JOGJA - Ribuan massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Memanggil menggelar aksi di simpang tiga Gejayan, Depok, Sleman, Sabtu (13/6/2026), dengan membawa sedikitnya 10 tuntutan kepada pemerintah.
Mereka mendesak penghentian program makan bergizi gratis (MBG), menolak Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta meminta evaluasi berbagai kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Dari pantauan Radar Jogja di lapangan, massa yang terdiri dari mahasiswa, buruh, akademisi, seniman, hingga masyarakat umum mulai berdatangan sejak sekitar pukul 14.00.
Meski hujan sempat mengguyur kawasan Gejayan, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat peserta aksi untuk bertahan dan menyampaikan aspirasi mereka.
Sepanjang aksi, puluhan orang secara bergantian naik ke atas mobil komando menyampaikan orasi.
Berbagai isu disuarakan, mulai dari persoalan ekonomi, pendidikan, kesehatan, kebebasan sipil, hak-hak pekerja, hingga kritik terhadap sejumlah program dan kebijakan pemerintah.
Dalam maklumat yang dibacakan massa aksi, Aliansi Rakyat Memanggil menuntut pemerintah menghentikan program MBG yang dinilai rawan korupsi dan minim pengawasan publik, menolak KDMP, mencabut revisi sejumlah undang-undang yang dianggap mengancam demokrasi, mewujudkan pendidikan dan layanan kesehatan gratis, hingga menuntaskan kasus korupsi Stadion Mandala Krida Jogja.
Mereka juga menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok, tarif layanan dasar, perlindungan terhadap pekerja, kriminalisasi warga yang menyuarakan kritik, serta persoalan hak atas tanah dan ruang hidup masyarakat.
Guru Besar Bidang Ilmu Media dan Jurnalisme Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) Prof Masduki, turut hadir dan memberikan dukungan terhadap aksi yang digagas mahasiswa tersebut.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa di tengah cuaca yang kurang bersahabat menunjukkan kepedulian terhadap kondisi bangsa yang perlu mendapat apresiasi.
"Ini murni dari mereka. Hujan-hujan bersedia datang. Sementara yang lain mungkin masih di rumah atau di tempat kopi. Jadi ini harus kita dukung karena mereka pure dari hati," katanya di sela aksi.
Masduki menilai aksi tersebut merupakan bentuk evaluasi terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai belum mampu menjawab persoalan masyarakat.
"Intinya ini adalah evaluasi seluruh kebijakan Prabowo. Yang menyebabkan rupiah turun terus dan juga distrust dari publik," ujarnya.
Ia juga menyoroti sejumlah program pemerintah yang diklaim perlu ditinjau ulang agar kepercayaan publik dapat kembali meningkat. "Prabowo harus melakukan kebijakan yang radikal. Kalau cuma omong-omong terus tidak akan berefek," tandasnya.
Di lokasi yang sama, relawan Humanity Care Elisabeth mengaku tergerak membantu aksi dengan menyediakan logistik dan konsumsi bagi para peserta demonstrasi.
Ia menjelaskan, kelompok relawan tersebut baru melakukan koordinasi beberapa jam sebelum aksi berlangsung. Meski demikian, mereka tetap berupaya memberikan dukungan kepada massa yang turun ke jalan.
"Kami bagikan 100 boks air mineral, 100 boks makanan juga, dan membantu UMKM yang berjualan di sekitar lokasi aksi. Jadi memang fokusnya untuk logistik dan konsumsi supaya teman-teman tetap semangat," jelasnya.
Sebagai warga yang ikut merasakan dampak situasi ekonomi saat ini, Elisabeth menilai berbagai kebijakan pemerintah belum menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
"Kami semua kelas menengah dan sekarang sangat tergencet. Harga kebutuhan naik, biaya hidup naik. Ketika masyarakat, akademisi, dan para ahli memberikan kritik, sering kali tidak didengar," keluhnya.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut pada akhirnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Semua kebijakan yang salah ini sampai ke depan meja makan kita. Beras makin mahal, kos naik, kebutuhan hidup naik. Jadi memang ada kemarahan kolektif yang dirasakan rakyat," sambungnya.
Sementara itu, salah satu perwakilan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Gilang Satria yang turut dalam aksi itu menyebut ini menjadi bentuk kegelisahan generasi muda terhadap arah kebijakan pemerintah yang semakin jauh dari kepentingan rakyat.
Ia menegaskan, mahasiswa tidak hanya hadir untuk menyampaikan kritik, tetapi juga untuk mengingatkan pemerintah agar kembali berpihak kepada masyarakat.
"Kami ingin tunjukkan bahwa mahasiswa masih punya keberpihakan pada rakyat. Ketika banyak kebijakan tidak menjawab kebutuhan masyarakat, maka suara kritik harus terus disampaikan sebagai bagian dari demokrasi," tambahnya.
Hingga sore hari, aksi yang dilakukan berlangsung kondusif dengan pengawalan aparat kepolisian.
Massa terus bertahan di kawasan Gejayan sembari mendengarkan orasi dan pembacaan tuntutan yang disampaikan berbagai elemen masyarakat secara bergantian. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita