ke arah barat daya, meliputi aliran Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter. Material pijar ini merupakan bagian dari proses erupsi efusif yang masih berlangsung di Gunung Merapi.
BPPTKG mengingatkan bahwa potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas yang dapat meluncur pada sektor selatan-barat daya. Masyarakat diimbau untuk mewaspadai aliran Sungai Boyong dengan jarak luncur maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng dengan jarak luncur maksimal 7 km. Di sektor tenggara, potensi bahaya mengancam Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Dengan status Siaga yang masih berlaku, BPPTKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting:
1. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya yang telah ditentukan.
2. Waspada terhadap bahaya lahar dan awan panas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi.
3. Antisipasi gangguan abu vulkanik dari erupsi yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali oleh pihak berwenang.
Masyarakat juga diimbau untuk terus memantau informasi resmi melalui kanal-kanal PVMBG dan BPPTKG.
Editor : Iwa Ikhwanudin