JOGJA - Meroketnya harga Pertamax memaksa pengemudi ojek online (ojol) di Jogja menghadapi dilema baru. Menggunakan Pertamax membuat biaya operasional membengkak, sementara beralih ke Pertalite berarti harus menghabiskan waktu berharga untuk mengantre, yang berpotensi mengurangi pendapatan harian mereka.
Salah satu pengemudi ojol yang beroperasi di wilayah Kota Jogja dan Sleman, Febri Roman mengatakan, para ojol dituntut menerapkan strategi khusus di tengah kekalutan harga BBM. Tidak hanya untuk mengejar target harian tapi juga manajemen operasional.
Sebab, tingginya permintaan Pertalite dampak dari kenaikan Pertamax membuat antrean mengular. Sehingga waktu menunggu penumpang atau mencari orderan terpotong.
Baca Juga: 5.000 Orang Serentak Bersihkan 150 Titik, Kerja Bakti Massal dalam Rangka HUT ke-79 Pemkot Jogja
“Biasanya saya isi BBM saat malam hari sebelum pulang. Jadi, esok harinya saat mulai beroperasi tidak perlu lagi mengantre dan bisa lebih fokus mencari orderan,” ujar pria 30 tahun itu kepada Radar Jogja, Jumat (12/6/2026).
Menyiasati kondisi tersebut, pria 30 tahun itu kini memilih melakukan pengisian BBM di luar jam sibuk atau saat akan mengakhiri operasional agar tidak mengganggu antrean orderan. Meski demikian, aktivitas mengantre di luar jam sibuk tetap memakan waktu lama. Berkisar dari 10 hingga 25 menit.
Kendati begitu, warga Kemantren Ngampilan itu kerap menggunakan Pertamax sebagai bahan bakar kendaraan dalam kondisi-kondisi tertentu. Seperti ketika kehabisan bensin saat membonceng penumpang. Sebab, dalam kondisi ini tidak memungkinkan membeli Pertalite karena boros waktu dan harus menunggu.
Baca Juga: Mentan Amran: Kementan Gelontorkan Rp 5 Triliun untuk Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat Papua
Dia khawatir jika harus dipaksakan mengantre Pertalite justru malah membuat penumpang tidak nyaman dan berdampak pada turunnya performa pengemudi.
“Untuk menjaga profesionalisme dan kecepatan layanan, pilihan menggunakan Pertamax yang antreannya cenderung lebih sepi menjadi solusi yang paling realistis. Tapi ya rugi,” tandasnya.
Pengemudi ojol lain, Slamet Riyadi juga mengeluhkan hal yang sama. Walaupun dari segi harga Pertalite tidak berubah. Namun, permintaan masyarakat untuk menggunakan BBM jenis tersebut memang berdampak pada antrean yang semakin mengular.
Baca Juga: Harga Pupuk Nonsubsidi Naik 50 Persen, Petani Holtikultura di Kulon Progo Makin Tercekik
Slamet yang kerap beroperasi di wilayah Wirobrajan ini mengaku beberapa waktu terakhir ini terpaksa menggunakan Pertamax demi menjaga performa kepada pelanggan. Meskipun di sisi lain penggunaan BBM nonsubsidi memang berdampak pada semakin besarnya pengeluaran.
“Pakai Pertalite atau Pertamax sama saja di aplikasi, tarifnya tidak berubah,” ungkap ojol 50 tahunan ini. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita