Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Seniman Dicekal saat Performing-art di ArtJog 2026

Adib Lazwar Irkhami • Jumat, 19 Juni 2026 | 21:52 WIB
PROTES: Ais, seniman dari Kelompok ArtJoke saat melakukan performing-art. (Rizky Wahyu/Radar Jogja)
PROTES: Ais, seniman dari Kelompok ArtJoke saat melakukan performing-art. (Rizky Wahyu/Radar Jogja)

 

JOGJA - Pembukaan pergelaran seni kontemporer tahunan, ArtJog 2026 di Jogja National Museum (JNM), Jumat malam (19/6) diwarnai ketegangan. Seorang seniman dari Kelompok ArtJoke bernama Ais diamankan pihak keamanan setelah melakukan aksi performing art spontan tak lama setelah prosesi pembukaan usai.

Aksi ini diduga merupakan bentuk protes terhadap pendanaan ArtJog 2026 yang melibatkan entitas bisnis milik Didit Hediprasetyo (putra Presiden Prabowo Subianto) atau Didit Foundation.

Dari pantauan Radar Jogja, aksi tersebut dilakukan di depan panggung pintu masuk utama gelaran ArtJog 2026. Ais sang penampil melakukan performing art dengan tabur bunga dan mencoret tulisan art atau seni yang katanya saat ini sudah mati.

Baca Juga: Hadapi Disrupsi Teknologi, ISI Jogjakarta Dorong AI Jadi Alat Bantu Seniman

Performing art Ais sempat tegang ketika ada seseorang melemparkan cat berwarna pink ke tulisan ArtJog. Setelah itu pihak keamanan langsung menangkap Ais dan rekan-rekan.

​Perwakilan Kelompok ArtJoke Agam Wispi menyayangkan respons berlebihan dari pihak keamanan. Menurutnya, ekspresi pelemparan cat ke dinding kosong yang dilakukan para seniman merupakan respons yang sah dalam ruang seni kontemporer.

​"Posisi teman-teman tadi sudah melakukan perform dengan layak. Performing itu kan bentuknya apa pun dan merespons apa pun, apalagi di kancah seni kontemporer hari ini," ucapnya.

Oleh karena itu, ​Agam mengecam tindakan represif berupa pemukulan, cacian, hingga penyeretan yang menimpa rekannya. Sebab, menurutnya, aksi yang dilakukan oleh ArtJoke ini adalah bentuk kritik terhadap fenomena artwashing atau praktik pencucian citra melalui seni. Mengingat rekam jejak bisnis dan persoalan lingkungan di luar Jawa yang kerap dikaitkan dengan keluarga tersebut.

"Kami masyarakat yang sadar akan persoalan-persoalan yang belum selesai dan tuntas, ketika riak di media massa dan media sosial digaungkan, tiba-tiba logo dan foto Didit di-take down oleh ArtJog. Itu malah justru mengekspresikan ketakutan dari pihak ArtJog sendiri," jelasnya.

Baca Juga: Pengalaman Pertama Jadi Sutradara Film Dokumenter DJUM, Ahmad Brilian Mahasiswa ISI Jogjakarta Sabet Penghargaan Internasional di

​Sementara itu, Ais yang sempat diamankan membenarkan adanya tindakan kekerasan fisik yang dialaminya saat dibawa oleh petugas keamanan. Ia mengaku resah dengan arah kebijakan ArtJog yang kini dinilai tidak lagi relevan, karena menyandarkan pendanaan pada korporasi-korporasi besar yang problematik seperti Didit Foundation.

"Terjadi beberapa pemukulan (di dalam). Kalau dia (Didit) datang sebagai penikmat karya seni aja enggak masalah. Tapi dia di balik pendanaan. Ketika foto dan logo identitas kompeninya keluar, nah itu yang jadi problematik," lontarnya.

​Menanggapi insiden ini, Direktur Program ArtJog 2026 Gading Paksi langsung menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada korban, setelah sempat berkomunikasi secara tertutup. Pihaknya berjanji akan melakukan investigasi internal menyeluruh terkait dugaan pemukulan oleh tim pengamanan.

​"Saya minta maaf karena hal ini harus terjadi kepada mereka. Kami menekankan kepada seluruh tim bahwa kami membuka seluas-luasnya ruang berekspresi. Merepresi sampai pemukulan itu sama sekali tidak ada dalam standar kami. Saya mohon waktu untuk menginvestigasi kronologi sebenarnya," bebernya.

​Terkait sorotan tajam atas keterlibatan Didit Foundation, Gading tidak menampik bahwa sebagai festival mandiri, ArtJog membutuhkan sokongan dana dari berbagai korporasi untuk operasional pameran, wilayah panggung pertunjukan, hingga ArtJog Kids. Kendati demikian, gelombang protes ini diakui berdampak pada mundurnya sejumlah mitra lokal.

​"Untuk beberapa pendukung kami, ada beberapa yang mundur (akibat isu sponsor ini), dan kami sangat menghormati pilihan mereka. Ini pasti akan menjadi bahan evaluasi dan pembicaraan kami untuk bagaimana menyebarkan proposal ke korporasi ke depan. Kami sangat terbuka untuk kritik," tandasnya. (ayu/laz)

Editor : Herpri Kartun
#artjog 2026 #ArtJoke #Seniman #ArtJog #jogja national museum