JOGJA - Pemprov DIY menargetkan kawasan Malioboro bebas kendaraan bermotor mulai November 2026 sebagai bagian dari penerapan kawasan rendah emisi (low emission zone) serta mendukung pelestarian kawasan Sumbu Filosofi.
Nantinya, hanya kendaraan tertentu seperti becak dan Trans Jogja yang diizinkan melintas di kawasan tersebut.
Kepala Dinas Perhubungan DIY Chrestina Erni mengatakan, nantinya hanya kendaraan tertentu yang diperbolehkan melintas di kawasan Malioboro setelah kebijakan tersebut diterapkan. "Jadi kan di sana low emission zone, yang boleh melintas hanya kendaraan darurat, becak kayuh, becak listrik, kemudian Trans Jogja," katanya, Jumat (5/6/2026).
Baca Juga: Segera Tunjuk Plt, Penonaktifan Sementara Lurah Condongcatur Diperkirakan Selesai Dua Minggu
Dia menjelaskan, target terdekat untuk mendukung kawasan tersebut bebas emisi yang tengah disiapkan adalah menghapus keberadaan becak motor (bentor) dari kawasan Malioboro pada akhir November mendatang.
"Akhir November nanti tidak ada bentor di Malioboro. Yang boleh melintas hanya becak kayuh sama becak listrik," ujarnya.
Selain bentor, kendaraan bermotor lain juga tidak akan lagi diperbolehkan melintas di kawasan tersebut. Kebijakan tersebut diakuinya akan berlaku setiap hari setelah penerapan resmi dilakukan. "Kendaraan bermotor juga dilarang," tegasnya.
Pemprov DIY juga berencana meningkatkan penggunaan kendaraan ramah lingkungan untuk mendukung kebijakan tersebut. Salah satunya dengan mendorong penambahan armada becak listrik dan layanan transportasi umum berbasis listrik.
"Trans Jogja juga kita upayakan nanti ada tambahan layanan listriknya supaya layanan juga semakin baik," bebernya.
Rencana tersebut mendapat tanggapan dari masyarakat. Warga Kota Jogja Ruli Pratama menilai, upaya mengurangi emisi dan memperluas ruang bagi pejalan kaki merupakan langkah positif. Namun, dinilai masih memiliki sejumlah kekhawatiran soal dampaknya terhadap mobilitas warga.
Baca Juga: 9 SD di Gunungkidul Bakal Digabung, Ada Sekolah yang Total Siswanya Hanya 25 Anak
"Tujuannya mengurangi emisi saya setuju. Tapi sebagai pengguna jalan saya juga agak menyayangkan kalau nanti benar-benar ditutup untuk kendaraan bermotor," katanya.
Menurutnya, Malioboro selama ini menjadi salah satu jalur yang cukup efektif untuk menuju kawasan selatan Kota Jogja. Apalagi, perubahan arus lalu lintas yang terjadi beberapa waktu terakhir, termasuk akibat penataan dan rekayasa lalu lintas di sejumlah titik kota, membuat akses menuju pusat kota maupun kawasan selatan tidak lagi semudah sebelumnya.
"Dulu Malioboro jalur cepat kalau mau ke arah selatan. Sekarang harus mutar. Kalau nanti motor benar-benar tidak bisa lewat Malioboro, jadi harus menyesuaikan lagi dengan jalur alternatif," ujarnya.
Meski demikian, ia menilai kebijakan tersebut tetap layak dicoba selama pemerintah mampu menyiapkan rekayasa lalu lintas yang matang serta didukung layanan transportasi umum yang memadai.
"Saya 50:50. Malioboro bisa lebih nyaman dan ramah lingkungan, tapi pemerintah juga perlu pastikan mobilitas warga tidak malah jadi lebih sulit," harapnya.
Berbeda dengan Ruli, salah satu wisatawan asal Bandung Dinda Sabila, justru menyambut baik rencana tersebut. Dengan begitu, Malioboro akan menjadi lebih nyaman apabila ruang untuk pejalan kaki diperluas dan aktivitas kendaraan bermotor dikurangi.
"Saya pribadi setuju kalau Malioboro dibuat lebih ramah pejalan kaki. Jadi lebih enak kalau bisa jalan santai tanpa terlalu banyak kendaraan yang lalu-lalang," ungkapnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita